Menur A.S

This book so interesting!I learnt smthing new bout bule&bule hunter(s) life! Seriously book is my fav!- Menur A.S, Jakarta 

 

‘BULE HUNTER’: DON’T JUDGE A BOOK BEFORE YOU ACTUALLY READ IT

‘BULE HUNTER’: DON’T JUDGE A BOOK BEFORE YOU ACTUALLY READ IT by Mahel

First of all, I want to thank some of you who made some hateful comments about my friend Elisabeth Oktofani and her book, Bule Hunter.

No, seriously, thanks for making my friend famous. I mean, hey, if you bother to open your laptop and throw nasty remarks at her on the internet, it means you actually give a damn about it.  And, in addition, you make more people aware about her book.

There’s no such thing as a bad press.

But I think all of you need to take a moment to calm down, take a deep breath and, uh, eat a cookie. Some of those comments I’ve read so far are not only misdirected but also so wrong in so many levels. Clearly some of you haven’t read the book.

Repeat it after me: Calm down. Keep breathing. Eat a cookie.

First, I realize some of the people who give mean comments only judge the book after reading news in a particular online media. Like this one right here And, some of the comments become too personal I can’t even … whatever. I mean, the article only grasp some crumbs of the book but fail big time to take what the book is all about.

I’m not saying you have to read the book. But I think it’s just unfair to judge a book before actually reading it.

Even when Oktofani want to make the record straight by writing a letter to the editors of that online media, this lady right here, said “Oh, she only wrote a letter because she want to be famous.”

Lady, if you have a daughter and some random online media write something that will damage or hurt your daughter’s reputation by spreading news that is untrue, wouldn’t you want to do something about it?  Ugh, seriously, get real. I already did you a favor by link your blog so more people would visit it because I assume you’d like that. Thank me later.

Oh, and by the way, speaking of wanting to get famous, do you really think tearing other people down on your blog is an elegant way to gain traffic? Shame on you.

Perhaps is a good thing that this online media wrote those outrageous articles because more people are now aware of this book but, seriously people, you can’t judge a book by its cover.

Moreover, you can’t judge a book before you actually read it.

First, some of the people berate the writer for her decision to choose the term “bule hunter” for the book’s title. “Bule” here is an Indonesian slang for Westerners and thus, “bule hunter,” is a derogatory nickname for Indonesian women who prefer Western male as romantic partner.

Look, the term “bule hunter” does exist. The writer did not coin the term but merely use it as the title of her book. Sadly, this term is sometimes also applied to ANY woman who ends up with a bule as a husband. What about those women who never intentionally search for a bule as their partner but end up with one anyway?

Google “self-deprecating humor,” people. Educate yourself.

Yes, netizens, Oktofani also write about those women in her book.  Real women, by the way. This book is not a work of fiction. This is not (I repeat: NOT) a novel. It’s a true story. Even though the tone of the book is casual, Oktofani gathered her facts just like how a journalist should. And journalist is, in fact, she is.

In Oktofani’s book, these real Indonesian women (granted, they didn’t reveal their true identity to protect their privacy) just want to give their side of the story.

No, Oktofani does not judge anyone here. I have it on good authority that a certain Facebook group, which consist of Indonesian women with foreigners as partners, bullies her. No, ladies, seriously. She’s actually on your side. Yes, she choose the title “Bule Hunter” to catch readers’ eyes (and, admit it, she succeeded), but this book is more than that.

I mean, come on, what she must do then? Make her book title “I AM NOT BULE HUNTER EVEN THOUGH MY LOVER IS A WHITE GUY SO DON’T JUDGE ME PLEASE”? She can’t do that, can she? Too long. And, let’s be honest, not catchy at all.

Some of the ladies in this book got story to tell. Yes, they are no saints. But these stories are real?

What about Nurmali? Who lost her husband and couldn’t find a proper job because she did not go to college (heck, she only attended elementary school)? If she want to sell her body so she can feed her children I say “you go, girl!” I mean, it’s her body. Unless you volunteer to pay her bills stop berating her choices.

In the book, Nurmali said she did not want to marry a bule. Yet she admit that her bule customers are more decent in terms of politeness, show her respect as a human being and, most of all, agrees to wear a condom when she ask. In other words, according to her, bule men are not hypocrites. And they give a damn about safe sex.

And what about Jovita? Who regret her choice to marry an older, white guy because not only he abuse her, he (almost, thank God) contracted her with HIV?

This book is more than just some women finding happy endings after marrying their husband. No, this is not “Pretty Woman.” Some of the women here actually struggle during their relationships with bule.

