Buka Buka Buku ‘Bule Hunter: Money, Sex and Love’

Dear pembaca buku Bule Hunter: Money, Sex and Love dan pengunjung blog bulehunter.com di Semarang

Yang belum baca, yang pengen tahu, yang penasaran sama buku Bule Hunter: Money, Sex and Love karya saya. Yuk nanti malem stay tune di 102.4 Gajahmada FM untuk ngebahas buku Bule Hunter di acara Buka Buka Buku jam 7 malem.

Cheers

Advertisements

Norwegian Men and Import Brides

Last week the documentary focused on Norwegian men and ‘import brides’. It is commonly known amongst Norwegians that Norwegian men import brides because Norwegian women don’t consider them ‘a catch’. So Norwegian men look elsewhere. When it comes to Norwegians marrying someone abroad certain trends have developed over the years. Currently most Norwegian women who marry from abroad marry from Sweden, Denmark and the UK.

Most Norwegian men who marry from abroad marry women firstly from Thailand, secondly from Russia and thirdly from the Philippines. The import brides have clear reasons for their marriage choice: Russian women marry Norwegian men because of the ‘Norwegianess’ – meaning that Norwegian men are more domesticated than Russian men therefore Russian women have less domestic responsibility and more ‘freedom’. South-east Asian woman marry Norwegian men because they want to up-grade their lifestyle and also use it as a means to support their family in Thailand.  Read the rest here

Elisabeth Oktofani, Tulis Kisah Wanita Indonesia Dengan Judul ‘Bule Hunter’

Vemale.com – Ketertarikan wanita Indonesia pada pria bule memang kerap banyak terjadi di lingkungan sekitar. Bahkan mimpi memiliki suami bule dianggap bisa memperbaiki keturunan. Dan mimpi-mimpi indah untuk mendapatkan pasangan beda negara ini dirangkum secara gamblang oleh penulisnya.

Elisabeth Oktofani, merupakan penulis buku Bule Hunter yang kisahnya terjadi secara nyata di lingkungannya. Sejak kuliah, Fani panggilan akrabnya, memang sudah berkeinginan membuat buku karena ia mempunyai hobi menulis dan membaca. Berprofesi menjadi seorang wartawan, Fani menyalurkan hobi menulisnya ke dalam blog pribadi miliknya, yang pada akhirnya menimbulkan keinginan untuk membuat karya tulisan terwujud tepat di usianya di 27 tahun tahun ini.

“Awalnya ingin banget menulis waktu kuliah, kerja dan sekarang akhirnya menulis buku ini. Kenapa? Karena ada kegelisahan, adanya steriotipe terhadap perempuan yang menjalani hubungan antar bangsa sehingga dicap sebagai bule hunter,” ucap Fani saat ditemui tim Vemale pada peluncuran buku perdananya di Reading Room Kemang Timur Jakarta Selatan Rabu 10 September 2014 lalu.

Tidak gampang menulis buku ini, ia pun mengaku bahwa sempat terjadi pro dan kontra setelah membaca Bule Hunter miliknya. Tetapi karena alasan itulah yang membuat Fani mengurungkan niat menerbitkan tulisannya di publik.

Fani pun mengakui bahwa setiap narasumber yang ia jadikan kisah adalah orang-orang yang ia kenal tetapi tidak ia sebutkan nama asli di dalam bukunya, karena itu permintaan dari narasumber.

Tak hanya itu saja, wanita bertubuh mungil ini dengan keberaniannya, sampai pernah menyambangi klub malam untuk mencari narasumbernya agar keakuratan bukunya benar-benar terpercaya.

“Jadi, buku ini setiap bab-nya mempunyai narasumber yang berbeda-beda. Narasumbernya pun dari 15 menjadi 11, tak cuma di Jakarta saja, tetapi di Bali, Jogja sama di Salatiga juga,” jelas Fani.

Baginya, dengan menulis kisah seperti ini, bisa mewakili perasaan semua wanita yang mendapat julukan Bule Hunter karena lelah dinilai jelek. Oleh karena itu, buku ini memberikan media bagi mereka untuk menyuarakan kehidupan yang sesungguhnya. Akan tetapi Fani pun tidak melarang perempuan Indonesia untuk mencari pasangan bule.

