Desy

Saya sudah membaca buku Bule Hunter. Rasanya seperti dihadapkan pada kenyataan bahwa semua itu memang benar adanya di sekitar kita terlebih bagi saya yang bermukim di Bali yang notabena menjadi salah satu lokasi dimana fenomena ini banyak terjadi. Saya bukan penggemar bule, belum pernah naksir apalagi jatuh cinta dengan bule. Saya masih cinta produk dalam negeri walaupun sahabat saya mulai menasehati saya untuk membuka peluang bagi para bule, tetapi seperti halnya kisah para bule hunter yang memang memilih bule, maka saya (masih) lebih cowok lokal.

Buku ini menyajikan keadaan yang memang terjadi segara gamblang tanpa basa-basi. Kenyataan yang selama ini ada di depan mata saya tetapi saya seakan atau memang memilih untuk menutup mata serta telinga (egois memang). Bagian pembuka buku ini yang bercerita tentang Gold Digger, kontan membuat saya merasa tidak terima. Tidak terima karena tidak semua bule hunter seperti itu! Setidaknya sahabat saya yang menikah dengan bule, tidak seperti itu, walaupun di luar sana juga banyak yang seperti itu, dengan berbagai alasan, bahkan saya (pernah) berjumpa salah satu dari yang bisa dikatagorikan sebagai Gold Digger.

Digeneralisasi seperti itu, membuat saya, yang bukan bule hunter pun ikut terusik. Saya yang berkerja, punya penghasilan sendiri, tidak terima digeneralisasi seperti itu hanya karena kelakuan beberapa orang.

Keseluruhan yang disajikan dalam buku ini membuka mata dan telinga saya. Memberikan saya informasi bahwa bule hunter itu ada, tidak selamanya mereka buruk, ada pula yang tulus, dan tidak selamanya memiliki pasangan bule itu mendatangkan kebahagiaan walalupun mungkin secara materi lebih dari pada orang lain. Tidak selamanya juga bule-bule itu baik. Tidak selamanya mereka kaya (punya pekerjaan baik dinegaranya), karena banyak juga bule kere yang karena perbedaan nilai mata uang, maka mereka besikap pentantang-petenteng dan seenaknya memperlakukan wanita Indonesia tetapi semua kembali kepada pribadi wanita-wanita itu sendiri.

Great book 🙂

Advertisements