Stereotypical? Well, maybe some of the women are. But not all of them. And these are real accounts. This is not a novel (if any of you still refer this book as a novel I will slap your face with this book, I swear to God).

What Fani did was giving these ladies some chance to speak up.

If you don’t want to have a bule for a husband, by all means, don’t. Fani never (I repeat: NEVER) said in her book “You should go out and bang the first white guy you see.” If you think like that, all I can say is you misjudge the book. And I pity you.

==@==

PS: This article is written and published by Mahel on his blog on Sept. 12, 2014

Ketika Buku ‘Bule Hunter’ Dicap Vulgar dan Dodol

Tadi malam saya tercengang mendapatkan sebuah email dengan link tentang sebuah blog di kompasiana yang berjudul Buku Dodol dan Vulgar: Salah Kaprah atas Bule dan Lelaki Indonesia.  Wow! Jujur saja, itu  membuat saya sangat resah dan geli. “Budhe… budhe ….yang salah kaprah itu siapa?” tanya saya pada diri saya sendiri. Baca bukunya saja belum tetapi sudah sesumbar.

Hal tersebut membuat saya ingin bertanya pada teman-teman sekalian…

1. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang perempuan muda yang mereka bercerita baru saja melakukan hubungan badan org yang mereka sukai unt pertama kalinya?

2. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang kawan yang mendapari dirinya terkena penyakit menular seks seperti hepatitis B, syphilis atau bahkan HIV/AIDS?

3. Apakah anda pernah mendapati seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan rumah tangga atau dalam pacaran?

4. Apakah anda pernah didatangi oleh perempuan-perempuan muda (18-23) yang bercerita betapa ingin mereka mendapatkan jodoh bule karena KEREN titik, tidak ada alasan lainnya?

5. Apakah anda pernah duduk di sebuah taxi dengan pasangan orang Barat alias bule lalu si supir taxi bertanyaWah neng… burungnya pasti besar!“? atau “Wah neng… nikah sama bule pasti cepet kaya ya?

6. Apakah anda pernah duduk dengan seorang pekerja seks komersil yang bekerja untuk menghidupi anaknya karena dia ditolak bekerja formal karena punya penyakit pneumonia?

7. Atau anda pernah mendapati ungkapan, eh kok bule maunya sama yang tampamg babu sih?

Saya sendiri pernah mendapati semuanya itu.

Ketika perempuan-perempuan muda bercerita betapa bahagianya mereka baru saja melakukan hubungan badan dengan orang yang mereka kagumi/cintai, tanpa mau menghakimi atas nama budaya dan norma, saya hanya bilang “Berhati-hatilah! Jangan lupa pakai kondom. Siapa tahu, kamu bukan satu-satunya pasangan! Banyak predator seks di luar sana yang tidak bertanggung jawab dan kemudian membawa penyakit pada diri kamu,”

Lalu ketika seseorang mendapati diri mereka terinfeksi sexual transmitted disease seperti hepatitis B, HIV/AIDS, syphilis atau gonoreha …. tentu saya tidak akan menjauhi mereka, saya akan memberikan ruang dan waktu sebisa saya untuk membantu mereka even it is just a moral support! Saya banyak menemui kasus ini sampai kadang saya hanya berdiam diri dan mendengarkan saja karena yang mereka butuhkan telinga untuk mendengarkan bukan judgment kenapa mereka sampai seperti itu.

Belum lagi, saya sering mendapati cerita perempuan-perempuan muda yang bercerita bahwa pacar/suami mereka (yang notabene bule) sangat abusive baik psychically or emotionally hanya karena mereka adalah tuan-tuan berduit sehingga mereka merasa bisa melakukan kekerasan terhadap pasangan mereka yang notabene orang Indonesia yg dianggapnya bakal mau diabuse hanya karena uang. Sayangnya mereka terlalu takut untuk ke polisi atau bercerita pada keluarga. Yang ada mereka lari pada kawan.

Lalu…. bukan hanya lima atau sepuluh kali saya sering mendapati perempuan-perempuan muda berbagi dengan saya bahwa mereka pengen sekali punya jodoh bule dengan satu alasan KEREN titik. Tidak ada alasan lain. Bagi saya, alasan itu sebenarnya tidak cukup kuat. Bule atau bukan, mereka semua adalah laki-laki dan manusia dengan sifatnya dan latar belakang masing-masing. Bisa dibilang, bule itu cuma ‘chasingnya’ doang!

Nah kalau sudah begitu…. anda mau bilang apa? Apa anda mau melarang? Ya enggak kan….? Setiap orang punya mimpi dan cita-cita masing-masing. Ada yang mimpinya tentang jodoh mereka seperti apa, pekerjaan mereka seperti apa dan lain sebagainya. Kalau pun ada yang bilang jodoh di tangan Tuhan ya, ya monggo. Saya enggak bisa menggunakan religious approach untuk menanggapi curhatan kawan-kawan tersebut.

