Thinking: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adl pria pribumi yang haus kuasa, haus harta

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

Cheers, 

Oktofani

Advertisements

BULE HUNTER : Curhatnya Beberapa Perempuan Pasangan Bule

BULE HUNTER : Curhatnya Beberapa Perempuan Pasangan Bule

oleh: Risa Amrikasari

“Anyway, menjalani cross-cultural relationship is actually not very easy. People tend to judge us. Some people might think the Asian women are gold diggers, some might think that we are sluts. Namun, ada nggak sih yang sungguh-sungguh melihat bahwa kami benar-benar jatuh cinta tanpa embel-embel itu? Well, some people are just too blind to see the love between the two sometimes.” –

Bule Hunter, hal. 227

*****

Beberapa bulan lalu, saya diberitahu Mahel bahwa ia sedang membantu temannya yang akan menerbitkan buku. Dia minta tolong saya untuk mendapatkan testimonial dari Julia Perez (Jupe) karena katanya bukunya berkisah tentang pengalaman beberapa perempuan Indonesia yang memiliki atau pernah memiliki hubungan dengan orang berkewarganegaraan berbeda. Dia memberi link untuk saya baca sebagai referensi. Judul bukunya membuat saya tertawa seketika, “Bule Hunter”.

Ada-ada saja, pikir saya. Tapi setiap penulis bebas membuat judul yang menurutnya “eye catchy” dan saya paham itu. Saya pun mengontak Jupe beberapa hari kemudian. Jupe bukannya menulis testimonial, malah mengirimkan voice notes ke saya mengenai komentarnya soal hubungan dengan orang berbeda warga negara. Ah, daripada repot, saya kirim saja voice notes itu ke Mahel.

Setelah itu saya tidak mendengar lagi kabar soal buku itu, sampai pada suatu hari saya melihat suatu ulasan di sebuah media online yang isinya jauh dari bayangan saya. Buruk sekali. Saya belum pernah membaca isi buku itu, ulasan singkat yang diberikan kepada saya tidak “sejorok” apa yang ditulis oleh media online itu. Saya pun mulai melihat banyak caci maki terhadap penulisnya bertebaran di media sosial.

Beberapa waktu lalu, buku ini akhirnya tiba juga di saya. Saya memang dijanjikan akan dikirimi buku ini oleh Mahel, dan saya baru menerimanya setelah hingar-bingar soal buku ini hilang. Pesta sudah usai, Risa! Telat gak sih loe ngomongin soal buku ini?

Nggak! Setelah saya membaca buku ini, saya justru merasa harus menuliskan tanggapan saya.

Sebetulnya istilah “bule” ini rasis, seperti juga orang menyebut “indon”, “cina”, “malay”, “arab”, “negro”,  dan lain-lain. Tapi banyak orang berkulit putih itu malah tertawa dan suka bercanda ketika mendengar kata “bule”. So, rasis atau tidak, mungkin tergantung bagaimana menanggapinya kalau di Indonesia.

Istilah Bule Hunter” terdengar sensitive bagi beberapa perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing. Kalaupun sengaja menargetkan harus punya pasangan “bule” karena lebih menyukai mereka, mungkin agak emosi juga mendengar istilah ini. Stigma-stigma yang ditempelkan kebanyakan orang kepada perempuan yang memiliki pasangan berbeda kewarganegaraan telah membuat orang berpikiran kejam kepada perempuan yang berpasangan dengan orang berkulit putih. Seolah-olah semua buruk.

Padahal cinta bisa datang dari mana saja dan pada siapa saja. Mengenai cinta yang tulus inipun disajikan dalam buku “Bule Hunter” ini tanpa pretensi apapun. Ini tak dikupas oleh beberapa media yang mengangkat pemberitaannya, hingga buku “Bule Hunter” terkesan seperti buku picisan yang sengaja menjual sensasi demi popularitas. Tidak. Buku ini justru menggambarkan kisah-kisah yang dibagi oleh para perempuan yang kebetulan menjalin hubungan dengan pria berkewarganegaraan asing, dengan pengalaman yang bervariasi. Mulai dari kegembiraan, keisengan, kesedihan, sampai soal uang, seks, dan cinta, menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan oleh nara-sumber.

