5 BUKU INI MENGGAMBARKAN KEBIASAAN ORANG INDONESIA BANGET

Lima Buku Ini Menggambarkan Kebiasaan Orang Indonesia Banget

Butuh bacaan bagus, lucu dan menghibur plus mengingatkan kamu dengan pengalaman masa muda—berarti sekarang nggak muda lagi ya? Hehehe…dekat dengan keseharian dan pastinya Indonesia banget? D! punya rekomendasi yang wookeh banget nih! Siap-siap ketawa dan bilang, “Oh iya ya…bener banget ini!”

1. Ngubek-ngubek Jakarte by Cai

Isi buku ini Jakarta bangeet. Buat yang udah pernah merasakan tinggal di Jakarta dengan segala keribetannya pasti bakalan tertawa di sela-sela membaca ataupun berujar, “Oh, iya! Ini pengalaman aku banget.” Dan seterusnya dan seterusnya. Buku ini pas banget buat para Jakartans untuk mengingatkan kenapa kita masih ada di kota ini dan buat Pop Patriotics yang berencana berkunjung ke ibukota, ini bisa jadi semacam pegangan deh biar bisa menikmati Jakarta lebiiiiiiiiiiiiiiih lagi.

2. Anak Kos Dodol by Dewi “Dedew” Rieka

Udah pernah difilmkan juga nih! Pokoknya koleksi buku-bukunya Dedew ini benar-benar menceritakan kisah anak kos ala Indonesia banget—terutama buat kamu-kamu pernah ngeksot di Jogja. Bukan karena setting-nya aja yang benar-benar “hidup” tetapi juga keseharian cerita seputar pengalaman anak kos yang bikin kita mengingat (atau mungkin masih) moment-moment ngirit uang, punya gebetan anak kos sebelah, kekompakan dengan teman-teman satu kos pokoknya seru banget deh!

3. Benny and Mice by Benny Rachmadi dan Muhammad “Mice” Misrad
Wah, kalau buku-buku komiknya Benny and Mice ini epic banget! Keseluruhan petualangan kedua tokoh di komik/buku ini; Benny dan Mice benar-benar menggambarkan keseharian orang Indonesia. Menariknya duo penulis ini punya setting cerita yang berbeda untuk setiap seri bukunya. Ada yang membahas kehidupan di Jakarta, Bali, hal-hal sederhana yang biasa dialami oleh orang Indonesia, sampai tipe-tipe orang Indonesia, beda turis dan orang Indonesia asli di tempat wisata dan hal-hal lainnya.
4. Bule Hunter by Elisabeth Oktofani
Mengambil setting di beberapa kota wisata di Indonesia, buku ini mengisahkan tentang perempuan-perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan pria asing—apakah cinta beneran, cinta semalam ataupun cinta karena uang. Menariknya dari buku ini adalah mengangkat tema yang jarang untuk dituliskan oleh penulis perempuan Indonesia dan memang pada realitanya fakta ini benar-benar terjadi.
5. Kastana Taklukkan Jakarta by Soleh Solihun
Ditulis dengan apa adanya, blak-blakan ala Soleh Solihun membuat buku ini menarik untuk dibaca. Kisah perjuangan pemuda asal Bandung yang merantau ke Jakarta. Suka-duka jadi anak rantau—yah walau Bandung dan Jakarta hanya beberapa jam teuteup aja hitungannya anak rantau yak, bagaimana beradaptasi dengan ibukota. Pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang biasa kita dengar sejak kecil hidup di Indonesia; setamat SMA mau kuliah dimana, setelah kuliah ada pertanyaan susulan kapan lulus? Kapan kerja? Kapan kawin? Dan seterusnya dan seterusnya. Buku ini pas banget untuk kamu-kamu yang sedang mencari arti hidup—Mus Mujiono wannabe *lol*.
Advertisements

Thinking: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adl pria pribumi yang haus kuasa, haus harta

