Barat ‘Keren’, Indonesia ‘Kuno’?

Saat pertama kali saya berkencan dengan bule, saya selalu mengelu- elukan budaya Barat. Saya selalu menganggap bahwa budaya Indonesia itu kolot, begitu juga dengan orang Indonesia. Enggak keren sama sekali.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa enggak semua tentang ‘Barat’ itu keren, enggak semua budaya Indonesia itu kolot. Saya justru rindu dengan kearifan budaya Jawa dan kekayaan budaya Indonesia yang membuat saya merasa lebih menjadi manusia berbudaya.

Sekarang, saya hanya bisa tersenyum melihat bule hunter yang terlalu mengagung-agungkan pria- pria bule. Apalagi bagi newbie yang belum mengenal atau memahami betul siapa mereka, kebiasaan serta bagaimana budaya mereka lebih dalam.

Bagaimana pun kita, sebagai orang Indonesia, mencoba untuk bersikap seperti orang Barat, kita enggak akan pernah menjadi bagian dari mereka. Begitu pula dengan mereka. Mau bagaimana pun mereka, sebagai orang Barat, mencoba bersikap seperti orang Indonesia, mereka enggak akan pernah menjadi bagian dari orang Indonesia.

Saya sama sekali enggak membenci bule, tetapi saya juga enggak mau mengagung-agungkan mereka. Saya merasa bahwa enggak ada satu pun yang membuat satu ras lebih unggul daripada ras lain. In the end of the day, we are all human, we are all equal. Tak ada yang lebih baik atau buruk hanya karena latar belakang ras mereka.

-Oktofani-

Advertisements

Piece of Mind: When Money Talks, Unity Takes a Walk

When I was in elementary school in the mid-1990s, my teachers went out of their way to emphasize the national motto, Bhinneka Tunggal Ika, which translates as “Unity in Diversity.”

The motto — taken from a famous Javanese poem penned during the Majapahit kingdom in the 14th century — pertains to the fact that Indonesia is an archipelago that is rich with different cultures, tribes, religions and languages.

The motto is intended to draw on the country’s diversity as a unifying strength instead of allowing it to become divisive. It’s a nice idea, but one that seems to be showing more and more cracks these days. The most blatant recent examples pertain to religion and sexual orientation.

But there are other, more subtle examples that have increasingly come to my attention, mostly having to do with status and money. Take the artists’ enclave of Ubud.

With its starring role in the best-selling book “Eat Pray Love” and the film adaptation starring Julia Roberts, it seems like everyone has been talking about Bali and how perfect it is as a tourist destination. I lived there, among the lush rice fields of Ubud, for more than a year.

And while I love the beauty and culture of the place, I couldn’t help but get the feeling that while it was welcoming to foreigners from all over the world, this same welcome doesn’t always seem to be as warmly extended to fellow Indonesians.

As a Javanese woman dating a Western man, I sometimes felt that I was discriminated against in terms of race and gender while living there.

When I went to a restaurant or shop with my fiance, he was greeted with a warm smile and friendly words. I, on the other hand, was largely ignored. I found myself asking if there was something wrong with me.

Was it because my fiance was a Western man and people assumed that he had more money than me? Or was it maybe because of the stereotype that Indonesian women who date Western men are morally compromised and are just out to squeeze some money from the man’s pockets?

If I only felt this way once or twice about the way I was treated, I could probably just brush it off. But it happened again and again, almost anywhere we went.

I also saw it happen to other Indonesian women, even men, and it never failed to test my patience. I eventually decided to channel my anger in a creative manner by blogging about my experiences. I ended up getting a lot of responses and comments from readers who had experienced the same thing.

There were also some people who were surprised that this would happen, given that there are so many Indonesian tourists who visit Bali.

I have two theories about why this happens. The first is that Bali has become spoiled by tourism money. It seems to me as if a lot of people there have forgotten basic manners in their quest to take a bite out of the tourism pie.

My second theory is that some Balinese may simply not feel kind towards other Indonesians. This feeling may have increased since the 2002 terrorist bombings, from which the island is still recovering today. But it’s not just Bali. I have found that things like this happen in other parts of the country as well.

Before I moved to Jakarta, I called the owner of an apartment in Central Jakarta and tried to rent his place. He was friendly and organized as he went over the details with me. I agreed to all the rules and was ready to pay.

Then, oddly enough, he asked if the apartment was for me or a foreigner. I told him it would be for me, a young Indonesian woman.

I never heard back from him until my Western friend contacted him and he responded immediately with a rental agreement. It is quite sad that this sort of thing happens in Indonesia, especially when we are taught Bhinneka Tunggal Ika growing up. It seems that our motto of equality and tolerance is not always reality.

Tourists from Jakarta who visit Bali may be quoted higher room rates than others. Foreigners are usually given more friendly treatment in tourist shops and restaurants there. They also get easy access to apartments in Jakarta.

Bhinneka Tunggal Ika is a great idea, it’s just one that doesn’t always translate into real life — especially when the equality and unity in question stem from one’s wallet.

Elisabeth Oktofani is a freelance writer.

==@==

When Money Talks, Unity Takes a Walk was published by The Jakarta Globe on Oct 12, 2010 before I joined to the newspaper.

When Money Talks, Unity Takes a Walk | The Jakarta Globe

BH’s Phuck Buddy Rules

Do you have fuck buddy? Miss Bule Hunter punya beberapa tips nih enggak sakit hati dan stay healthy!

