Tanggapan Penulis Buku “Bule Hunter” atas Artikel di merdeka.com

Merdeka.com – Pada hari Senin (8/9/2014), Bp. Ramadhian mengajukan permohonan wawancara dengan saya, Oktofani Elisabeth, selaku penulis buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Dalam pembicaraan melalui telepon, saya menyetujui permohonan wawancara berkaitan dengan profiling saya sebagai penulis buku Bule Hunter:Money, Sex and Love. Senin sore, saya bertemu dengan dua reporter merdeka.com di bilangan Senayan untuk melakukan wawancara.

Setelah membaca pemberitaan di merdeka.com, saya merasa kecewa karena terdapat banyak kesalahan. Tidak semua tentunya pemberitaan tersebut salah menggambarkan Bule Hunter: Money, Sex and Love. Namun ada beberapa artikel 1. Ini yang Disuka Wanita Lokal Saat Ngeseks; 2. Cerita Bule Hunter Banting Harga Demi Gaet Si Om Blonde Pelit; 3. Gosip Ala ‘Bule Hunter’ dari Urusan Ranjang Sampai Sex Toys dan juga Di Mata Pria Bule, 4. Wanita Berbokong Sekel Lebih Seksi yang menurut saya salah menangkap maksud buku saya Bule Hunter: Money, Sex and Love.

Contohnya penggunaan terminologi ‘Bule Hunter’ di artikel berjudul ‘Cerita Bule Hunter Banting Harga Demi Gaet Si Om Blonde Pelit‘. Saya sudah dengan sangat hati-hati menyebut perempuan-perempuan yang memang pekerja seks di buku saya sebut sebagai pekerja seks komersial namun justru dalam pemberitaan tersebut terminologi Bule Hunter digunakan untuk menggambarkan sebagai sebuah profesi pekerja seks komersial.

Padahal buku tersebut justru saya ini ingin menantang penggunaan terminologi “Bule Hunter”. Bahwa apakah semua orang yang dipanggil “Bule Hunter” itu betul masuk ke definisi “Bule Hunter” yang dianggap negatif seperti pekerja seks atau perempuan murahan. Justru sebaliknya itu tidak benar karena pengalaman wanita-wanita di buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Buku saya ini ingin mendobrak stereotype tersebut.

Kalaupun ketika menulis buku ini terungkap pendapat-pendapat individu termasuk pendapat-pendapat saya seperti terkait ukuran, itu pendapat pribadi yang tidak mencerminkan fakta ilmiah di lapangan.

Justru maksud buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” adalah membuka pendapat-pendapat itu sehingga kita bisa bicara lebih lantang lagi terkait dengan hal-hal yang dianggap taboo tapi sesungguhnya sangat esensial atau merupakan bagian dari benang-benang yang mengikat bangsa kita saat ini, yakni tentang hubungan antar budaya dan ras. Hal-hal inilah yang ingin saya bawa ke permukaan dengan maksud membuka wacana.

“Ini lho ada perempuan-perempuan yang berhubungan dengan laki-laki kaukasoid atau bule dan selama ini perempuan-perempuan ini diberi label bule hunter yang mana selama ini berkonotasi negatif.”

Melalui buku Bule Hunter: Money, Sex and Love, saya ingin mendobrak terminologi dengan membuka lapisan bawangnya dengan wawancara dengan perempuan-perempuan yang kerap dianggap Bule Hunter, termasuk saya sendiri.

Jadi tidak tepat pada artikel 1. Ini yang Disuka Wanita Lokal Saat Ngeseks; 2. Cerita Bule Hunter Banting Harga Demi Gaet Si Om Blonde Pelit; 3. Gosip Ala ‘Bule Hunter; dari Urusan Ranjang Sampai Sex Toys dan juga Di Mata Pria Bule, 4. Wanita Berbokong Sekel Lebih Seksi membuat seakan-akan ingin mengeneralisi perempuan-perempuan ini dianggap Bule Hunter. Justru salah!

Perempuan-perempuan ini dianggap Bule Hunter dan saya ingin menantang penggunaan stereotype tersebut. Warna-warna apa saja sih yang ada? Ya silahkan anda membaca dan membeli buku saya sehingga anda bisa tahu. Finally, this book is about Indonesian women, who have been judged unfairly to be Bule Hunter just because being with Caucasian Man.

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh merdeka.com pada tanggal 9 September 2014

Advertisements

Bukan Untung Malah Buntung

Bicara masalah pernikahan sebagai kedok untuk kaya instan, beberapa bulan yang lalu saya bertemu dengan Jovita Zahira di sebuah restoran Jepang di jalan Seminyak, Bali. Kami duduk di teras luar sambil menikmati cerahnya siang hari ini di tengah musim penghujan di Pulau Seribu Pura.

