Barat ‘Keren’, Indonesia ‘Kuno’?

Saat pertama kali saya berkencan dengan bule, saya selalu mengelu- elukan budaya Barat. Saya selalu menganggap bahwa budaya Indonesia itu kolot, begitu juga dengan orang Indonesia. Enggak keren sama sekali.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa enggak semua tentang ‘Barat’ itu keren, enggak semua budaya Indonesia itu kolot. Saya justru rindu dengan kearifan budaya Jawa dan kekayaan budaya Indonesia yang membuat saya merasa lebih menjadi manusia berbudaya.

Sekarang, saya hanya bisa tersenyum melihat bule hunter yang terlalu mengagung-agungkan pria- pria bule. Apalagi bagi newbie yang belum mengenal atau memahami betul siapa mereka, kebiasaan serta bagaimana budaya mereka lebih dalam.

Bagaimana pun kita, sebagai orang Indonesia, mencoba untuk bersikap seperti orang Barat, kita enggak akan pernah menjadi bagian dari mereka. Begitu pula dengan mereka. Mau bagaimana pun mereka, sebagai orang Barat, mencoba bersikap seperti orang Indonesia, mereka enggak akan pernah menjadi bagian dari orang Indonesia.

Saya sama sekali enggak membenci bule, tetapi saya juga enggak mau mengagung-agungkan mereka. Saya merasa bahwa enggak ada satu pun yang membuat satu ras lebih unggul daripada ras lain. In the end of the day, we are all human, we are all equal. Tak ada yang lebih baik atau buruk hanya karena latar belakang ras mereka.

-Oktofani-

Advertisements

Yakin Nikah Sama Bule Enak?

“Mereka bilang enak ya nikah sama bule, bisa jalan-jalan, belanja-belanja dan duitnya banyak. Tapi apakah semuanya itu memberikan kebahagian? Enggak! Buktinya saya enggak bahagia. Belum lagi dengan cap sebagai bule hunter.” Imelda Luluah 

Kemewahan belum tentu memberikan kebahagiaan. Cross-cultural relationship kerap dipandang menguntungkan perempuan Indonesia sehingga mereka bisa hidup nyaman secara material.  Namun, bagaimana dengan kehidupan batiniah mereka?

-oktofani-

Bukan Untung Malah Buntung

Bicara masalah pernikahan sebagai kedok untuk kaya instan, beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan Jovita Zahira di sebuah restoran Jepang di jalan Seminyak, Bali. Kami duduk di teras luar sambil menikmati cerahnya siang hari ini di tengah musim penghujan di Pulau Seribu Pura.

Namanya Jovita Zahira, usianya 24 tahun. Empat tahun yang lalu, dia menikah dengan John Owen, warga negara Australia yang berusia 66 tahun. Setelah 3 tahun menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Steven Owen. Kini Steven berusia 8 bulan.

Berawal dari iseng-iseng mencari pacar di dunia maya, enggak disangka keisengan Jovita berakhir dengan mengucapkan janji pernikahan di depan altar dalam sebuah pernikahan sederhana di Salatiga, Jawa Tengah akhir tahun 2009 lalu.

John dan Jovita saling mengenal pada pertengahan tahun 2007 lewat dating site. John mengaku pada Jovita bahwa dia bekerja sebagai seorang tukang ledeng profesional. Saat itu, Jovita masih berusia 18 tahun. Dia langsung jatuh hati pada John ketika John mengirimnya sebuah e-mail yang menyatakan bahwa dia tertarik pada Jovita.

Mulanya Jovita kurang tertarik pada John karena perbedaan usia yang terlalu jauh. Dari saling berkirim e-mail, hubungan mereka berlanjut di Yahoo Messenger lalu Skype.  Hampir setiap hari mereka chatting. Seiring dengan perkenalan mereka, John menawarkan suatu dunia baru baginya.

Natal 2007, John mengunjungi Jovita di Salatiga dan membawanya untuk berlibur ke Bali dan Malaysia. Lalu pada Valentine’s Day 2008, John mengundang Jovita untuk mengunjunginya di Australia selama dua minggu lamanya. Dalam satu tahun, John mengunjungi Jovita sebanyak tiga kali sementara Jovita mengunjungi John di Australia sebanyak dua kali.

