Barat ‘Keren’, Indonesia ‘Kuno’?

Saat pertama kali saya berkencan dengan bule, saya selalu mengelu- elukan budaya Barat. Saya selalu menganggap bahwa budaya Indonesia itu kolot, begitu juga dengan orang Indonesia. Enggak keren sama sekali.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa enggak semua tentang ‘Barat’ itu keren, enggak semua budaya Indonesia itu kolot. Saya justru rindu dengan kearifan budaya Jawa dan kekayaan budaya Indonesia yang membuat saya merasa lebih menjadi manusia berbudaya.

Sekarang, saya hanya bisa tersenyum melihat bule hunter yang terlalu mengagung-agungkan pria- pria bule. Apalagi bagi newbie yang belum mengenal atau memahami betul siapa mereka, kebiasaan serta bagaimana budaya mereka lebih dalam.

Bagaimana pun kita, sebagai orang Indonesia, mencoba untuk bersikap seperti orang Barat, kita enggak akan pernah menjadi bagian dari mereka. Begitu pula dengan mereka. Mau bagaimana pun mereka, sebagai orang Barat, mencoba bersikap seperti orang Indonesia, mereka enggak akan pernah menjadi bagian dari orang Indonesia.

Saya sama sekali enggak membenci bule, tetapi saya juga enggak mau mengagung-agungkan mereka. Saya merasa bahwa enggak ada satu pun yang membuat satu ras lebih unggul daripada ras lain. In the end of the day, we are all human, we are all equal. Tak ada yang lebih baik atau buruk hanya karena latar belakang ras mereka.

-Oktofani-

Advertisements

BH’s Phuck Buddy Rules

Do you have fuck buddy? Miss Bule Hunter punya beberapa tips nih enggak sakit hati dan stay healthy!

1. GUNAKAN KONDOM! Safe sex! It is very important. It’s not about avoiding getting pregnant but preventing getting sexual transmitted dissase (STD). Enggak mau dong kita kena penyakit STD karena gaya hidup kita? Sebagai perempuan, jangan malu ke apotek untuk beli kondom karena belum tentu partner kita punya. So bring condoms everywhere you go!

2. JANGAN menjalin komunikasi yang intens, karena itu bisa membuat orang jatuh cinta.

3. JANGAN bertemu terlalu sering, dua minggu sekali cukup. Karena sama halnya dengan komunikasi cukup intens, ini bisa membuat orang jatuh cinta.

4. You MUST make it clear to your sex partner about what you want and your status, whether you are single or in relationship. Menurut saya, cara ini adalah cara yang tepat untuk menghindari tumbuhnya suatu perasaan antara kedua belah pihak.

5. RESPECT EACH OTHER business and personality. Maksud saya, saat memilih untuk punya fuck buddy, si laki-laki enggak boleh menganggap si perempuan sebagai pelacur dan si perempuan enggak boleh menganggap si laki-laki sebagai mainannya saja, because there is a fair exchange between the man and woman. Don’t you think so?

6. JANGAN terlalu romantis saat di kamar. Jangan terlalu lama berbasa-basi. No kissing, no hugging or long chit chat before or after have sex. Just bang. When you’ve done, shower then leave. Just play smart! Isn’t that what you need?

-Oktofani-

Kontribusi Istri Bule dalam Rumah Tangga

Saya pun tiba-tiba teringat Henry yang pernah mengatakan pada saya bahwa kawan-kawannya dapat membeli rumah dan hidup berkecukupan karena istri mereka bekerja dan memberi kontribusi cukup signifikan pada rumah tangga.

Ya iyalah! Apakah saya harus heran? Semua orang juga tahu, sistem gaji bagi orang kulit putih sangat berbeda dengan gaji orang kulit cokelat atau hitam. Orang kulit putih cenderung mendapatkan gaji lima kali lipat daripada orang lokal ketika mereka bekerja di negara berkembang. Lihat saja berita di Kompas beberapa waktu lalu tentang kesenjangan gaji antara guru asing dan guru lokal di sekolah bertaraf internasional di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Guru asing menerima upah antara Rp50 sampai Rp100 juta per bulan sedangkan guru Indonesia hanya menerima upah Rp 2 juta sampai Rp15 juta per bulan.