“Buat perempuan-perempuan Indonesia yang ingin menikah dengan bule, buat masyarakat yang selalu mengecap perempuan Indonesia yang berpasangan dengan bule negatif, silahkan baca buku saya Bule Hunter,” tuturnya dengan memberi harapan.

Nah Ladies, daripada Anda semakin penasaran dengan kisahnya, ayo beli saja langsung bukunya atau bisa lihat teasernya di http://www.bulehunter.com. Selamat membaca!

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh vemale.com pada tanggal 11 Sept. 2014

Hartoyo

Kemarin (10/9/14), saya diminta untuk memoderatori peluncuran buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” karya Elisabeth Oktofani dengan nara sumber  Myra Diarsi, aktivis perempuan dan juga dihadiri oleh ebbrapa peserta yang juga melakukan pernikahan campur antar bangsa di Reading Room, Kemang Jakarta Selatan.

Buku ini jika dilihat dari judul dan komentar-komentar dari Facebook atau berita di media banyak dapat kritik dari publik, terutama dari orang-orang bule itu sendiri maupun beberpa perempuan yang kebetulan menikah dengan bule.

Buku ini mengungkapkan kegelisahan2 atau “kemarahan” penulis atas pola ketidakadilan yang berkaitan dengan persoalan: 1. Relasi antara perempuan dan laki-laki dlam segala hal, 2. Relasi antara negara yg dianggap maju/beradab (barat), dalam hal ini laki-laki bule dengan negara2 timur/dunia ketiga/asia dlam hal ini perempuan Indonesia.

Walau penulis kurang membongkar atau menguliti secara detail pola-pola ketimpangan itu (katanya akan ada buku selanjutnya membongkar lebih dalam), tetapi penulis berhasil, minimal membuat saya memahami bahwa ini ada persoalan ketimpangan gender dalam perkawinan antar bangsa yg semakin rumit.

Sepertinya buku ini kalau diulas menggunakan buku Orientalis karya Edward Said dan buku The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karya Samuel P. Huntington akan dapat inti persoalannya, tentunya menggunakan pisau analisis gender. – Hartoyo, General Secretary of Our Voice Indonesia

Catatan: tulisan ini diambil dari Facebook mas Hartoyo dengan ijin beliau

Bule Hunter, Cerita Wanita-wanita ‘Pemburu Bule’

Jakarta – Tak sedikit wanita Indonesia yang mendambakan memiliki kekasih atau suami pria asing. Alasannya pun berbagai macam mulai dari lebih romantis, tegas, hingga ingin memperbaiki keturunan.

Ketertarikan wanita Indonesia pada pria bule ini dirangkum dalam sebuah buku berjudul ‘Bule Hunter’. Buku yang ditulis oleh Elisabeth Oktofani ini berisi berbagai kisah nyata para wanita yang gemar ‘berburu’ pria asing sehingga mendapat julukan Bule Hunter.

Para wanita yang ceritanya ada di buku tersebut mencari pria asing untuk dijadikan kekasih, suami atau hanya sekadar TTM. Dalam buku Bule Hunter ini terdapat cerita-cerita dari beberapa narasumber yang disamarkan namanya, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan bule, termasuk soal seks dan percintaan.

Ketika disambangi dalam peluncuran bukunya, Elisabeth Oktofani mengaku tujuannya menulis buku ini adalah untuk mengekspos cerita-cerita yang ada di tengah-tengah kehidupan sekitar. “Banyak orang yang tidak melihat bahwa fenomena ini sebenarnya memang ada dan nyata di dalam kehidupan sehari-hari, jadi tidak perlu ditutup-tutupi,” jelasnya ketika diwawancara Wolipop di Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (10/09/2014). Tujuan lain ditulisnya buku ini ialah, ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan dalam menjalani hubungan antar bangsa.