Meskipun harus pacaran jarak jauh, hubungan mereka terjalin dengan harmonis. John merasa telah menemukan sesosok pendamping hidup yang ia impikan selama ini. Muda, cantik, seksi dan bisa melayani laki-laki di rumah dengan baik.

Selain itu, Jovita enggak pernah neko-neko dengan menuntut John untuk membelikannya barang-barang mahal yang enggak berguna. Sesekali saja John memberi Jovita hadiah yang dapat dia gunakan dalam menjalin komunikasi mereka selama pacaran jarak jauh seperti laptop, modem dan smartphone.

Kadang jika John sedang mendapatkan rejeki berlebih, dia mengirimi Jovita uang sebanyak 500 AUD. Suatu ketika John mengatakan pada Jovita bahwa dia berniat untuk pindah ke Indonesia dan ingin membeli properti di kawasan Sanur, Bali sehingga dia bisa dekat dengan Jovita. John memang bukan orang kaya tetapi tabungannya cukup untuk hidup nyaman di Indonesia.

…. bersambung

-Oktofani-

A Huge Market for Asian Girls in Europe

Suatu pagi saya berbicara dengan mantan saya orang Jerman, Martin melalui WhatsApp. Well, he was not my real boyfriend but he  was my cyber ex-boyfriend back in 2005. Anyway, Martin menawari sebuah bisnis yang membuat saya sedikit tercengang ketika membaca pesannya di balik layar iPhone putih di genggaman tangan saya, it’s a human trafficking business.

Well… let me tell you something. You might find it interesting for your source of income. There is a huge market in Europe for Asian girls,” kata Martin

Saya termenung membaca kalimat Martin di balik layar iPhone putih di genggaman tangan saya. Saya bingung, antara paham dan tidak paham dengan apa yang baru saja dia katakan melalui pesan terakhirnya tersebut.

“Apakah kamu menikah dengan Henry karena uang? Kamu dulu lady escort, ya?” kata Martin sebelum saya sempat membalas kalimat sebelumnya.

Saya semakin bingung dibuatnya. Saya lalu tertawa terbahak-bahak. Jadi mantan pacar saya selama ini  berpikir bahwa saya cewek bayaran? Luar biasa! Sekali bajingan tetap saja dia bajingan. Enggak jauh berbeda dengan mereka yang bermental tempe! Dia selalu ber-negative thinking tentang saya. Jadi, Martin berpikir bahwa saya menikah dengan Henry karena uang dan pertemuan kami terjadi dalam sebuah transaksi prostitusi. Begitu? Lagipula kalau uang adalah motivasi saya untuk menikah, tentu saja saya enggak akan menikah dengan Henry. Punya apa dia? Pikir saya. Saya belum sempat membalas pesan Martin untuk kesekian kalinya.

“Cetta… are you there?”

“Ya! Well… let me tell you something that you did not know, my brother. Saya bertemu dengan Henry setelah saya putus dengan kamu. I was on my search to mend my broken heart. He promised me something, he kept his promises, he loves me and overall he is a good guy. He just does not know how to express his feeling to me. And keep in mind that I was never, not even once a prostitute! I know my value!” tutur saya panjang lebar melalui WhatsApp.

“Okay… I am sorry to think that way. So how do you manage your lavish lifestyle by getting a lot of Louboutin heels, Gucci handbag and other expensive shit?” tanyanya penasaran.

Saya hanya tersenyum membaca pesannya tersebut, meremehkan saya sekali dia, pikir saya tanpa membalas pesannya pagi itu.

-Oktofani-

Katanya Cowok Bule Lebih Pintar dan Open-Minded

Bicara soal cinta, banyak kawan saya yang mengatakan bahwa salah satu alasan mereka memilih bule ketimbang laki-laki Indonesia karena mbak bule hunter merasa bahwa mas bule cenderung open-minded, pandai dan berwawasan luas. Namun, pertanyaan saya adalah apakah yang dimaksud dengan open-minded tersebut? Apa yang membuat mas bule lebih pandai ketimbang pria-pria dari ras lain?

Well… ngomong-ngomong masalah open-minded, apa sih yang sebenernya diharapkan oleh mbak bule hunter tipe ini? Jawabannya sederhana saja! Mbak bule hunter tipe ini ingin mengekspresikan diri tanpa dibatasi dengan norma sosial, aturan agama atau adat istiadat yang berlaku di tengah masyarakat Indonesia.

