5 BUKU INI MENGGAMBARKAN KEBIASAAN ORANG INDONESIA BANGET

Lima Buku Ini Menggambarkan Kebiasaan Orang Indonesia Banget

Butuh bacaan bagus, lucu dan menghibur plus mengingatkan kamu dengan pengalaman masa muda—berarti sekarang nggak muda lagi ya? Hehehe…dekat dengan keseharian dan pastinya Indonesia banget? D! punya rekomendasi yang wookeh banget nih! Siap-siap ketawa dan bilang, “Oh iya ya…bener banget ini!”

1. Ngubek-ngubek Jakarte by Cai

Isi buku ini Jakarta bangeet. Buat yang udah pernah merasakan tinggal di Jakarta dengan segala keribetannya pasti bakalan tertawa di sela-sela membaca ataupun berujar, “Oh, iya! Ini pengalaman aku banget.” Dan seterusnya dan seterusnya. Buku ini pas banget buat para Jakartans untuk mengingatkan kenapa kita masih ada di kota ini dan buat Pop Patriotics yang berencana berkunjung ke ibukota, ini bisa jadi semacam pegangan deh biar bisa menikmati Jakarta lebiiiiiiiiiiiiiiih lagi.

2. Anak Kos Dodol by Dewi “Dedew” Rieka

Udah pernah difilmkan juga nih! Pokoknya koleksi buku-bukunya Dedew ini benar-benar menceritakan kisah anak kos ala Indonesia banget—terutama buat kamu-kamu pernah ngeksot di Jogja. Bukan karena setting-nya aja yang benar-benar “hidup” tetapi juga keseharian cerita seputar pengalaman anak kos yang bikin kita mengingat (atau mungkin masih) moment-moment ngirit uang, punya gebetan anak kos sebelah, kekompakan dengan teman-teman satu kos pokoknya seru banget deh!

3. Benny and Mice by Benny Rachmadi dan Muhammad “Mice” Misrad
Wah, kalau buku-buku komiknya Benny and Mice ini epic banget! Keseluruhan petualangan kedua tokoh di komik/buku ini; Benny dan Mice benar-benar menggambarkan keseharian orang Indonesia. Menariknya duo penulis ini punya setting cerita yang berbeda untuk setiap seri bukunya. Ada yang membahas kehidupan di Jakarta, Bali, hal-hal sederhana yang biasa dialami oleh orang Indonesia, sampai tipe-tipe orang Indonesia, beda turis dan orang Indonesia asli di tempat wisata dan hal-hal lainnya.
4. Bule Hunter by Elisabeth Oktofani
Mengambil setting di beberapa kota wisata di Indonesia, buku ini mengisahkan tentang perempuan-perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan pria asing—apakah cinta beneran, cinta semalam ataupun cinta karena uang. Menariknya dari buku ini adalah mengangkat tema yang jarang untuk dituliskan oleh penulis perempuan Indonesia dan memang pada realitanya fakta ini benar-benar terjadi.
5. Kastana Taklukkan Jakarta by Soleh Solihun
Ditulis dengan apa adanya, blak-blakan ala Soleh Solihun membuat buku ini menarik untuk dibaca. Kisah perjuangan pemuda asal Bandung yang merantau ke Jakarta. Suka-duka jadi anak rantau—yah walau Bandung dan Jakarta hanya beberapa jam teuteup aja hitungannya anak rantau yak, bagaimana beradaptasi dengan ibukota. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang biasa kita dengar sejak kecil hidup di Indonesia; setamat SMA mau kuliah dimana, setelah kuliah ada pertanyaan susulan kapan lulus? Kapan kerja? Kapan kawin? Dan seterusnya dan seterusnya. Buku ini pas banget untuk kamu-kamu yang sedang mencari arti hidup—Mus Mujiono wannabe *lol*.

Woman’s Voice

Bali Undercover by Malcolm Scott [2015: EO]

Bali Undercover by Malcolm Scott [2015: EO]

When I published “Bule Hunter: Money, Sex and Love”  in September 2014, I received a stream of criticism in the net from many people. I would have understood that they criticized my book after they read it but they have not. They criticized it based on some media coverages. Those are including many Indonesian  women, who are in relationship with Western Men and feel offended with my writing as well as other people are who simply narrow minded.

Some of them said that it was just a bunch of gossip, some of them said that it’s not a journalism work because it’s very subjective yadda yadda yadda (Well honey, it’s hard to find an objective journalism work these days. Media is controlled by companies who are linked to govt). Anyway, there were big wave of nasty comments coming toward me. It was terrifying! 

Frankly, I was shocked reading those comments. I refused to read further for few weeks. But I must say that I am grateful because  those haters actually  inspired me  to write my next book. 

So when I went to  Times Bookstore in Plaza Singapura, I saw this book and purchased one. I read nearly half of the book within few hours over few glasses of Chardonnay. Since I read the title, I already assumed that it would have similar content to my book Bule Hunter. And YES IT IS! 

It talks about Indonesian women, Western men, Indonesian men, western women,money, sex and  relationship. However, it seems nobody attacking the Australian author Malcolm Scott. At least, I didn’t hear about it. 

Is it because the author is a man? Is it because the author is a Westerner? Or is it because he choose a soft title instead of Bule Hunter?! Or is it because it’s written in English and doesn’t get a lot of media exposure in Indonesia (if I understand correctly)? 

Oh well, we are still living in an era and place where women can hardly say their voices loudly and bluntly! 

Cheers,

Oktofani

Thinking: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adl pria pribumi yang haus kuasa, haus harta

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

Cheers, 

Oktofani

Marriage

Many young people want to get marriage to their lover. They feel that their lover is the love of their life. It would be perfect to live together for the rest of their life. But I wonder whether they really understand what marriage is?

Well… I guess we have been indoctrinated with happily ever after Cinderella story without being shown what happen next after she got married to the prince. Who knows that they try killing each other…. ?! No?

That is why I don’t like attend wedding party.

Oktofani: 250415

Gossiping

The reason why people like to talking bad about other people or gossiping because that’s the only way to put themselves in the conversation and other’s people mind.

While normally they would not be in anybody’s mind.They realize that they are nobody, living nobody’s life and they want to be noticed.

So…. anything that ‘nobody’ can say to put themselves in the mind or on the mouth of somebody, that is what they are going to do and continue to do. Right?