Penyajian yang apa adanya sebenarnya justru menimbulkan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang berpikiran terbuka. Mari kita lihat beberapa dialog yang menarik dari buku ini.

Ini bagian menarik di mana ternyata ada “bule” yang punya pandangan seperti layaknya orang Indonesia.

“Bisa-bisanya dia ngomong kalau perempuan Jawa harus menjaga keperawanannya untuk suaminya, sementara dia berhubungan badan denganku! Bajingan kamu, Chris! Asu!”

“Aku pikir bule bakal punya pikiran yang lebih liberal dan terbuka. Tapi kok malah koyok Asu ngene! Pancen londho Asu! Londho bajingan!” kata saya kesal dengan air mata terurai di pipi. – Bule Hunter, hal. 129 

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak perempuan Indonesia yang menjadi “bule hunter” dengan cara mencari pasangan melalui dating site yang banyak bertebaran di internet. Kenapa? Karena itu salah satu cara termudah bagi para perempuan yang ingin sekali berkenalan dengan cara mudah dengan laki-laki idaman mereka. Jadi, jangan marah hanya karena buku ini. Itu adalah kenyataan yang ada di sekitar kita. Jangan tutup mata dan tak peduli. Jangan mengangkat diri merasa harkat diri lebih tinggi daripada para perempuan lain yang sengaja ingin mencari pasangan “bule”. Karena setiap orang punya selera masing-masing.

Mari kita lihat bagian ini :

Berawal dari iseng-iseng mencari pacar di dunia maya, enggak disangka keisengan Jovita berakhir dengan janji pernikahan di depan altar dalam sebuah pernikahan sederhana di Salatiga, Jawa Tengah akhir tahun 2009 lalu. John dan Jovita saling mengenal pada pertengahan tahun 2007 lewat dating site. Jovita langsung jatuh hati pada John ketika John mengiriminya sebuah e-mail. 

“I always think that Indonesian women are the most caring, sensual, romantic and beautiful women on the planet. I am looking for a smart, sweet, slim, sexy Indonesian girl from 18-32. Please don’t respond if you are overweight, want money and conservative. I am not interested.”

Kalau kita membaca ini, apa kira-kira yang kita pikirkan sebagai orang yang tak paham kenapa mereka suka “bule”? Bolehkah kita judgemental? Bukankah itu cara yang directuntuk mencegah hubungan yang tidak diinginkan?

Lalu pada bagian ini kita bisa melihat bagaimana stigma perempuan punya pasangan “bule” itu selalu mendapat ledekan atau tepatnya ledekan mengandung cemooh.

“Belanjaan loe banyak bener? Buat lo sendiri ya?” tiba-tiba seorang perempuan berwajah oriental yang berdiri di depan saya mengajak bicara. 

“Ya. Kenapa memangnya?” jawab saya santai tapi sedikit heran.

“Nggak apa-apa sih! Cuman nanya aja. Pacar lo bule ya?” lanjutnya. 

Mendengarkan pertanyaan kedua dari perempuan yang sama sekali enggak saya kenal ini, saya hanya mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati apa maksudnya. I prefer to ignore her. But even when I try to ignore this woman, my heart still wonders about who she is and what she wants from me. – Bule Hunter, hal. 59

“Bule Hunter” adalah “buku curhat” beberapa perempuan Indonesia yang memiliki pasangan berkewarganegaraan asing atau lebih ngetop disebut “bule”. Tidak ada yang menurut saya harus membuat marah perempuan lain yang kebetulan memiliki pengalaman sama kalau hanya membaca curhat orang lain. Bukannya perempuan senang membaca curhat perempuan lain? Hehehe…