Wanita yang berprofesi sebagai wartawan ini mengaku sebenarnya keinginannya menulis buku sudah sejak lama. Namun karena pencarian narasumber yang cukup sulit, proses penulisan buku memakan waktu kurang lebih dua tahun. Wanita 27 tahun ini sampai menyambangi klub malam untuk mencari narasumbernya.

Peluncuran buku Bule Hunter ini dihadiri oleh aktivis perempuan Myra Diarsih. Myra melihat buku tersebut bisa menjadi pendobrak cara pandang kaum wanita muda yang berani mempertanyakan secara kritis apa yang terjadi di sekitar mereka, serta memaparkan hal-hal yang dianggap kurang layak untuk diperbincangkan serta sebagai pembelajaran yang luar biasa. Buku Bule Hunter dijual seharga Rp 65 ribu.

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh Wolipop pada tanggal 10 Sept.

Wanita Indonesia Bersuami Pria Asing Tak Selalu “Bule Hunter”

Jakarta – Apa yang ada di benak seorang wanita Indonesia ketika memilih pasangan pria asing, baik itu suami atau pacar?

Adalah hak jika seseorang memilih pasangan orang Indonesia asli atau pria asing.

Namun masyarakat umum cenderung menilai bahwa wanita Indonesia yang memilih pasangan bule, demikian mereka biasa disebut, adalahbule hunter, alias wanita pengejar bule.

Hal inilah yang tengah dicoba untuk diluruskan oleh Elizabeth Oktofani. Melalui bukunya, Bule Hunter, wanita ini mencoba menjelaskan kepada masyarakat wanita Indonesia yang memiliki suami atau pacar pria asing bukanlah hal yang salah.

“Selama ini wanita yang memiliki pasangan pria bule sering disebut sebagai bule hunter. Padahalbule hunter memiliki konotasi yang negatif, yang menghakimi si wanita sebagai wanita murahan, cewek matre, yang hanya ingin sekadar seks,” katanya saat meluncurkan bukunya di Jakarta, Rabu (10/9).

Menurutnya, sama dengan wanita Indonesia yang menikahi pria Indonesia, wanita Indonesia yang memilih pasangan pria asing juga memiliki motivasi tertentu untuk mencapai tujuannya.

“Ada yang termotivasi untuk mendapatkan cinta, kebahagiaan, seks dan bahkan uang.”

Memang ada wanita-wanita Indonesia yang mencari sekadar seks dan uang pada pasangan bule-nya, tapi tidak semua. Dan wanita-wanita inilah yang sebenarnya mungkin banyak dinilai sebagai wanita pencari kesenangan belaka.

“Tapi tidak adil rasanya jika digeneralisasi bahwa semua wanita Indonesia yang memiliki pasangan pria asing seperti itu semua,” ujar Fani.

Pada kesempatan yang sama, feminis sekaligus pemerhati isu-isu perempuan, Myra Diarsi menyatakan setuju dengan pendapat Fani. Setiap wanita Indonesia memiliki hak yang sama untuk memilih pasangannya dan mencari kebahagiaan dari pasangannya.

“Banyak wanita yang bersuami pria bule memang jatuh cinta dan ingin menciptakan keluarga yang seutuhnya. Mungkin bedanya hanya pada penampilannya, bahwa bule biasanya berkulit putih, tinggi dan sebagainya. Namun banyak dari mereka yang memang ingin bahagia dengan pasangannya,” ujarnya.

Melalui bukunya, Fani ingin mengedukasi masyarakat bahwa stigma itu tidak bisa diberlakukan pada semua wanita Indonesia yang mencintai pria asing.

Ia berjanji, anggapan miring masyarakat akan terluruskan setelah mereka membaca Bule Hunter. Buku ini tersedia di toko buku-toko buku dengan harga Rp 65.000 per eksemplar.

==@==

Tulisan ini dimuat oleh  Beritasatu.com pada tanggal 10 Sept. 2014

Elisabeth Oktofani: Exploring the world of ‘bule’ hunters

After dating many Caucasian guys, locally known as bule, since she was a teenager, 27-year-old writer Elisabeth Oktofani settled down when she married a Canadian three years ago.
“I had many relationships with bule and reached a point when I couldn’t care less if I dated a bule or not. But then I finally found a peace of mind with my husband, who turned out to be bule,” Fani said.