Ya, tentu saja, akhirnya saya enggak bisa memberi kontribusi yang cukup signifikan terhadap keuangan rumah tangga kami. Saya sebagai orang Indonesia dengan pendidikan universitas swasta di Yogyakarta hanya dihargai murah.

Ah, lucu sekali. Lucu sekali, kata saya dalam hati. Bisa dibilang, saya ini sudah pasrah dengan gaji murah karena sistemnya memang sudah seperti itu, tetapi saya masih harus makan. Eh, masih saja enggak dihargai, yang ada malah dicaci maki suami sendiri.

-Oktofani-

Casual Sex Relationship… Don’t Forget LATEX!

Anyway, satu yang harus diketahui dan dipahami betul oleh orang-orang yang menjalin casual sex relationship ini adalah ‘aturan main’. Jangan sampai kita kebablasan dan menghancurkan diri kita sendiri.

Mimpi buruk yang paling mengerikan dalam casual sex relationship dengan banyak partner sebenarnya bukanlah kehamilan, melainkan penyakit menular seksual seperti hepatitis B, hepatitis C, herpes, syphilis, gonorrhea atau HIV/AIDS.

Penting kiranya kita menggunakan kondom serta me- lakukan tes kesehatan (HIV/AIDS dan STD) secara rutin dan teratur. Mungkin kita hanya memiliki satu orang sex partner saja, tapi bagaimana dengan dia? Apakah sudah pasti dia bermain safe di luar sana? Belum tentu!

Oleh karena itu, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Apalagi kebanyakan penyakit ini enggak bisa dilihat dengan mata telanjang.

-Oktofani-

Bule = Harta?

Saya sering mendengar seloroh orang yang sering menganggap semua bule kaya seperti Mang Cepi misalnya, seorang penjual roti bakar di Prawirotaman, Yogykarta, atau tukang becak di Malioboro.

Mbak… Mas Ben ini baik lho! Kasih aja deh nomornya. Wong’e apikan kok. Apalagi Mas Ben ini langganan saya lho. Siapa tahu dia ini jodone Mbak. Lumayan kan kalau dapet bule bisa cepet sugih.” Mang Cepi

Weh… cilik-cilik nglonte karo londho! Pinter! Londho duite akeh, manuke guedi” kata tukang becak sambil cekikian

Awalnya saya sama sekali enggak menyangka bahwa masyarakat akan berpandangan buruk tentang perempuan Indonesia yang jalan dengan laki-laki bule. Tapi itu semua hanya celoteh orang-orang yang tidak berpendidikan atau orang-orang yang tidak mengenal dunia barat. Oleh karena itu  saya memilih untuk mengabaikannya saja.

-Oktofani-

Yakin Nikah Sama Bule Enak?

“Mereka bilang enak ya nikah sama bule, bisa jalan-jalan, belanja-belanja dan duitnya banyak. Tapi apakah semuanya itu memberikan kebahagian? Enggak! Buktinya saya enggak bahagia. Belum lagi dengan cap sebagai bule hunter.” Imelda Luluah 

Kemewahan belum tentu memberikan kebahagiaan. Cross-cultural relationship kerap dipandang menguntungkan perempuan Indonesia sehingga mereka bisa hidup nyaman secara material.  Namun, bagaimana dengan kehidupan batiniah mereka?

-oktofani-

Yanti Fatmawati, Sang Pelacur

Perempuan berwajah oriental ini bernama Yanti Fatmawati. Usianya 33 tahun. Ia tinggal di Sunter Bentengan, Jakarta Utara dengan kedua orang tuanya. Yanti adalah keturunan Tionghoa. Ibunya orang Betawi, sedangkan ayahnya seorang Tionghoa. Enggak seperti kebanyakan masyarakat keturunan Tionghoa, Yanti tidak berasal dari keluarga pebisnis kaya. Bahkan, dia enggak pernah menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Dua tahun lalu, Yanti pernah bekerja di sebuah perusahaan travel agent ternama di Jakarta. Namun, sekarang, dia lebih memilih untuk menjual tubuhnya kepada laki-laki asing baik orang Barat, India, Arab atau Afrika selama mereka mampu membayar service yang diberikannya.

