Ketika Buku ‘Bule Hunter’ Dicap Vulgar dan Dodol

Tadi malam saya tercengang mendapatkan sebuah email dengan link tentang sebuah blog di kompasiana yang berjudul Buku Dodol dan Vulgar: Salah Kaprah atas Bule dan Lelaki Indonesia.  Wow! Jujur saja, itu  membuat saya sangat resah dan geli. “Budhe… budhe ….yang salah kaprah itu siapa?” tanya saya pada diri saya sendiri. Baca bukunya saja belum tetapi sudah sesumbar.

Hal tersebut membuat saya ingin bertanya pada teman-teman sekalian…

1. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang perempuan muda yang mereka bercerita baru saja melakukan hubungan badan org yang mereka sukai unt pertama kalinya?

2. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang kawan yang mendapari dirinya terkena penyakit menular seks seperti hepatitis B, syphilis atau bahkan HIV/AIDS?

3. Apakah anda pernah mendapati seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan rumah tangga atau dalam pacaran?

4. Apakah anda pernah didatangi oleh perempuan-perempuan muda (18-23) yang bercerita betapa ingin mereka mendapatkan jodoh bule karena KEREN titik, tidak ada alasan lainnya?

5. Apakah anda pernah duduk di sebuah taxi dengan pasangan orang Barat alias bule lalu si supir taxi bertanyaWah neng… burungnya pasti besar!“? atau “Wah neng… nikah sama bule pasti cepet kaya ya?

6. Apakah anda pernah duduk dengan seorang pekerja seks komersil yang bekerja untuk menghidupi anaknya karena dia ditolak bekerja formal karena punya penyakit pneumonia?

7. Atau anda pernah mendapati ungkapan, eh kok bule maunya sama yang tampamg babu sih?

Saya sendiri pernah mendapati semuanya itu.

Ketika perempuan-perempuan muda bercerita betapa bahagianya mereka baru saja melakukan hubungan badan dengan orang yang mereka kagumi/cintai, tanpa mau menghakimi atas nama budaya dan norma, saya hanya bilang “Berhati-hatilah! Jangan lupa pakai kondom. Siapa tahu, kamu bukan satu-satunya pasangan! Banyak predator seks di luar sana yang tidak bertanggung jawab dan kemudian membawa penyakit pada diri kamu,”

Lalu ketika seseorang mendapati diri mereka terinfeksi sexual transmitted disease seperti hepatitis B, HIV/AIDS, syphilis atau gonoreha …. tentu saya tidak akan menjauhi mereka, saya akan memberikan ruang dan waktu sebisa saya untuk membantu mereka even it is just a moral support! Saya banyak menemui kasus ini sampai kadang saya hanya berdiam diri dan mendengarkan saja karena yang mereka butuhkan telinga untuk mendengarkan bukan judgment kenapa mereka sampai seperti itu.

Belum lagi, saya sering mendapati cerita perempuan-perempuan muda yang bercerita bahwa pacar/suami mereka (yang notabene bule) sangat abusive baik psychically or emotionally hanya karena mereka adalah tuan-tuan berduit sehingga mereka merasa bisa melakukan kekerasan terhadap pasangan mereka yang notabene orang Indonesia yg dianggapnya bakal mau diabuse hanya karena uang. Sayangnya mereka terlalu takut untuk ke polisi atau bercerita pada keluarga. Yang ada mereka lari pada kawan.

Lalu…. bukan hanya lima atau sepuluh kali saya sering mendapati perempuan-perempuan muda berbagi dengan saya bahwa mereka pengen sekali punya jodoh bule dengan satu alasan KEREN titik. Tidak ada alasan lain. Bagi saya, alasan itu sebenarnya tidak cukup kuat. Bule atau bukan, mereka semua adalah laki-laki dan manusia dengan sifatnya dan latar belakang masing-masing. Bisa dibilang, bule itu cuma ‘chasingnya’ doang!

Nah kalau sudah begitu…. anda mau bilang apa? Apa anda mau melarang? Ya enggak kan….? Setiap orang punya mimpi dan cita-cita masing-masing. Ada yang mimpinya tentang jodoh mereka seperti apa, pekerjaan mereka seperti apa dan lain sebagainya. Kalau pun ada yang bilang jodoh di tangan Tuhan ya, ya monggo. Saya enggak bisa menggunakan religious approach untuk menanggapi curhatan kawan-kawan tersebut.

Yang paling parah adalah saya sering mendapatkan pertanyaan tentang hal-hal ‘nyleneh’ ketika saya jalan dengan kawan pria bule saya. Mereka bertanya apakah dia burungnya besar, pasti bule kaya. Waduh….saya sudah jengah dengan hal-hal ini.