Namanya Jovita Zahira, usianya 24 tahun. Empat tahun yang lalu, dia menikah dengan John Owen, warga negara Australia yang berusia 66 tahun. Setelah 3 tahun menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Steven Owen. Kini Steven berusia 8 bulan.

Berawal dari iseng-iseng mencari pacar di dunia maya, enggak disangka keisengan Jovita berakhir dengan mengucapkan janji pernikahan di depan altar dalam sebuah pernikahan sederhana di Salatiga, Jawa Tengah akhir tahun 2009 lalu.

John dan Jovita saling mengenal pada pertengahan tahun 2007 lewat dating site. John mengaku pada Jovita bahwa dia bekerja sebagai seorang tukang ledeng profesional. Saat itu, Jovita masih berusia 18 tahun. Dia langsung jatuh hati pada John ketika John mengirimnya sebuah e-mail yang menyatakan bahwa dia tertarik pada Jovita.

Mulanya Jovita kurang tertarik pada John karena perbedaan usia yang terlalu jauh. Dari saling berkirim e-mail, hubungan mereka berlanjut di Yahoo Messenger lalu Skype.  Hampir setiap hari mereka chatting. Seiring dengan perkenalan mereka, John menawarkan suatu dunia baru baginya.

Natal 2007, John mengunjungi Jovita di Salatiga dan membawanya untuk berlibur ke Bali dan Malaysia. Lalu pada Valentine’s Day 2008, John mengundang Jovita untuk mengunjunginya di Australia selama dua minggu lamanya. Dalam satu tahun, John mengunjungi Jovita sebanyak tiga kali sementara Jovita mengunjungi John di Australia sebanyak dua kali.

Meskipun harus pacaran jarak jauh, hubungan mereka terjalin dengan harmonis. John merasa telah menemukan sesosok pendamping hidup yang ia impikan selama ini. Muda, cantik, seksi dan bisa melayani laki-laki di rumah dengan baik.

Selain itu, Jovita enggak pernah neko-neko dengan menuntut John untuk membelikannya barang-barang mahal yang enggak berguna. Sesekali saja John memberi Jovita hadiah yang dapat dia gunakan dalam menjalin komunikasi mereka selama pacaran jarak jauh seperti laptop, modem dan smartphone.

Kadang jika John sedang mendapatkan rejeki berlebih, dia mengirimi Jovita uang sebanyak 500 AUD. Suatu ketika John mengatakan pada Jovita bahwa dia berniat untuk pindah ke Indonesia dan ingin membeli properti di kawasan Sanur, Bali sehingga dia bisa dekat dengan Jovita. John memang bukan orang kaya tetapi tabungannya cukup untuk hidup nyaman di Indonesia.

…. bersambung

-Oktofani-

Kenapa Bule Hunter?

Terkadang saya bertanya pada diri saya sendiri “Apakah bule hunter selalu berarti negatif?” Awalnya saya pikir label tersebut terdengar cukup negatif di telinga saya. Entah mengapa?! Bahkan sejujurnya, saya cenderung risih dengan sebutan tersebut apalagi saya sebagai perempuan Jawa, perempuan Indonesia, mengencani dan sekarang menikahi pria kulit putih dari Ras Kaukasoid yang sering kita sebut sebagai bule.

Namun lagi-lagi saya bertanya pada diri saya sendiri…. Apakah istilah bule hunter selalu berarti negatif? Enggak juga. Tapi kenapa banyak orang Indonesia yang melakukan ‘perburuan’ terhadap bule-bule tersebut? Tentu saja banyak alasan!

Dalam hal ini saya ingin membicarakan tentang bule hunter perempuan dan bule pria. Yup! Perempuan, manusia bervagina yang mendambakan laki-laki dari Ras Kaukasoid sebagai pendampingnya baik pacar atau suami, sebagai client dalam bisnis prostitusi atau hanya sekedar sebagai fuck buddy alias teman kencan.

Namun apa sih istimewanya para bule tersebut? Apakah fisik mereka yang tinggi, putih, hidung mancung dan bibir pink? Apakah mereka lebih pandai daripada laki-laki Indonesia? Apakah mereka lebih romantis daripada laki-laki Indonesia? Atau dompet mereka yang nampaknya lebih tebal daripada dompet laki-laki Indonesia sehingga mereka bisa hidup nyaman di Indonesia?

Well…. hanya bule hunter yang dapat menjawabnya

-Oktofani-