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

Cheers, 

Oktofani

BULE HUNTER : Curhatnya Beberapa Perempuan Pasangan Bule

BULE HUNTER : Curhatnya Beberapa Perempuan Pasangan Bule

oleh: Risa Amrikasari

“Anyway, menjalani cross-cultural relationship is actually not very easy. People tend to judge us. Some people might think the Asian women are gold diggers, some might think that we are sluts. Namun, ada nggak sih yang sungguh-sungguh melihat bahwa kami benar-benar jatuh cinta tanpa embel-embel itu? Well, some people are just too blind to see the love between the two sometimes.” –

Bule Hunter, hal. 227

*****

Beberapa bulan lalu, saya diberitahu Mahel bahwa ia sedang membantu temannya yang akan menerbitkan buku. Dia minta tolong saya untuk mendapatkan testimonial dari Julia Perez (Jupe) karena katanya bukunya berkisah tentang pengalaman beberapa perempuan Indonesia yang memiliki atau pernah memiliki hubungan dengan orang berkewarganegaraan berbeda. Dia memberi link untuk saya baca sebagai referensi. Judul bukunya membuat saya tertawa seketika, “Bule Hunter”.

Ada-ada saja, pikir saya. Tapi setiap penulis bebas membuat judul yang menurutnya “eye catchy” dan saya paham itu. Saya pun mengontak Jupe beberapa hari kemudian. Jupe bukannya menulis testimonial, malah mengirimkan voice notes ke saya mengenai komentarnya soal hubungan dengan orang berbeda warga negara. Ah, daripada repot, saya kirim saja voice notes itu ke Mahel.

Setelah itu saya tidak mendengar lagi kabar soal buku itu, sampai pada suatu hari saya melihat suatu ulasan di sebuah media online yang isinya jauh dari bayangan saya. Buruk sekali. Saya belum pernah membaca isi buku itu, ulasan singkat yang diberikan kepada saya tidak “sejorok” apa yang ditulis oleh media online itu. Saya pun mulai melihat banyak caci maki terhadap penulisnya bertebaran di media sosial.

Beberapa waktu lalu, buku ini akhirnya tiba juga di saya. Saya memang dijanjikan akan dikirimi buku ini oleh Mahel, dan saya baru menerimanya setelah hingar-bingar soal buku ini hilang. Pesta sudah usai, Risa! Telat gak sih loe ngomongin soal buku ini?

Nggak! Setelah saya membaca buku ini, saya justru merasa harus menuliskan tanggapan saya.

Sebetulnya istilah “bule” ini rasis, seperti juga orang menyebut “indon”, “cina”, “malay”, “arab”, “negro”,  dan lain-lain. Tapi banyak orang berkulit putih itu malah tertawa dan suka bercanda ketika mendengar kata “bule”. So, rasis atau tidak, mungkin tergantung bagaimana menanggapinya kalau di Indonesia.

Istilah Bule Hunter” terdengar sensitive bagi beberapa perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing. Kalaupun sengaja menargetkan harus punya pasangan “bule” karena lebih menyukai mereka, mungkin agak emosi juga mendengar istilah ini. Stigma-stigma yang ditempelkan kebanyakan orang kepada perempuan yang memiliki pasangan berbeda kewarganegaraan telah membuat orang berpikiran kejam kepada perempuan yang berpasangan dengan orang berkulit putih. Seolah-olah semua buruk.

Padahal cinta bisa datang dari mana saja dan pada siapa saja. Mengenai cinta yang tulus inipun disajikan dalam buku “Bule Hunter” ini tanpa pretensi apapun. Ini tak dikupas oleh beberapa media yang mengangkat pemberitaannya, hingga buku “Bule Hunter” terkesan seperti buku picisan yang sengaja menjual sensasi demi popularitas. Tidak. Buku ini justru menggambarkan kisah-kisah yang dibagi oleh para perempuan yang kebetulan menjalin hubungan dengan pria berkewarganegaraan asing, dengan pengalaman yang bervariasi. Mulai dari kegembiraan, keisengan, kesedihan, sampai soal uang, seks, dan cinta, menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan oleh nara-sumber.