Yang paling parah adalah saya sering mendapatkan pertanyaan tentang hal-hal ‘nyleneh’ ketika saya jalan dengan kawan pria bule saya. Mereka bertanya apakah dia burungnya besar, pasti bule kaya. Waduh….saya sudah jengah dengan hal-hal ini.

Terus, apakah seseorang yang pergi ke club malam, cafe atau pekerja seks komersil adalah bukan perempuan baik-baik? Apa artinya perempuan yang ingin melepaskan lelahnya atau give themselves an award by going to cafe or bar or night club after long week of working kemudian berarti mereka bukan perempuan baik-baik? Baik-baik menurut apa dan siapa? Apa standardnya? Bisa tolong dijelaskan?

Lalu ketika orang-orang mengatakan bahwa perempuan yang jalan dengan bule adalah perempuan bertampang babu, tentu tidak semuanya; hanya karena kulit mereka hitam dan krempeng tidak seperti perempuan yang ada di billboard iklan shampoo di sepanjang jalan atau perempuan ideal di dalam televisi Indonesia dengan standar putih, kulit putih dan rambut hitam panjang. Bagi saya, saya ingin bertanya apakah sih artinya cantik? Apa sih artinya tampang babu. Kecantikan/keindahan itu relatif, tergantung pada orang yang melihat bukan.

Sayangnya masyarakat kita suka dengan mudah menghakimi dan tak jarang yang dihakimi pun hanya diam saja. Saya jengah! Saya gerah!  Saya ingin berbagi pada orang lain bahwa there’s another part of life yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang mungkin tidak kita pahami tapi kita terlalu mudah menghakimi. Bahkan antar sesama orang Indonesia sendiri.

Jujur saja ini merupakan suatu kegelisahan saya, kenapa saya menulis buku yang cukup kontroversial dan kemudian diputarbalikkan sehingga keren. Tujuan saya bukan bisnis tapi mengajak orang yang merefleksikan kembali.

Saat The Magdalene mengulas tentang Bule Hunter: Money, Sex and Love dengan judul artikel What “Bule Hunter” Wants, saya merasa pesan saya tersampaikan. Lalu pada hari Minggu, 7 September melalui Indonesia Now, Metro TV kembali mengulas buku Bule Hunter: Money, Sex and Love, lagi-lagi saya senang bahwa pesan saya tersampaikan. Dan tanggal 8 September lalu, The Jakarta Post kembali memuat artikel tentang saya sebagai penulis buku Bule:Hunter, Money, Sex and Love dan lagi-lagi pesan saya tersampaikan.

Namun pada tanggal 9 September lalu, salah satu media online ternama di Indonesia menuliskan sembilan berita yang misleading membuat saya, dibully dan dicaci seolah saya pendosa besar. Untung saja, Beritasatu kembali menyampaikan pesan dibalik buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Begitu juga dengan artikel di vemale.com; Wolipop dan juga suara.com.

Ya begitulah tak kenal maka tak sayang, sudah anti duluan. Lebih parahnya lagi referensi berita yang misleading dijadikan patokan untuk menulis blog menyerang saya. Oh well… I’m only human who wants to make a small contribution to the Indonesian women especially to them who are in relationship with westerner but often being UNFAIRLY JUDGED by the society! If you thought that I would be perfect, I apologise for being human! I am far from the definition of perfection!

-Oktofani-

Elisabeth Oktofani, Tulis Kisah Wanita Indonesia Dengan Judul ‘Bule Hunter’

Vemale.com – Ketertarikan wanita Indonesia pada pria bule memang kerap banyak terjadi di lingkungan sekitar. Bahkan mimpi memiliki suami bule dianggap bisa memperbaiki keturunan. Dan mimpi-mimpi indah untuk mendapatkan pasangan beda negara ini dirangkum secara gamblang oleh penulisnya.

Elisabeth Oktofani, merupakan penulis buku Bule Hunter yang kisahnya terjadi secara nyata di lingkungannya. Sejak kuliah, Fani panggilan akrabnya, memang sudah berkeinginan membuat buku karena ia mempunyai hobi menulis dan membaca. Berprofesi menjadi seorang wartawan, Fani menyalurkan hobi menulisnya ke dalam blog pribadi miliknya, yang pada akhirnya menimbulkan keinginan untuk membuat karya tulisan terwujud tepat di usianya di 27 tahun tahun ini.