“Kenapa kamu lebih memilih “jualan”, Say?” saya mulai mengorek Yanti.
“Gue capek, bo, kerja kantoran. Duit enggak ada, dimarah-marahin sama bos lagi. Mending gue ngangkang, gue dapet duit,” jawabnya vulgar meski kami masih berada di antrean taksi.

“Oh, gitu….”

“Gue sebenarnya capek juga jualan enggak jelas gini. Gue pengen dapet satu atau dua bule aja yang mau miara gue dan ngasih gue duit bulanan. Tapi susah bener cari yang kayak gitu.
“Sebenarnya gue udah ada sih. Orang Australia, udah aki-aki, umurnya udah 68 tahun. Udah punya cucu dan tinggal di Mega Kuningan. Tapi dia cuma kasih gue Rp3 juta aja,” lanjutnya sedikit berbisik.
“Wah, lumayan tuh!” tukas saya.
“Kurang, Say, karena gue harus bayar perawatan mami gue yang sakit diabetes. Emang sih gue enggak bayar semuanya, cuma gue harus bantu-bantu karena gue masih numpang sama mereka. Makanya setiap malam gue masih cari-cari. Kadang-kadang gue ke hotel-hotel bintang lima cari mangsa.”
Saya hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita Yanti. Cukup menyedihkan. Namun, sebenarnya saya pikir Yanti mampu mendapatkan pekerjaan normal ketimbang jual diri apalagi dia enggak cacat fisik. But perhaps she barely got the brain. So she sees prostitution as the best way of living her life. Who knows?
“Selain itu, kadang-kadang gue juga cari klien lewat internet kayak dating site. Lumayan banget sih, Say, lebih menjanjikan. Gue ketemu sama orang Australia itu juga lewat internet,” lanjut dia menuturkan petualangnya.
“Oh, ya? Emang kalau boleh tahu, kamu bisa dapat berapa, Say, satu malamnya?” tanya saya penasaran.
“Satu orang kadang bayar gue Rp300 ribu atau Rp500 ribu buat short-time. Tergantung orangnya juga sih, Say. Kadang-kadang kalau gue lagi beruntung gue bisa dapet Rp1.5 juta. Kalau lagi buntung, ada juga yang enggak mau bayar.”
“Terus kalau ada yang enggak mau bayar gitu gimana, Say?”
“Ya udah. Gue cabut aja. Gue enggak mau cari masalah, secara gue prostitute. Ketimbang mereka cari gara-gara terus gue dimasukin kantor polisi,” jawabnya ringan.
Saking asyiknya kami ngobrol, Yanti enggak merasa kalau bule berjas hitam di depan kami bolak-balik menolehkan kepalanya kepada kami berdua. Apalagi pembicaraan kami cukup vulgar. Dua puluh menit berlalu, kami masih berada di antrean kedelapan. Waktu terus berjalan. Sekarang sudah pukul 14:35. Kalau saya enggak cepet-cepet pulang, saya takut terjebak macet. Padahal saya belum selesai packing.

“Say, lo ke arah mana?” tanya Yanti.
“Aku mau ke Kuningan, sih.”
“Mau bareng enggak? Gue mau ke Bellagio. Jadi gue nge-drop lo dulu. Kan satu arah.”

Saya diam sejenak. Berpikir panjang untuk menerima tawaran Yanti. Meskipun saya tertarik untuk mendengar cerita Yanti, tetapi saya juga harus berhati-hati dengan siapa saya berteman. Saya enggak bisa sembarangan membawa orang ke rumah, apalagi melihat latar belakang Yanti. Akan tetapi, cerita Yanti terlalu menarik untuk dilewatkan. Saya yakin pasti masih banyak cerita yang dia ingin bagi dengan saya. Enggak tahu kenapa, tapi saya yakin. Saya pun mengiyakan tawarannya.

…. bersambung

Oktofani