Penyajian yang apa adanya sebenarnya justru menimbulkan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang berpikiran terbuka. Mari kita lihat beberapa dialog yang menarik dari buku ini.

Ini bagian menarik di mana ternyata ada “bule” yang punya pandangan seperti layaknya orang Indonesia.

“Bisa-bisanya dia ngomong kalau perempuan Jawa harus menjaga keperawanannya untuk suaminya, sementara dia berhubungan badan denganku! Bajingan kamu, Chris! Asu!”

“Aku pikir bule bakal punya pikiran yang lebih liberal dan terbuka. Tapi kok malah koyok Asu ngene! Pancen londho Asu! Londho bajingan!” kata saya kesal dengan air mata terurai di pipi. – Bule Hunter, hal. 129 

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak perempuan Indonesia yang menjadi “bule hunter” dengan cara mencari pasangan melalui dating site yang banyak bertebaran di internet. Kenapa? Karena itu salah satu cara termudah bagi para perempuan yang ingin sekali berkenalan dengan cara mudah dengan laki-laki idaman mereka. Jadi, jangan marah hanya karena buku ini. Itu adalah kenyataan yang ada di sekitar kita. Jangan tutup mata dan tak peduli. Jangan mengangkat diri merasa harkat diri lebih tinggi daripada para perempuan lain yang sengaja ingin mencari pasangan “bule”. Karena setiap orang punya selera masing-masing.

Mari kita lihat bagian ini :

Berawal dari iseng-iseng mencari pacar di dunia maya, enggak disangka keisengan Jovita berakhir dengan janji pernikahan di depan altar dalam sebuah pernikahan sederhana di Salatiga, Jawa Tengah akhir tahun 2009 lalu. John dan Jovita saling mengenal pada pertengahan tahun 2007 lewat dating site. Jovita langsung jatuh hati pada John ketika John mengiriminya sebuah e-mail. 

“I always think that Indonesian women are the most caring, sensual, romantic and beautiful women on the planet. I am looking for a smart, sweet, slim, sexy Indonesian girl from 18-32. Please don’t respond if you are overweight, want money and conservative. I am not interested.”

Kalau kita membaca ini, apa kira-kira yang kita pikirkan sebagai orang yang tak paham kenapa mereka suka “bule”? Bolehkah kita judgemental? Bukankah itu cara yang directuntuk mencegah hubungan yang tidak diinginkan?

Lalu pada bagian ini kita bisa melihat bagaimana stigma perempuan punya pasangan “bule” itu selalu mendapat ledekan atau tepatnya ledekan mengandung cemooh.

“Belanjaan loe banyak bener? Buat lo sendiri ya?” tiba-tiba seorang perempuan berwajah oriental yang berdiri di depan saya mengajak bicara. 

“Ya. Kenapa memangnya?” jawab saya santai tapi sedikit heran.

“Nggak apa-apa sih! Cuman nanya aja. Pacar lo bule ya?” lanjutnya. 

Mendengarkan pertanyaan kedua dari perempuan yang sama sekali enggak saya kenal ini, saya hanya mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati apa maksudnya. I prefer to ignore her. But even when I try to ignore this woman, my heart still wonders about who she is and what she wants from me. – Bule Hunter, hal. 59

“Bule Hunter” adalah “buku curhat” beberapa perempuan Indonesia yang memiliki pasangan berkewarganegaraan asing atau lebih ngetop disebut “bule”. Tidak ada yang menurut saya harus membuat marah perempuan lain yang kebetulan memiliki pengalaman sama kalau hanya membaca curhat orang lain. Bukannya perempuan senang membaca curhat perempuan lain? Hehehe…

Soal hati, semua orang sama saja. Mau “bule” atau “lokal”, soal cinta semua juga punya. Tapi bagaimana mengekspresikannya dengan lebih terbuka, mungkin itu yang menjadi daya tarik lebih. Daya tarik lebih? Well, belum tentu! Bagi saya pecinta laki-laki “lokal” alias Indonesia asli, keterbukaan laki-laki “bule” justru tidak terlalu menarik, ketika saya bisa menemukan laki-laki Indonesia berpandangan maju, terbuka, menghargai perempuan, dan mampu mencintai intelektual saya lebih daripada fisik saya!