Soal hati, semua orang sama saja. Mau “bule” atau “lokal”, soal cinta semua juga punya. Tapi bagaimana mengekspresikannya dengan lebih terbuka, mungkin itu yang menjadi daya tarik lebih. Daya tarik lebih? Well, belum tentu! Bagi saya pecinta laki-laki “lokal” alias Indonesia asli, keterbukaan laki-laki “bule” justru tidak terlalu menarik, ketika saya bisa menemukan laki-laki Indonesia berpandangan maju, terbuka, menghargai perempuan, dan mampu mencintai intelektual saya lebih daripada fisik saya!

Buat Fani sang penulis, nice book you have! Salut atas keberanian dan kegigihannya meski mendapat banyak cemooh.  Setiap penulis akan menghadapi tantangan ketika menyampaikan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Tetapi tantangan itu harus membuat kita lebih maju!

Buat para perempuan yang marah atas buku ini, terutama karena membaca judul dan ulasan media online yang penulis ulasannya saya yakin TIDAK MEMBACA seluruh buku ini, saya tidak sependapat jika buku ini dianggap meremehkan harkat perempuan. Justru dengan adanya buku ini, kita bisa mendapat informasi apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan mereka, dan kenyataan serta pengalaman pahit mereka bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Soal buku, satu saja tips saya, BACA DULU, PAHAMI ISINYA, baru KOMENTAR. Jangan biarkan hasutan negatif menghalangimu mendapatkan informasi dan memalingkan muka dari kenyataan. Ini hanya kisah dari sebagian kecil perempuan. Kecil sekali. Kecil banget! Tapi cukup membuat orang untuk bisa belajar banyak untuk tidak terperosok pada kesalahan yang sama (jika itu sebuah kesalahan) dan paham artinya mencintai karena cinta milik siapa saja, bukan hanya mereka yang memiliki warna kulit sama!

==@==

Catatan: Tulisan ini dipublikasikan di http://www.bulehunter.com dengan seijin penulis

Hartoyo

Kemarin (10/9/14), saya diminta untuk memoderatori peluncuran buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” karya Elisabeth Oktofani dengan nara sumber  Myra Diarsi, aktivis perempuan dan juga dihadiri oleh ebbrapa peserta yang juga melakukan pernikahan campur antar bangsa di Reading Room, Kemang Jakarta Selatan.

Buku ini jika dilihat dari judul dan komentar-komentar dari Facebook atau berita di media banyak dapat kritik dari publik, terutama dari orang-orang bule itu sendiri maupun beberpa perempuan yang kebetulan menikah dengan bule.

Buku ini mengungkapkan kegelisahan2 atau “kemarahan” penulis atas pola ketidakadilan yang berkaitan dengan persoalan: 1. Relasi antara perempuan dan laki-laki dlam segala hal, 2. Relasi antara negara yg dianggap maju/beradab (barat), dalam hal ini laki-laki bule dengan negara2 timur/dunia ketiga/asia dlam hal ini perempuan Indonesia.

Walau penulis kurang membongkar atau menguliti secara detail pola-pola ketimpangan itu (katanya akan ada buku selanjutnya membongkar lebih dalam), tetapi penulis berhasil, minimal membuat saya memahami bahwa ini ada persoalan ketimpangan gender dalam perkawinan antar bangsa yg semakin rumit.

Sepertinya buku ini kalau diulas menggunakan buku Orientalis karya Edward Said dan buku The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karya Samuel P. Huntington akan dapat inti persoalannya, tentunya menggunakan pisau analisis gender. – Hartoyo, General Secretary of Our Voice Indonesia

Catatan: tulisan ini diambil dari Facebook mas Hartoyo dengan ijin beliau

Wanita Indonesia Bersuami Pria Asing Tak Selalu “Bule Hunter”

Jakarta – Apa yang ada di benak seorang wanita Indonesia ketika memilih pasangan pria asing, baik itu suami atau pacar?