Terus, apakah seseorang yang pergi ke club malam, cafe atau pekerja seks komersil adalah bukan perempuan baik-baik? Apa artinya perempuan yang ingin melepaskan lelahnya atau give themselves an award by going to cafe or bar or night club after long week of working kemudian berarti mereka bukan perempuan baik-baik? Baik-baik menurut apa dan siapa? Apa standardnya? Bisa tolong dijelaskan?

Lalu ketika orang-orang mengatakan bahwa perempuan yang jalan dengan bule adalah perempuan bertampang babu, tentu tidak semuanya; hanya karena kulit mereka hitam dan krempeng tidak seperti perempuan yang ada di billboard iklan shampoo di sepanjang jalan atau perempuan ideal di dalam televisi Indonesia dengan standar putih, kulit putih dan rambut hitam panjang. Bagi saya, saya ingin bertanya apakah sih artinya cantik? Apa sih artinya tampang babu. Kecantikan/keindahan itu relatif, tergantung pada orang yang melihat bukan.

Sayangnya masyarakat kita suka dengan mudah menghakimi dan tak jarang yang dihakimi pun hanya diam saja. Saya jengah! Saya gerah!  Saya ingin berbagi pada orang lain bahwa there’s another part of life yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang mungkin tidak kita pahami tapi kita terlalu mudah menghakimi. Bahkan antar sesama orang Indonesia sendiri.

Jujur saja ini merupakan suatu kegelisahan saya, kenapa saya menulis buku yang cukup kontroversial dan kemudian diputarbalikkan sehingga keren. Tujuan saya bukan bisnis tapi mengajak orang yang merefleksikan kembali.

Saat The Magdalene mengulas tentang Bule Hunter: Money, Sex and Love dengan judul artikel What “Bule Hunter” Wants, saya merasa pesan saya tersampaikan. Lalu pada hari Minggu, 7 September melalui Indonesia Now, Metro TV kembali mengulas buku Bule Hunter: Money, Sex and Love, lagi-lagi saya senang bahwa pesan saya tersampaikan. Dan tanggal 8 September lalu, The Jakarta Post kembali memuat artikel tentang saya sebagai penulis buku Bule:Hunter, Money, Sex and Love dan lagi-lagi pesan saya tersampaikan.

Namun pada tanggal 9 September lalu, salah satu media online ternama di Indonesia menuliskan sembilan berita yang misleading membuat saya, dibully dan dicaci seolah saya pendosa besar. Untung saja, Beritasatu kembali menyampaikan pesan dibalik buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Begitu juga dengan artikel di vemale.com; Wolipop dan juga suara.com.

Ya begitulah tak kenal maka tak sayang, sudah anti duluan. Lebih parahnya lagi referensi berita yang misleading dijadikan patokan untuk menulis blog menyerang saya. Oh well… I’m only human who wants to make a small contribution to the Indonesian women especially to them who are in relationship with westerner but often being UNFAIRLY JUDGED by the society! If you thought that I would be perfect, I apologise for being human! I am far from the definition of perfection!

-Oktofani-

Advertisements

7 thoughts on “Ketika Buku ‘Bule Hunter’ Dicap Vulgar dan Dodol

  1. Hi Fani, memang rata-rata orang kita suka berprasangka dulu. Saya suka buku anda. Kebetulan suami saya western man. Saya mengalami orang sering mencap saya negatif hanya karna bersuamikan bule. Sukses buat bukunya. Regards. Ellen.

  2. Mbak Fani, saya blm sempat cari bukunya. Pertanyaan saya terkaif artikel di merdeka.com, did you or did you not say those things about bule rejects?
    Menurut saya tidak sepantasnya melabeli sesama manusia sbg ‘reject’ hanya karena ybs tidak sukses secara finansial & kehidupan pribadinya di negara asalnya. Entah pewawancara dan penulis artikel yg ngaco, atau memang pemilihan kata-kata yang mba gunakan, yang jelas karena itulah muncul kritik dan komentar2 pedas thdp buku mbak.
    Thanks.