Buat Fani sang penulis, nice book you have! Salut atas keberanian dan kegigihannya meski mendapat banyak cemooh.  Setiap penulis akan menghadapi tantangan ketika menyampaikan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Tetapi tantangan itu harus membuat kita lebih maju!

Buat para perempuan yang marah atas buku ini, terutama karena membaca judul dan ulasan media online yang penulis ulasannya saya yakin TIDAK MEMBACA seluruh buku ini, saya tidak sependapat jika buku ini dianggap meremehkan harkat perempuan. Justru dengan adanya buku ini, kita bisa mendapat informasi apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan mereka, dan kenyataan serta pengalaman pahit mereka bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Soal buku, satu saja tips saya, BACA DULU, PAHAMI ISINYA, baru KOMENTAR. Jangan biarkan hasutan negatif menghalangimu mendapatkan informasi dan memalingkan muka dari kenyataan. Ini hanya kisah dari sebagian kecil perempuan. Kecil sekali. Kecil banget! Tapi cukup membuat orang untuk bisa belajar banyak untuk tidak terperosok pada kesalahan yang sama (jika itu sebuah kesalahan) dan paham artinya mencintai karena cinta milik siapa saja, bukan hanya mereka yang memiliki warna kulit sama!

==@==

Catatan: Tulisan ini dipublikasikan di http://www.bulehunter.com dengan seijin penulis

Bule Hunter: Sebuah Perenungan Bagaimana Melihat Diri Sendiri

Bule Hunter: Sebuah Perenungan Bagaimana Melihat Diri Sendiri

oleh Teguh Imam (Suara Kita)

Bule Hunter adalah catatan jurnalistik Elisabeth Oktofani atau biasa disapa Fani, mengenai perempuan Indonesia yang berelasi dengan cowok bule. Fani membagi buku ini ke dalam 3 bagian; Gold Digger, All About Sex, True Love. Jadi Fani melihat ada 3 motivasi  mengapa perempuan Indonesia lebih suka berelasi dengan cowok bule. Ada yang ingin kaya dengan cepat, ini yang Fani sebut dengan istilah Gold Digger, lalu ada yang beralasan karena bule dahsyat dalam seks, dan ada pula yang mencari cinta sejati atau true love karena perempuan ini merasa lelaki Indonesia sudah menjadi korban Iklan, bahwasannya cantik itu adalah rambut lurus, kulit putih dan hidung mancung.

Entah siapa yang mempopulerkan istilah Bule Hunter, tapi yang jelas istilah ini merujuk pada perempuan yang gemar ‘memburu’ lelaki bule dengan berbagai motivasi.  Istilah ini lebih memiliki makna negatif, perempuan  Bule Hunter lebih diidentikkan dengan pekerja seks. Fani menceritakan kisah perempuan Sri Dewi Utari (bukan nama sebenarnya) yang sering membawa cowok cowok bule ke sebuah kafe yang berlokasi di daerah Prawirotaman, Yogyakarta. Kebiasaan Sri membawa cowok bule ke kafe membuat orang-orang di sekeliling daerah tersebut mencap Sri sebagai pekerja seks dengan pangsa pasar kaum londho. Padahal cowok yang dibawa Sri adalah klien tempat dia bekerja di sebuah galeri seni. Bosnya Sri menugaskan dia untuk menjadi tour guide  lelaki-lelaki londho tersebut. Meskipin akhirnya Sri menikah dengan lelaki Perancis, namun pengalaman dilabeli pekerja seks tentu saja pengalaman yang tidak mengenakkan.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Cetta. Dia nge-date dengan cowok bule pertama kali sejak dia berumur 17 tahun. Dan ketika Ceta dan cowok Bulenya jalan ke daerah prawirotaman, dengan gampangnya orang berkomentar,”Kecil-kecil nge-lonthe bareng bule, pinter.. bule duitnya  banyak, burungnya gede”. Cetta tidak mau membuang energinya untuk marah pada orang tersebut. Baginya omongan seperti itu adalah omongan orang yang tidak berpendidikan.