1. GUNAKAN KONDOM! Safe sex! It is very important. It’s not about avoiding getting pregnant but preventing getting sexual transmitted dissase (STD). Enggak mau dong kita kena penyakit STD karena gaya hidup kita? Sebagai perempuan, jangan malu ke apotek untuk beli kondom karena belum tentu partner kita punya. So bring condoms everywhere you go!

2. JANGAN menjalin komunikasi yang intens, karena itu bisa membuat orang jatuh cinta.

3. JANGAN bertemu terlalu sering, dua minggu sekali cukup. Karena sama halnya dengan komunikasi cukup intens, ini bisa membuat orang jatuh cinta.

4. You MUST make it clear to your sex partner about what you want and your status, whether you are single or in relationship. Menurut saya, cara ini adalah cara yang tepat untuk menghindari tumbuhnya suatu perasaan antara kedua belah pihak.

5. RESPECT EACH OTHER business and personality. Maksud saya, saat memilih untuk punya fuck buddy, si laki-laki enggak boleh menganggap si perempuan sebagai pelacur dan si perempuan enggak boleh menganggap si laki-laki sebagai mainannya saja, because there is a fair exchange between the man and woman. Don’t you think so?

6. JANGAN terlalu romantis saat di kamar. Jangan terlalu lama berbasa-basi. No kissing, no hugging or long chit chat before or after have sex. Just bang. When you’ve done, shower then leave. Just play smart! Isn’t that what you need?

-Oktofani-

Julia Perez

“Gue suka sama bule bukan karena barang mereka gede. Gue suka sama bule karena nyali mereka lebih gede. Gue suka sama laki-laki yang punya karakter. And, I think, for Indonesian people, we need character right now. Kita terlalu ‘ramah’ untuk menjadi seorang laki-laki. Butuh GEDORAN. Sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.” Julia Perez, penyanyi dan artis.

Jessica Huwae

Bule Hunter, judul provokatif yang akan membuat siapa saja mengernyitkan kening, menebak-nebak isi buku ini.

Alasan dan latar belakang dari banyaknya perempuan Indonesia yang rajin “berburu” pasangan ekspatriat rupanya menjadi inspirasi bagi Elisabeth Oktofani untuk mengangkatnya ke dalam debut karyanya ini.  Dengan berbekal pengalaman sebagai jurnalis, Oktofani mengangkat kisah jatuh-bangun para perempuan tersebut–dengan motivasi mereka yang beragam–untuk mendapatkan pasangan bule idaman.

Tidak selalu manis memang, ada yang merasa direndahkan, merasa dimanfaatkan, merasa terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan–walau tidak sedikit juga dari perempuan pemburu yang akhirnya memiliki akhir cerita yang menyenangkan alias happy ending.”

Dengan riset dan observasi yang mendalam, Cetta berhasil meramu kumpulan cerita yang eye opening, tidak berjarak, membangkitkan simpati serta menahan kita untuk tidak segera menghakimi karena  pada akhirnya, terlepas dari apapun warna kulit, kebangsaan dan tebal kantong seseorang, yang ia ingini pada dasarnya sungguhlah sederhana: to love and be loved in return.” – Jessica Huwae, Penulis/Founder Dailysylvia.Com

==@==

Jessica Huwae adalah  penulis dan founder DailySylvia.com. Salah satu karya ciamik dari Mbak Jessica ini  adalah “Galila” yang juga sudah beredar di toko-toko buku terdekat. Sila follow @jessicahuwae di Twitter buat yang ingin kenal lebih lanjut, yah. Thanks banget ya, Mbak. Love you so much!

Kontribusi Istri Bule dalam Rumah Tangga

Saya pun tiba-tiba teringat Henry yang pernah mengatakan pada saya bahwa kawan-kawannya dapat membeli rumah dan hidup berkecukupan karena istri mereka bekerja dan memberi kontribusi cukup signifikan pada rumah tangga.

Ya iyalah! Apakah saya harus heran? Semua orang juga tahu, sistem gaji bagi orang kulit putih sangat berbeda dengan gaji orang kulit cokelat atau hitam. Orang kulit putih cenderung mendapatkan gaji lima kali lipat daripada orang lokal ketika mereka bekerja di negara berkembang. Lihat saja berita di Kompas beberapa waktu lalu tentang kesenjangan gaji antara guru asing dan guru lokal di sekolah bertaraf internasional di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Guru asing menerima upah antara Rp50 sampai Rp100 juta per bulan sedangkan guru Indonesia hanya menerima upah Rp 2 juta sampai Rp15 juta per bulan.

Ya, tentu saja, akhirnya saya enggak bisa memberi kontribusi yang cukup signifikan terhadap keuangan rumah tangga kami. Saya sebagai orang Indonesia dengan pendidikan universitas swasta di Yogyakarta hanya dihargai murah.

Ah, lucu sekali. Lucu sekali, kata saya dalam hati. Bisa dibilang, saya ini sudah pasrah dengan gaji murah karena sistemnya memang sudah seperti itu, tetapi saya masih harus makan. Eh, masih saja enggak dihargai, yang ada malah dicaci maki suami sendiri.

-Oktofani-

Disparitas Gaji Karyawan Asing dan Lokal di Indonesia

…… Dirjen PAUD Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) Lydia Freyani mengungkapkan, tenaga pendidik asing menerima upah mulai di atas Rp 50 juta hingga di atas Rp 100 juta. Sementara itu, tenaga pengajar asal Indonesia menerima upah hanya sekitar Rp 2 juta hingga Rp 15 juta per bulan…. (Sumber: Kompas )

Guru Asing di JIS Terima Gaji Hingga Rp 100 Juta per Bulan – Kompas.com