Bule Hunter: Sebuah Perenungan Bagaimana Melihat Diri Sendiri

Bule Hunter: Sebuah Perenungan Bagaimana Melihat Diri Sendiri

oleh Teguh Imam (Suara Kita)

Bule Hunter adalah catatan jurnalistik Elisabeth Oktofani atau biasa disapa Fani, mengenai perempuan Indonesia yang berelasi dengan cowok bule. Fani membagi buku ini ke dalam 3 bagian; Gold Digger, All About Sex, True Love. Jadi Fani melihat ada 3 motivasi  mengapa perempuan Indonesia lebih suka berelasi dengan cowok bule. Ada yang ingin kaya dengan cepat, ini yang Fani sebut dengan istilah Gold Digger, lalu ada yang beralasan karena bule dahsyat dalam seks, dan ada pula yang mencari cinta sejati atau true love karena perempuan ini merasa lelaki Indonesia sudah menjadi korban Iklan, bahwasannya cantik itu adalah rambut lurus, kulit putih dan hidung mancung.

Entah siapa yang mempopulerkan istilah Bule Hunter, tapi yang jelas istilah ini merujuk pada perempuan yang gemar ‘memburu’ lelaki bule dengan berbagai motivasi.  Istilah ini lebih memiliki makna negatif, perempuan  Bule Hunter lebih diidentikkan dengan pekerja seks. Fani menceritakan kisah perempuan Sri Dewi Utari (bukan nama sebenarnya) yang sering membawa cowok cowok bule ke sebuah kafe yang berlokasi di daerah Prawirotaman, Yogyakarta. Kebiasaan Sri membawa cowok bule ke kafe membuat orang-orang di sekeliling daerah tersebut mencap Sri sebagai pekerja seks dengan pangsa pasar kaum londho. Padahal cowok yang dibawa Sri adalah klien tempat dia bekerja di sebuah galeri seni. Bosnya Sri menugaskan dia untuk menjadi tour guide  lelaki-lelaki londho tersebut. Meskipin akhirnya Sri menikah dengan lelaki Perancis, namun pengalaman dilabeli pekerja seks tentu saja pengalaman yang tidak mengenakkan.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Cetta. Dia nge-date dengan cowok bule pertama kali sejak dia berumur 17 tahun. Dan ketika Ceta dan cowok Bulenya jalan ke daerah prawirotaman, dengan gampangnya orang berkomentar,”Kecil-kecil nge-lonthe bareng bule, pinter.. bule duitnya  banyak, burungnya gede”. Cetta tidak mau membuang energinya untuk marah pada orang tersebut. Baginya omongan seperti itu adalah omongan orang yang tidak berpendidikan.

Salah satu poin penting buku ini adalah bagaimana buku Bule Hunter ini memberikan  persepsi lain kepada  orang Indonesia terhadap orang bule dan peradaban baratnya. Buku ini ingin mengungkapkan bahwa gak semua bule itu kaya dan dermawan, malah ada yang kere dan pelit. Enggak semua bule itu penisnya besar dan jago di ranjang, ada juga yang penisnya kecil dan permainan ranjangnnya gak enak. Enggak semua bule itu mencari cinta sejati, malah ada yang cuma mau dapet seks dari  perempuan Indonesia doang.

Setelah peluncuran buku ini, pro-kontra di media on-line pun mencuat. Ternyata banyak orang Indonesia yang merasa tersindir dan merasa boroknya kelihatan. Fani pun di bully di media sosial.

Buku ini benar benar membuat saya merenung, bagaimana orang Indonesia melihat dirinya sendiri dan melihat orang Bule. Pernahkah kamu berpikir bahwasannya produk-produk dari barat entah itu sepatu, baju, makanan  lebih bagus lebih enak dibandingkan dengan produk Indonesia? Bahwasannya cantik itu putih? Dalam proses menuju dewasa saya sering mendengar bahwa sesuatu dari  Barat itu lebih bagus daripada Indonesia. Ocehan itu sering keluar dari mulut guru-guru, tetua saya. Saya pun bertanya adakah yang bisa saya banggakan sebagi orang Indonesia selain sumber daya alamnya yang makin menipis? Kebudayaannya yang jadi rebutan dengan negara tetangga? Selain masyakatnya banyak dan makin tidak ramah?

Tahun 2013, saya ikut kelas musim panas bersama dengan anak-anak muda USA di Yogyakarta. Selama 8 minggu kami bekerja sama dan saling belajar mengenai kebudayaan masing-masing. Setiap kami berkunjung ke suatu acara, orang-orang Indonesia senang berfoto dengan teman-teman USA saya itu. Mereka pun kebingungan, “Kenapa orang Indonesia senang sekali minat foto bareng bersama kami?”, tanya mereka. saya pun kebingungan dan  menjawab sekenanya, “Karena kalian unik”. Namun teman Indonesia saya menyela dan berkata tidak, “It’s inferiority Syndrome”. Saya bersikukuh tidak demikian. Dia pun  kukuh dengan pendapatnya, “Admit it”, kata dia.  Dan saya pun diam.

Sulit mengakui antusiasme orang Indonesia terhadap orang Bule  adalah bentuk dari inferioritas. Namun hal itu mungkin saja benar. Pada akhirnya kita akan menjadi apa yang kita ucapkan dan kita percayai bukan? Jika kita berpikir bahwa orang Indonesia gak bisa apa-apa, orang Indonesia itu kalah pinter dari bangsa lain. Kemudian terus-menerus berucap bahwa kita, orang Indonesia, tidak akan mampu bersaing. Maka secara perlahan-lahan kita akan menjadi apa yang kita ucapkan.

Sungguh buku Bule Hunter sukses membuat saya bercermin ke dalam diri saya dan menghormati akar tradisi saya.

–@–

Tulisan ini diambil dari catatan pribadi mas Teguh dan dibagikan dengan seiijin penulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s