Adalah hak jika seseorang memilih pasangan orang Indonesia asli atau pria asing.

Namun masyarakat umum cenderung menilai bahwa wanita Indonesia yang memilih pasangan bule, demikian mereka biasa disebut, adalahbule hunter, alias wanita pengejar bule.

Hal inilah yang tengah dicoba untuk diluruskan oleh Elizabeth Oktofani. Melalui bukunya, Bule Hunter, wanita ini mencoba menjelaskan kepada masyarakat wanita Indonesia yang memiliki suami atau pacar pria asing bukanlah hal yang salah.

“Selama ini wanita yang memiliki pasangan pria bule sering disebut sebagai bule hunter. Padahalbule hunter memiliki konotasi yang negatif, yang menghakimi si wanita sebagai wanita murahan, cewek matre, yang hanya ingin sekadar seks,” katanya saat meluncurkan bukunya di Jakarta, Rabu (10/9).

Menurutnya, sama dengan wanita Indonesia yang menikahi pria Indonesia, wanita Indonesia yang memilih pasangan pria asing juga memiliki motivasi tertentu untuk mencapai tujuannya.

“Ada yang termotivasi untuk mendapatkan cinta, kebahagiaan, seks dan bahkan uang.”

Memang ada wanita-wanita Indonesia yang mencari sekadar seks dan uang pada pasangan bule-nya, tapi tidak semua. Dan wanita-wanita inilah yang sebenarnya mungkin banyak dinilai sebagai wanita pencari kesenangan belaka.

“Tapi tidak adil rasanya jika digeneralisasi bahwa semua wanita Indonesia yang memiliki pasangan pria asing seperti itu semua,” ujar Fani.

Pada kesempatan yang sama, feminis sekaligus pemerhati isu-isu perempuan, Myra Diarsi menyatakan setuju dengan pendapat Fani. Setiap wanita Indonesia memiliki hak yang sama untuk memilih pasangannya dan mencari kebahagiaan dari pasangannya.

“Banyak wanita yang bersuami pria bule memang jatuh cinta dan ingin menciptakan keluarga yang seutuhnya. Mungkin bedanya hanya pada penampilannya, bahwa bule biasanya berkulit putih, tinggi dan sebagainya. Namun banyak dari mereka yang memang ingin bahagia dengan pasangannya,” ujarnya.

Melalui bukunya, Fani ingin mengedukasi masyarakat bahwa stigma itu tidak bisa diberlakukan pada semua wanita Indonesia yang mencintai pria asing.

Ia berjanji, anggapan miring masyarakat akan terluruskan setelah mereka membaca Bule Hunter. Buku ini tersedia di toko buku-toko buku dengan harga Rp 65.000 per eksemplar.

==@==

Tulisan ini dimuat oleh  Beritasatu.com pada tanggal 10 Sept. 2014

Elisabeth Oktofani: Exploring the world of ‘bule’ hunters

After dating many Caucasian guys, locally known as bule, since she was a teenager, 27-year-old writer Elisabeth Oktofani settled down when she married a Canadian three years ago.
“I had many relationships with bule and reached a point when I couldn’t care less if I dated a bule or not. But then I finally found a peace of mind with my husband, who turned out to be bule,” Fani said.

Her story dated to high school in Yogyakarta, when many of her girlfriends got invitations to connect on Friendster, the once-popular social media outlet, in the early 2000s.

Fani, however, stayed out of the fray. Initially.

“My hair was curly, I had a dark complexion and I had no boyfriend — I felt ugly. But then I got a friend request on Friendster from a bule who then asked to meet me in person,” Fani said. “So I thought if it was difficult to find local boyfriends, I would just try dating bule because they liked girls like me.”

After going out with a lot of Western men, she realized that many would appreciate her more if they could talk about many things with her.

