Yanti Fatmawati, Sang Pelacur

Perempuan berwajah oriental ini bernama Yanti Fatmawati. Usianya 33 tahun. Ia tinggal di Sunter Bentengan, Jakarta Utara dengan kedua orang tuanya. Yanti adalah keturunan Tionghoa. Ibunya orang Betawi, sedangkan ayahnya seorang Tionghoa. Enggak seperti kebanyakan masyarakat keturunan Tionghoa, Yanti tidak berasal dari keluarga pebisnis kaya. Bahkan, dia enggak pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dua tahun lalu, Yanti pernah bekerja di sebuah perusahaan travel agent ternama di Jakarta. Namun, sekarang, dia lebih memilih untuk menjual tubuhnya kepada laki-laki asing baik orang Barat, India, Arab atau Afrika selama mereka mampu membayar service yang diberikannya.

“Kenapa kamu lebih memilih “jualan”, Say?” saya mulai mengorek Yanti.
“Gue capek, bo, kerja kantoran. Duit enggak ada, dimarah-marahin sama bos lagi. Mending gue ngangkang, gue dapet duit,” jawabnya vulgar meski kami masih berada di antrean taksi.

“Oh, gitu….”

“Gue sebenarnya capek juga jualan enggak jelas gini. Gue pengen dapet satu atau dua bule aja yang mau miara gue dan ngasih gue duit bulanan. Tapi susah bener cari yang kayak gitu.
“Sebenarnya gue udah ada sih. Orang Australia, udah aki-aki, umurnya udah 68 tahun. Udah punya cucu dan tinggal di Mega Kuningan. Tapi dia cuma kasih gue Rp3 juta aja,” lanjutnya sedikit berbisik.
“Wah, lumayan tuh!” tukas saya.
“Kurang, Say, karena gue harus bayar perawatan mami gue yang sakit diabetes. Emang sih gue enggak bayar semuanya, cuma gue harus bantu-bantu karena gue masih numpang sama mereka. Makanya setiap malam gue masih cari-cari. Kadang-kadang gue ke hotel-hotel bintang lima cari mangsa.”
Saya hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Yanti. Cukup menyedihkan. Namun, sebenarnya saya pikir Yanti mampu mendapatkan pekerjaan normal ketimbang jual diri apalagi dia enggak cacat fisik. But perhaps she barely got the brain. So she sees prostitution as the best way of living her life. Who knows?
“Selain itu, kadang-kadang gue juga cari klien lewat internet kayak dating site. Lumayan banget sih, Say, lebih menjanjikan. Gue ketemu sama orang Australia itu juga lewat internet,” lanjut dia menuturkan petualangnya.
“Oh, ya? Emang kalau boleh tahu, kamu bisa dapat berapa, Say, satu malamnya?” tanya saya penasaran.
“Satu orang kadang bayar gue Rp300 ribu atau Rp500 ribu buat short-time. Tergantung orangnya juga sih, Say. Kadang-kadang kalau gue lagi beruntung gue bisa dapet Rp1.5 juta. Kalau lagi buntung, ada juga yang enggak mau bayar.”
“Terus kalau ada yang enggak mau bayar gitu gimana, Say?”
“Ya udah. Gue cabut aja. Gue enggak mau cari masalah, secara gue prostitute. Ketimbang mereka cari gara-gara terus gue dimasukin kantor polisi,” jawabnya ringan.
Saking asyiknya kami ngobrol, Yanti enggak merasa kalau bule berjas hitam di depan kami bolak-balik menolehkan kepalanya kepada kami berdua. Apalagi pembicaraan kami cukup vulgar. Dua puluh menit berlalu, kami masih berada di antrean kedelapan. Waktu terus berjalan. Sekarang sudah pukul 14:35. Kalau saya enggak cepet-cepet pulang, saya takut terjebak macet. Padahal saya belum selesai packing.

“Say, lo ke arah mana?” tanya Yanti.
“Aku mau ke Kuningan, sih.”
“Mau bareng enggak? Gue mau ke Bellagio. Jadi gue nge-drop lo dulu. Kan satu arah.”

Saya diam sejenak. Berpikir panjang untuk menerima tawaran Yanti. Meskipun saya tertarik untuk mendengar cerita Yanti, tetapi saya juga harus berhati-hati dengan siapa saya berteman. Saya enggak bisa sembarangan membawa orang ke rumah, apalagi melihat latar belakang Yanti. Akan tetapi, cerita Yanti terlalu menarik untuk dilewatkan. Saya yakin pasti masih banyak cerita yang dia ingin bagi dengan saya. Enggak tahu kenapa, tapi saya yakin. Saya pun mengiyakan tawarannya.

…. bersambung

Oktofani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s