Salah satu poin penting buku ini adalah bagaimana buku Bule Hunter ini memberikan  persepsi lain kepada  orang Indonesia terhadap orang bule dan peradaban baratnya. Buku ini ingin mengungkapkan bahwa gak semua bule itu kaya dan dermawan, malah ada yang kere dan pelit. Enggak semua bule itu penisnya besar dan jago di ranjang, ada juga yang penisnya kecil dan permainan ranjangnnya gak enak. Enggak semua bule itu mencari cinta sejati, malah ada yang cuma mau dapet seks dari  perempuan Indonesia doang.

Setelah peluncuran buku ini, pro-kontra di media on-line pun mencuat. Ternyata banyak orang Indonesia yang merasa tersindir dan merasa boroknya kelihatan. Fani pun di bully di media sosial.

Buku ini benar benar membuat saya merenung, bagaimana orang Indonesia melihat dirinya sendiri dan melihat orang Bule. Pernahkah kamu berpikir bahwasannya produk-produk dari barat entah itu sepatu, baju, makanan  lebih bagus lebih enak dibandingkan dengan produk Indonesia? Bahwasannya cantik itu putih? Dalam proses menuju dewasa saya sering mendengar bahwa sesuatu dari  Barat itu lebih bagus daripada Indonesia. Ocehan itu sering keluar dari mulut guru-guru, tetua saya. Saya pun bertanya adakah yang bisa saya banggakan sebagi orang Indonesia selain sumber daya alamnya yang makin menipis? Kebudayaannya yang jadi rebutan dengan negara tetangga? Selain masyakatnya banyak dan makin tidak ramah?

Tahun 2013, saya ikut kelas musim panas bersama dengan anak-anak muda USA di Yogyakarta. Selama 8 minggu kami bekerja sama dan saling belajar mengenai kebudayaan masing-masing. Setiap kami berkunjung ke suatu acara, orang-orang Indonesia senang berfoto dengan teman-teman USA saya itu. Mereka pun kebingungan, “Kenapa orang Indonesia senang sekali minat foto bareng bersama kami?”, tanya mereka. saya pun kebingungan dan  menjawab sekenanya, “Karena kalian unik”. Namun teman Indonesia saya menyela dan berkata tidak, “It’s inferiority Syndrome”. Saya bersikukuh tidak demikian. Dia pun  kukuh dengan pendapatnya, “Admit it”, kata dia.  Dan saya pun diam.

Sulit mengakui antusiasme orang Indonesia terhadap orang Bule  adalah bentuk dari inferioritas. Namun hal itu mungkin saja benar. Pada akhirnya kita akan menjadi apa yang kita ucapkan dan kita percayai bukan? Jika kita berpikir bahwa orang Indonesia gak bisa apa-apa, orang Indonesia itu kalah pinter dari bangsa lain. Kemudian terus-menerus berucap bahwa kita, orang Indonesia, tidak akan mampu bersaing. Maka secara perlahan-lahan kita akan menjadi apa yang kita ucapkan.

Sungguh buku Bule Hunter sukses membuat saya bercermin ke dalam diri saya dan menghormati akar tradisi saya.

