Hartoyo

Kemarin (10/9/14), saya diminta untuk memoderatori peluncuran buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” karya Elisabeth Oktofani dengan nara sumber  Myra Diarsi, aktivis perempuan dan juga dihadiri oleh ebbrapa peserta yang juga melakukan pernikahan campur antar bangsa di Reading Room, Kemang Jakarta Selatan.

Buku ini jika dilihat dari judul dan komentar-komentar dari Facebook atau berita di media banyak dapat kritik dari publik, terutama dari orang-orang bule itu sendiri maupun beberpa perempuan yang kebetulan menikah dengan bule.

Buku ini mengungkapkan kegelisahan2 atau “kemarahan” penulis atas pola ketidakadilan yang berkaitan dengan persoalan: 1. Relasi antara perempuan dan laki-laki dlam segala hal, 2. Relasi antara negara yg dianggap maju/beradab (barat), dalam hal ini laki-laki bule dengan negara2 timur/dunia ketiga/asia dlam hal ini perempuan Indonesia.

Walau penulis kurang membongkar atau menguliti secara detail pola-pola ketimpangan itu (katanya akan ada buku selanjutnya membongkar lebih dalam), tetapi penulis berhasil, minimal membuat saya memahami bahwa ini ada persoalan ketimpangan gender dalam perkawinan antar bangsa yg semakin rumit.

Sepertinya buku ini kalau diulas menggunakan buku Orientalis karya Edward Said dan buku The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karya Samuel P. Huntington akan dapat inti persoalannya, tentunya menggunakan pisau analisis gender. – Hartoyo, General Secretary of Our Voice Indonesia

Catatan: tulisan ini diambil dari Facebook mas Hartoyo dengan ijin beliau

Advertisements

Amahl S. Azwar (Mahel)

“Saya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengedit manuskrip awal Bule Hunter. Fani dan saya kebetulan sudah cukup lama saling mengenal waktu sama-sama menjadi wartawan di Jakarta. Jadi, jauh sebelum ia meminta saya untuk membantunya dengan naskah ini, saya sudah mendengar ide dan konsep bukunya dan langsung jatuh hati.

“Seru! Itulah kesan yang saya dapatkan selama proses pengeditan naskah ini. Fani bukan tipe penulis yang keras kepala untuk menerima kritik atau saran. Dia akan terbuka untuk mendengarkan masukan apa pun selama konteksnya untuk membangun.

“Dari judulnya saja (Bule Hunter) saya sudah tertarik. Buku ini secara blak-blakan membuka semua hal yang selama ini menjadi stigma terhadap perempuan yang menjalin hubungan asmara dengan pria Barat.

“Saya sendiri pertama kali mengenal konsep ‘bule hunter’ pada saat Anggun C. Sasmi pertama kali meniti karier di Prancis dulu. Yah, waktu itu ‘bule hunter’ bukan istilah yang dipakai, memang. Akan tetapi, beberapa anggota keluarga saya mengeluarkan komentar sinis yang kira-kira senada dengan apa yang diutarakan Fani di buku perdananya ini. Salah satunya adalah: ‘ya terang aja Anggun itu laku di Eropa, orang-orang bule kan sukanya yang kulitnya hitam dan jelek.’

“Jadi, membaca buku ini, untuk pertama kalinya saya melihat ada ‘pembelaan’ dari perempuan-perempuan yang bernasib serupa. Selamat, Fan, buat bukunya. You rock!” Amahl S. Azwar, Bandung based author.

Follow @mcmahel on Twitter.

Wisnu Adihartono

“Membaca judul bukunya saja, saya sudah terangsang ingin membacanya sampai tuntas. Buku ini seakan terbebas dari rumitnya teori-teori sosial, dan dikemas dalam bagian-bagian cerita yang sangat mengalir bebas namun terkendali. Masalah cross-cultural relationships seakan dibawa oleh penulisnya untuk melihat titik persinggungan antara perempuan Indonesia dan bule.  Perempuan Indonesia tidak selamanya whore dimata bule, dan tidak selamanya bule dapat di cap sebagai bajingan, sehingga terjadi simbiosis mutualisme dalam isu siapa yang didominasi dan siapa yang mendominasi”. -Wisnu Adihartono, Kandidat PhD sosiologi EHESS – Marseille, Prancis-

Julia Perez

“Gue suka sama bule bukan karena barang mereka gede. Gue suka sama bule karena nyali mereka lebih gede. Gue suka sama laki-laki yang punya karakter. And, I think, for Indonesian people, we need character right now. Kita terlalu ‘ramah’ untuk menjadi seorang laki-laki. Butuh GEDORAN. Sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.” Julia Perez, penyanyi dan artis.

Jessica Huwae

Bule Hunter, judul provokatif yang akan membuat siapa saja mengernyitkan kening, menebak-nebak isi buku ini.

Alasan dan latar belakang dari banyaknya perempuan Indonesia yang rajin “berburu” pasangan ekspatriat rupanya menjadi inspirasi bagi Elisabeth Oktofani untuk mengangkatnya ke dalam debut karyanya ini.  Dengan berbekal pengalaman sebagai jurnalis, Oktofani mengangkat kisah jatuh-bangun para perempuan tersebut–dengan motivasi mereka yang beragam–untuk mendapatkan pasangan bule idaman.

Tidak selalu manis memang, ada yang merasa direndahkan, merasa dimanfaatkan, merasa terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan–walau tidak sedikit juga dari perempuan pemburu yang akhirnya memiliki akhir cerita yang menyenangkan alias happy ending.”

Dengan riset dan observasi yang mendalam, Cetta berhasil meramu kumpulan cerita yang eye opening, tidak berjarak, membangkitkan simpati serta menahan kita untuk tidak segera menghakimi karena  pada akhirnya, terlepas dari apapun warna kulit, kebangsaan dan tebal kantong seseorang, yang ia ingini pada dasarnya sungguhlah sederhana: to love and be loved in return.” – Jessica Huwae, Penulis/Founder Dailysylvia.Com

==@==

Jessica Huwae adalah  penulis dan founder DailySylvia.com. Salah satu karya ciamik dari Mbak Jessica ini  adalah “Galila” yang juga sudah beredar di toko-toko buku terdekat. Sila follow @jessicahuwae di Twitter buat yang ingin kenal lebih lanjut, yah. Thanks banget ya, Mbak. Love you so much!