Her story dated to high school in Yogyakarta, when many of her girlfriends got invitations to connect on Friendster, the once-popular social media outlet, in the early 2000s.

Fani, however, stayed out of the fray. Initially.

“My hair was curly, I had a dark complexion and I had no boyfriend — I felt ugly. But then I got a friend request on Friendster from a bule who then asked to meet me in person,” Fani said. “So I thought if it was difficult to find local boyfriends, I would just try dating bule because they liked girls like me.”

After going out with a lot of Western men, she realized that many would appreciate her more if they could talk about many things with her.

“At first, I didn’t feel much appreciated — maybe because as a teenager, I had a lack of confidence and knowledge,” she said. “That’s why I easily ended up relationship with someone and find another one until I eventually realized that I also needed to be knowledgeable to hang out with them.”

She was often judged by the people around her about her relationships with the Westerners. They told her that she went out with them only because they were rich, and bule liked her because she was ugly.

“That annoyed me, because not all relationships between Indonesian girls and bule are like that. There are other things the society should know behind the relationship between Indonesian woman and bule,” Fani said.

She then decided to make a book which was based on her experience and her friends. The book, Bule Hunter: Kisah Wanita Pemburu Bule (Bule Hunter: Stories of Women who Pursue Westerners), aims to get rid of stigma attached to Indonesian women who date bule only for their money.

“We want to let people know that there are also relationships with bule that are based on love,” she said.

Fani said the idea to make the book popped up in 2007 when she first heard the phrase “bule hunter”.

“It was a funny word I thought. I started to find out more about this, listened to my friends who shared their experiences with bule, then the idea to write a book crossed my mind,” she said.

It was not until 2011 she really started working on it, spending almost two years to do the research for the book.

She interviewed friends, prostitutes and random women in Jakarta and Bali.

“I went to night clubs and hotels to find out about how women made their deals with bule. I also found out that there were many women who married to bule to be able to leave Indonesia or to improve their lives in Indonesia,” she said.

However, she said, after they left many were often surprised to know the fact that their bule partners were not as wealthy as they were in Indonesia.

“Many women that I interviewed also like to hang out with bule because sometimes they are more open-minded than Indonesian guys when it comes to sex and safe sex,” Fani said.

She then went to Bali to focus on finishing the project. By the end of 2013, Fani had completed a book that was blunt and a bit vulgar.

It was not too hard for her to find a publisher. Rejected by one of the nation’s largest publishers, who thought the work too much, Fani offered it to Rene Book, which agreed to print it after some editing.

“The publisher says this 311-page book is different, as it brings out the silent phenomenon in the society as well as becoming the voice of certain groups,” she said.

She added that she already had a plan to make the sequel.

Fani has always been into writing.

She started blogging since high school and her blog received responses from readers in many countries. She studied journalism at Atma Jaya University in Yogyakarta.

She become a freelance writer for a newspaper in Indonesia, took an internship in a lifestyle magazine in Bali, worked for one-and-a-half years for a newspaper in Jakarta, and became a freelance contributor for an American media outlet.

Recalling her life from the past through present day, Fani said she was so proud of being an Indonesian despite the fact that she enjoyed hang out with Westerners.

“We have several values that are always instilled in us, like honoring older people by not calling them only by name and other polite gesture in Indonesian tradition,” Fani said.

Fani is also busy with her current job as an assistant editor and a contributor for a growing media outlet in Jakarta.

“I covered social issues, human rights and also terrorism. And the book’s writing style has been highly influenced by my investigative journalism experience,” Fani said.

Bule Hunter: Kisah Wanita Pemburu Bule (Rene Book, 312 pages, paperback) will be launched at the Reading Room in Kemang, Jakarta, on Wednesday. Visit bulehunter.com for more information.

==@==

This article is published by The Jakarta Post’s newspaper on Sept. 8, 2014