–@–

Tulisan ini diambil dari catatan pribadi mas Teguh dan dibagikan dengan seiijin penulis

Q&A On the Hunt for Bules

Q&A On the Hunt for Bules by Sara Schonhardt  of The Wall Street Journal [2014]

Q&A On the Hunt for Bules by Sara Schonhardt of The Wall Street Journal [2014]

Elisabeth Oktofani has rustled plenty of feathers in Indonesia since she released her first novel “The Bule Hunter” last month. The book explores why Indonesian women enter relationships with foreigners, or bules. And it’s as unconventional as Ms. Oktofani, a petite 27-year-old with close cropped hair and a flare for saying exactly what she’s thinking. A former journalist cum business consultant, Ms. Oktafani interviewed 15 women while writing her book – though only 11 made it in. Some of her sources are married to unsavory characters, some admit that they’re with their partners for money. All have had their names changed for publication.

Ms. Oktofani has brushed off criticism that the book is overtly sexual or has a moral message. She says she is just trying to raise awareness. And much of the response has been positive. She says she often gets emails from women interested in the book but who want to buy it covertly. Many ask that she mail it to them in plain brown packaging; some even come to her apartment to pick it up. The Wall Street Journal talked to Ms. Oktofani about the book and how she has responded to the feedback. Edited excerpts.

WSJ: You said you wrote the book because you found from your experience dating Western men that you were being judged and it made you uncomfortable. But there is more to this book than that. 
Ms. Oktofani: The book is divided into three parts: money, sex and love. [With] money, I’m trying to show that those Indonesian women who date foreigners are most of the time being judged for being after money. And then people think they must be sleeping together, so [they think] she’s an easy girl. Meanwhile, the other side of those two things is that those two people fell in love and just want to be together.

WSJ: How did you find your sources?
Ms. Oktofani: Some are people around me. Some I purposely looked for at nightclubs, to really understand what they’re looking for. Some I also found on the Internet, through bloggers and friends.

WSJ: Your husband is a Canadian. How did you meet him?
Ms. Oktofani: I met him in Bali in a beach bar. [But] I had the idea for this book for a long time, even before I met my husband. The majority of books are written by Western men when it comes to cross-cultural relationships or Westerners and Asian women. So I wanted to write it from a woman’s perspective, the way I see it.

WSJ: Did any of the women’s responses surprise you?
Ms. Oktofani: No, because everyone has a motivation, even if they’re openly saying I want to be with this Westerner because I want to improve my life financially. For me it’s not really surprising. Sometimes it’s not just Western men, but young Indonesian women married to older wealthy Indonesian men.

WSJ: Why did you choose the title?
Ms. Oktofani: The first time I heard the term bule hunter it made me think. I was sure people would be interested in reading about it. I was prepared for the controversy.

WSJ: You also talk about sex.
Ms. Oktofani: It’s necessary to talk about it. Many young girls are talking about (sex) but they’re not asking, ‘Have you gotten yourself tested?’ Are you using a condom? It’s important for me to say this because I found many people have sex, but they don’t care about safe sex and it has to be stopped.

WSJ: There’s been a lot of criticism of the book online. How have you responded?
Ms. Oktofani: At the beginning I didn’t really care. Instead, all those criticisms just encouraged me to write a second book.

WSJ: So what’s the next book about?
Ms. Oktofani: It’s more about the problems that happen in cross-cultural relationships, especially when it comes to religion.

==@==

Q&A On the Hunt for Bules is published by The Wall Street Journal on Oct 6, 2014.

Norwegian Men and Import Brides

Last week the documentary focused on Norwegian men and ‘import brides’. It is commonly known amongst Norwegians that Norwegian men import brides because Norwegian women don’t consider them ‘a catch’. So Norwegian men look elsewhere. When it comes to Norwegians marrying someone abroad certain trends have developed over the years. Currently most Norwegian women who marry from abroad marry from Sweden, Denmark and the UK.

Most Norwegian men who marry from abroad marry women firstly from Thailand, secondly from Russia and thirdly from the Philippines. The import brides have clear reasons for their marriage choice: Russian women marry Norwegian men because of the ‘Norwegianess’ – meaning that Norwegian men are more domesticated than Russian men therefore Russian women have less domestic responsibility and more ‘freedom’. South-east Asian woman marry Norwegian men because they want to up-grade their lifestyle and also use it as a means to support their family in Thailand.  Read the rest here