Interview with ‘Bule Hunter’ Writer

Advertisements

2 thoughts on “Interview with ‘Bule Hunter’ Writer

  1. well said until your last sentence ; “no matter how hard you try you will never be a westerner” As an Australian i grew up interacting with people from different cultures, i could talk to someone in Australia from an asian background and still think of them as Australian and hence western, the divide is not about the colour of someones skin its about the way their mind works. Being western and being white are not the same thing. I don’t think it’s impossible to become a Westerner, just as it shouldn’t be impossible for me to become an Indonesian, in the end its this very attitude of division that causes all the negativity anyway.

  2. Saya sudah membaca buku Bule Hunter. Rasanya seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa semua itu memang benar adanya di sekitar kita terlebih bagi saya yang bermukim di Bali yang notabena menjadi salah satu lokasi dimana fenomena ini banyak terjadi. Saya bukan pneggemar bule, belum pernah naksir apalagi jatuh cinta dengan bule. Saya masih cinta produk dalam negeri walaupun sahabat saya mulai menasehati saya untuk membuka peluang bagi para bule, tetapi seperti halnya kisah para bule hunter yang memang memilih bule, maka saya (masih) lebih cowk lokal. Buku ini menyajikan keadaan yang memang terjadi segara gamblang tanpa basa-basi. Kenyataan yang selama ini ada di depan mata saya, tetapi saya seakan atau memang memilih untuk menutup mata serta telinga (egois memang). Bagian pembuka buku ini yang bercerita tentang Gold Digger, kontan membuat saya merasa tidak terima. Tidak terima karena tidak semua bule hunter seperti itu, setidaknya sahabat saya yang menikah dengan bule, tidak seperti itu, walaupun diluar sana juga banyak yang seperti itu, dengan berbagai alasan, bahkan saya (pernah) berjumpa salah satu dari yang bisa dikatagorikan sebagai Gold Digger. Digeneralisasi seperti itu, membuat saya, yang bukan ule hunter pun ikut terusik. Saya yang berkerja, punya penghasilan sendiri, tidak terima di generalisasi seperti itu hanya karena kelakuan beberapa orang.
    Keseluruhan yang disajikan dalam buku ini membuka mata dan telinga saya. Memberikan saya informasi bahwa bule hunter itu ada, tidak selamanya mereka buruk, ada pula yang tulus, dan tidak selamanya memiliki pasangan bule itu mendatangkan kebahagiaan walalupun mungkin secara materi lebih dari pada orang lain. Tidak selamanya juga bule-bule itu baik. Tidak selamanya mereka kaya (punya pekerjaan baik dinegaranya), karena banyak juga bule kere yang karena perbedaan nilai mata uang, maka mereka besikap pentantang-petenteng di dan seenaknya memperlakukan wanita Indonesia, tetapi semua kembali kepada pribadi wanita-wanita itu sendiri.

    Great book 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s