“At first, I didn’t feel much appreciated — maybe because as a teenager, I had a lack of confidence and knowledge,” she said. “That’s why I easily ended up relationship with someone and find another one until I eventually realized that I also needed to be knowledgeable to hang out with them.”

She was often judged by the people around her about her relationships with the Westerners. They told her that she went out with them only because they were rich, and bule liked her because she was ugly.

“That annoyed me, because not all relationships between Indonesian girls and bule are like that. There are other things the society should know behind the relationship between Indonesian woman and bule,” Fani said.

She then decided to make a book which was based on her experience and her friends. The book, Bule Hunter: Kisah Wanita Pemburu Bule (Bule Hunter: Stories of Women who Pursue Westerners), aims to get rid of stigma attached to Indonesian women who date bule only for their money.

“We want to let people know that there are also relationships with bule that are based on love,” she said.

Fani said the idea to make the book popped up in 2007 when she first heard the phrase “bule hunter”.

“It was a funny word I thought. I started to find out more about this, listened to my friends who shared their experiences with bule, then the idea to write a book crossed my mind,” she said.

It was not until 2011 she really started working on it, spending almost two years to do the research for the book.

She interviewed friends, prostitutes and random women in Jakarta and Bali.

“I went to night clubs and hotels to find out about how women made their deals with bule. I also found out that there were many women who married to bule to be able to leave Indonesia or to improve their lives in Indonesia,” she said.

However, she said, after they left many were often surprised to know the fact that their bule partners were not as wealthy as they were in Indonesia.

“Many women that I interviewed also like to hang out with bule because sometimes they are more open-minded than Indonesian guys when it comes to sex and safe sex,” Fani said.

She then went to Bali to focus on finishing the project. By the end of 2013, Fani had completed a book that was blunt and a bit vulgar.

It was not too hard for her to find a publisher. Rejected by one of the nation’s largest publishers, who thought the work too much, Fani offered it to Rene Book, which agreed to print it after some editing.

“The publisher says this 311-page book is different, as it brings out the silent phenomenon in the society as well as becoming the voice of certain groups,” she said.

She added that she already had a plan to make the sequel.

Fani has always been into writing.

She started blogging since high school and her blog received responses from readers in many countries. She studied journalism at Atma Jaya University in Yogyakarta.

She become a freelance writer for a newspaper in Indonesia, took an internship in a lifestyle magazine in Bali, worked for one-and-a-half years for a newspaper in Jakarta, and became a freelance contributor for an American media outlet.

Recalling her life from the past through present day, Fani said she was so proud of being an Indonesian despite the fact that she enjoyed hang out with Westerners.

“We have several values that are always instilled in us, like honoring older people by not calling them only by name and other polite gesture in Indonesian tradition,” Fani said.

Fani is also busy with her current job as an assistant editor and a contributor for a growing media outlet in Jakarta.

“I covered social issues, human rights and also terrorism. And the book’s writing style has been highly influenced by my investigative journalism experience,” Fani said.

Bule Hunter: Kisah Wanita Pemburu Bule (Rene Book, 312 pages, paperback) will be launched at the Reading Room in Kemang, Jakarta, on Wednesday. Visit bulehunter.com for more information.

==@==

This article is published by The Jakarta Post’s newspaper on Sept. 8, 2014

What “Bule Hunters” Want

Indonesian women who have Western partners or husbands are often met with negative, sometimes harsh judgment from people around them, from gold diggers to exotic-looking harlots.

​When you see an Indonesian woman with brown complexion walking together with a Western man, for example, you might hear responses like, “Why on Earth would a bule want to be with a woman with a tampang babu?”

Bule is an Indonesian slang word for Westerners, while tampang babu means the face of a domestic help.

Irked by such stereotypes, Jakarta-based writer Elisabeth Oktofani decided to write  a book called Bule Hunter: Kisah Wanita Pemburu Bule (Bule Hunter: Tales of Women who Pursue Western Men). Published by Rene Books this year, it is based on her interviews with several women with Western partners to understand their motivation in pursuing the men.