    • Dear Mbak Carol, terima kasih atas komentar anda. Pernyataan saya sore itu adalah “Banyak orang barat (bule) -BUKAN semua- yang menggunakan dating site untuk mencari jodoh atau perempuan melalui dating site yang semata-mata mencari perempuan Indonesia hanya untuk urusan ranjang dengan berbagai kondisi seperti tidak boleh minta uang atau melabeli perempuan Indonesia/Asia matre, dll (coba anda masuk ke beberapa crosscultural dating site, banyak pernyataan bule-bule yang sangat menghina perempuan Indonesia dan Asia untuk menetapkan kondisi kencan/menjalin hubungan). Pertanyaan saya adalah mengapa mereka ada di dating site segala untuk mencari pasangan untuk tidur atau apakah mereka direject di negaranya karena tidak menarik secara fisik atau personality, tidak memiliki kemampuan finansial di negaranya sampai-sampai mereka harus menggunakan dating site lalu memberi berbagai kondisi pada perempuan Indonesia/Asia yang mau mereka kencani sedangkan perempuan Indonesia/Asia banyak yg harus ‘manut saja?’ Karena tidak jarang dari mereka (TIDAK SEMUA) yang ternyata hanya predator seks yang perlu diwaspadai apalagi banyak orang Indonesia yang mengelu-elukan hal-hal yang berbau kebarat-baratan hanya karena KEREN. Jangan sampai ada korban-korban perempuan Indonesia berjatuhan. Jadi konteks pembicaraan kami adalah tentang bahaya penggunaan dating site dalam cross cultural relationship khususnya orang barat/bule dengan perempuan Indonesia. Tentu saja itu hanya opini saya sebagai penulis. Terima kasih.

      • Mbak Fani, saya tahu yang mba maksud. Loh, bukannya bagus menetapkan kondisi tidak pakai uang. Kalau pakai uang untuk membayar si perempuan, jadinya kan prostitusi??
        Berdasarkan pembicaraan dengan expat2 yang tinggal/mampir di Indonesia, mereka join social networking/dating websites karena itu salah satu cara untuk bertemu orang/perempuan setempat (Indonesia). Adapun alasan mereka yang belum apa2 sudah menyinggung soal uang/materi karena pengalaman “buruk” dgn perempuan2 Asia (khususnya Philippine). Mba juga pasti tau lah.. yang belum apa2 si cewe tiba2 mengaku ada anggota keluarga aakit, tdk bisa bayar tagihan listrik, tlp, uang sekolah anak, dll dll. Kalau kenalan di luar (clubs/bars) taunya ketemunya sama profesional juga alias prostitute yang minta bayaran.
        Alasan lain yg mereka berikan ya sebenarnya sama dengan orang kita.. siapa yang tau jodoh mereka siapa/dari mana. Sama seperti kita yg kadang terjebak dgn rutinitas sehari2 dan susah bertemu orang-orang baru. Jadi not necessarily karena mereka tdk memenuhi kriteria sukses secara finansial atau ganteng secara umum. Kalaupun mereka demikian, bukan berarti mereka bisa didegradasikan sebagai manusia “reject”. Sah-sah saja mereka mencoba jalan online dating dgn menetapkan syarat “tidak mau cewe matre”, karena kalau melibatkan uang jadinya tidak genuine.
        Memang ada predator seks (saya lebih suka istilah penjahat kelamin saja, karena baik laki2 dan perempuannya sama2 cukup umur dan melakukan seks konsensual – walaupun si perempuan berharap ke depannya ada sesuatu (jadi pacar yang membiayai, dll)), tapi itu tidak berarti perlu menempatkan perempuan2 Indo sebagai “korban”. Yang harus diubah adalah mindset dan mengedukasi masyarakat terutama perempuan, agar menjadi lebih independenden dan tdk secara materi kepada laki2.
        Oiya, saya takutnya salah ngomong karena blm baca bukunya. Bisa didapat di mana ya yg gampang? Gramedia? Atau pesan online aja?
        Thanks.

    • Saya setuju dengan mbak Carol! Pilihan kata2 seseorang yang mampu menimbulkan kemarahan orang lain. Tulisan anda dalam buku Bule Hunter mungkin bagus.. anda ingin mengangkat derajat wanita Indonesia.. applause!! Tetapi “opini” anda dalam suatu wawancara dan pilihan kata “reject” kurang pas! ditambah dengan judul hasil wawancara anda dgn media tersebut! Apa tidak mungkin para lelaki tersebut juga akan tersinggung akan label yang anda capkan terhadap mereka?
      Well, Don’t judge the book by its cover.. persis seperti yg teman anda ucapkan. It applies to your book and those men on dating site, also those women who chooses to date those men!

  3. Jadi pengen baca tapi ragu2 apakah tulisannya ilmiah dan obyektif berdasarkan penelitian yang valid.
    Karena tulisan seperti ini (termasuk pemilihan katanya) bisa membuat orang berpikir ini adalah pengalaman penulis yang marah dan pernah jadi “korban bule”.

    Semoga bukunya tidak over-generalize. Takutnya tulisan yang subyektif dan over-generalize tidak mengedukasi pembaca, bersifat propaganda dan membuat pembaca terutama yang kurang observant
    atau malas berpikir, terpengaruh dengan tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s