Tipe mbak bule hunter ini biasanya adalah tipe perempuan Indonesia modern yang mengenyam bangku pendidikan yang cukup berkualitas dan memiliki akses terhadap informasi yang luas.

Sebagaimana kita semua tahu bahwa banyaknya suku bangsa yang tersebar di Indonesia mengakibatkan negara kita kaya akan budaya. Di mana meskipun di tengah deras arus modernisasi dan globalisasi yang masuk ke Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai budaya bangsa yang dimiliki termasuk norma sosial dan aturan agama.

Perempuan Indonesia yang merokok, minum alkohol atau kerap pulang malam kerap dicap sebagai ‘perempuan nakal’. Atau perempuan yang menggunakan baju seksi adalah ‘perempuan murahan’. Atau perempuan yang gonta-ganti pacar adalah ‘perempuan gampangan’. Dan sebagainya… dan sebagainya…

Banyak sekali norma sosial yang udah enggak lagi ideal dengan perkembangan zaman sehingga membuat banyak perempuan enggak bisa mengekspresikan diri mereka. Sehingga, banyak perempuan Indonesia modern yang akhirnya memilih laki-laki bule karena mereka enggak terlalu terikat oleh norma-norma sosial yang berlaku. Meskipun harus saya akui bahwa sebenernya enggak semua laki-laki Indonesia akan berpikir negatif terhadap perempuan Indonesia modern tersebut.

Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah semua bule open-minded? Atau bule open-minded seperti apa yang ingin mbak bule hunter temui? Jawabannya sederhana, mas bule yang dapat memberikan respect and honesty.

Oh iya…. selain open-minded, mbak bule hunter tipe ini pun memilih laki-laki bule karena mereka menganggap laki-laki bule pandai dan berpengetahuan luas. Sehingga selain mbak bule hunter ini bisa mengekspresikan diri sepenuhnya sebagai perempuan, mereka pun bisa diajak diskusi tentang isu-isu yang hangat dibicarakan oleh media.

Well… sebenernya jika masalah lebih pandai dan berpengetahuan luas, sebenernya banyak juga kok laki-laki Indonesia yang pandai dan berpengetahuan luas. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini di mana sebagian besar orang memiliki akses pada teknologi informasi dan pendidikan yang lebih berkualitas, termasuk laki-laki Indonesia.

Namun, karena orang Indonesia sudah terlalu jauh dan terbiasa mengagung-agungkan bule maka bule kerap tampaknya lebih pandai dan berpengetahuan lebih daripada orang Indonesia. Padahal, belum tentu semua bule itu jenius dan berpengetahuan luas.

-Oktofani-

Kenapa Bule Hunter?

Terkadang saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah bule hunter selalu berarti negatif?” Awalnya saya pikir label tersebut terdengar cukup negatif di telinga saya. Entah mengapa?! Bahkan sejujurnya, saya cenderung risih dengan sebutan tersebut apalagi saya sebagai perempuan Jawa, perempuan Indonesia, mengencani dan sekarang menikahi pria kulit putih dari Ras Kaukasoid yang sering kita sebut sebagai bule.

Namun lagi-lagi saya bertanya pada diri saya sendiri…. Apakah istilah bule hunter selalu berarti negatif? Enggak juga. Tapi kenapa banyak orang Indonesia yang melakukan ‘perburuan’ terhadap bule-bule tersebut? Tentu saja banyak alasan!

Dalam hal ini saya ingin membicarakan tentang bule hunter perempuan dan bule pria. Yup! Perempuan, manusia bervagina yang mendambakan laki-laki dari Ras Kaukasoid sebagai pendampingnya baik pacar atau suami, sebagai client dalam bisnis prostitusi atau hanya sekedar sebagai fuck buddy alias teman kencan.

Namun apa sih istimewanya para bule tersebut? Apakah fisik mereka yang tinggi, putih, hidung mancung dan bibir pink? Apakah mereka lebih pandai daripada laki-laki Indonesia? Apakah mereka lebih romantis daripada laki-laki Indonesia? Atau dompet mereka yang nampaknya lebih tebal daripada dompet laki-laki Indonesia sehingga mereka bisa hidup nyaman di Indonesia?

Well…. hanya bule hunter yang dapat menjawabnya

-Oktofani-