“All this time, we have heard only the negative stereotypes about the women. To be fair, I think we need to listen to these women’s voices. So I’m trying to provide space for them in this book,” Elisabeth, who is fondly known as Fani, says.

No stranger to the issue, Fani has been married to a Canadian man for three years. After spending some time doing her research, she concludes the three things driving Indonesian women to pursue Western lovers: money, sex and love.

So, the stereotype that some Indonesian women go after Western men for their money is not a hundred percent wrong after all.

“Let’s face it, a lot of Western men who work in Indonesia are quite prosperous. This happens because they have privileges like higher salaries than local people,” she says, adding that when these men return to their home country, they may not be as privileged as they are in Indonesia.

Because of this, some Indonesian women who are “tired of being poor”, or those who may have a chance of a decent career but without the necessary motivation, choose to cling to Western men who provide them with a comfortable lifestyle.

“These women can have things they couldn’t afford before. They can now travel to different places. It’s a very comfortable life,” the former Jakarta Globe reporter says.
But things could turn ugly for these women when they have too high an expectation.

“Some of them had dreams of moving to their lover’s countries, where they would live a prosperous life. Unfortunately, as I have said before, a lot of westerners are not as prosperous in their own countries. They can live a lavishly in Indonesia thanks to the privileges given to them as expats here,” she says.

Real disappointment follows the high expectation when they find out that their European or American lives are not as glamorous as they had fantasized.

And then there is the darker side of this phenomenon: human traffickers who recruit Asian women by deceiving them with promises of romance with Western men.

Money and a lavish lifestyle, however, are not the sole reasons why some Indonesian women are so intent in finding a Western lover. Sex takes priority for some women.
“Some women that I interviewed said theyfound Western men to be sexy,” says Fani.

The women also feel more comfortable because Western men are more conscious about the importance of safe sex than Indonesian men.

“They are never reluctant about putting on a condom if their sexual partners ask them to do so. This makes Indonesian women feel safer when having sex with them, because safe sex is not just about avoiding pregnancy. Getting infected with sexually transmitted diseases is definitely scarier than getting pregnant,” she says.

Some of the women Fani interviewed said that Western men were also less judgmental on various sexual expressions than Indonesian men, though that is not always the case, as some can be judgmental too.
Finally, after a few years of relationship, the women might eventually find what they call “love”.

“Eventually, what motivates people to maintain a relationship is the fact that they find a good match in their partners, whether it’s because they have the same interests or they can discuss so many things with ease,” she says.
Indeed, this is the most important aspect in maintaining a relationship, regardless of the ethnicity or the origin of the partner. Her message: when choosing a life partner don’t confine yourself to people from one race or ethnicity.

“I used to be exclusively attracted to Western men too, but after I got married to one for several years, I came to realize that no matter where your partner comes from, the most important thing is the chemistry you have with him,” she says.

About Sebastian Partogi
Sebastian Partogi is a feminist writer living in Jakarta.

==@==

What “Bule Hunters” Want is published by The Magdalene on Aug. 29 

Irene S Vidiadari

Irene S Vidiadari

Irene S Vidiadari

 

Buku “Bule Hunter” ini menyadarkan para pembaca (terutama perempuan) untuk bisa menghargai diri sendiri. Banyak yang gampang patah arang karena menilai pekerjaan dari nominal yang dia dapet, padahal nilai “bekerja” yang terutama adalah penghargaan terhadap diri sendiri dan terhadap hidup yang kita jalani. Ga percaya? Baca deh halaman 22 dan 272 (yang ini jadi favorit saya! Hehehe) .Selamat dan sukses mbak Fani, saya nggak sabar nunggu karya selanjutnya! – Irene S Vidiadari,  karyawan swasta di Banjarbaru, Kalimantan Selatan