“Awalnya ingin banget menulis waktu kuliah, kerja dan sekarang akhirnya menulis buku ini. Kenapa? Karena ada kegelisahan, adanya steriotipe terhadap perempuan yang menjalani hubungan antar bangsa sehingga dicap sebagai bule hunter,” ucap Fani saat ditemui tim Vemale pada peluncuran buku perdananya di Reading Room Kemang Timur Jakarta Selatan Rabu 10 September 2014 lalu.

Tidak gampang menulis buku ini, ia pun mengaku bahwa sempat terjadi pro dan kontra setelah membaca Bule Hunter miliknya. Tetapi karena alasan itulah yang membuat Fani mengurungkan niat menerbitkan tulisannya di publik.

Fani pun mengakui bahwa setiap narasumber yang ia jadikan kisah adalah orang-orang yang ia kenal tetapi tidak ia sebutkan nama asli di dalam bukunya, karena itu permintaan dari narasumber.

Tak hanya itu saja, wanita bertubuh mungil ini dengan keberaniannya, sampai pernah menyambangi klub malam untuk mencari narasumbernya agar keakuratan bukunya benar-benar terpercaya.

“Jadi, buku ini setiap bab-nya mempunyai narasumber yang berbeda-beda. Narasumbernya pun dari 15 menjadi 11, tak cuma di Jakarta saja, tetapi di Bali, Jogja sama di Salatiga juga,” jelas Fani.

Baginya, dengan menulis kisah seperti ini, bisa mewakili perasaan semua wanita yang mendapat julukan Bule Hunter karena lelah dinilai jelek. Oleh karena itu, buku ini memberikan media bagi mereka untuk menyuarakan kehidupan yang sesungguhnya. Akan tetapi Fani pun tidak melarang perempuan Indonesia untuk mencari pasangan bule.

“Buat perempuan-perempuan Indonesia yang ingin menikah dengan bule, buat masyarakat yang selalu mengecap perempuan Indonesia yang berpasangan dengan bule negatif, silahkan baca buku saya Bule Hunter,” tuturnya dengan memberi harapan.

Nah Ladies, daripada Anda semakin penasaran dengan kisahnya, ayo beli saja langsung bukunya atau bisa lihat teasernya di http://www.bulehunter.com. Selamat membaca!

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh vemale.com pada tanggal 11 Sept. 2014

Hartoyo

Kemarin (10/9/14), saya diminta untuk memoderatori peluncuran buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” karya Elisabeth Oktofani dengan nara sumber  Myra Diarsi, aktivis perempuan dan juga dihadiri oleh ebbrapa peserta yang juga melakukan pernikahan campur antar bangsa di Reading Room, Kemang Jakarta Selatan.

Buku ini jika dilihat dari judul dan komentar-komentar dari Facebook atau berita di media banyak dapat kritik dari publik, terutama dari orang-orang bule itu sendiri maupun beberpa perempuan yang kebetulan menikah dengan bule.

Buku ini mengungkapkan kegelisahan2 atau “kemarahan” penulis atas pola ketidakadilan yang berkaitan dengan persoalan: 1. Relasi antara perempuan dan laki-laki dlam segala hal, 2. Relasi antara negara yg dianggap maju/beradab (barat), dalam hal ini laki-laki bule dengan negara2 timur/dunia ketiga/asia dlam hal ini perempuan Indonesia.

Walau penulis kurang membongkar atau menguliti secara detail pola-pola ketimpangan itu (katanya akan ada buku selanjutnya membongkar lebih dalam), tetapi penulis berhasil, minimal membuat saya memahami bahwa ini ada persoalan ketimpangan gender dalam perkawinan antar bangsa yg semakin rumit.

Sepertinya buku ini kalau diulas menggunakan buku Orientalis karya Edward Said dan buku The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karya Samuel P. Huntington akan dapat inti persoalannya, tentunya menggunakan pisau analisis gender. – Hartoyo, General Secretary of Our Voice Indonesia

Catatan: tulisan ini diambil dari Facebook mas Hartoyo dengan ijin beliau

Wanita Indonesia Bersuami Pria Asing Tak Selalu “Bule Hunter”

Jakarta – Apa yang ada di benak seorang wanita Indonesia ketika memilih pasangan pria asing, baik itu suami atau pacar?

Adalah hak jika seseorang memilih pasangan orang Indonesia asli atau pria asing.

Namun masyarakat umum cenderung menilai bahwa wanita Indonesia yang memilih pasangan bule, demikian mereka biasa disebut, adalahbule hunter, alias wanita pengejar bule.

Hal inilah yang tengah dicoba untuk diluruskan oleh Elizabeth Oktofani. Melalui bukunya, Bule Hunter, wanita ini mencoba menjelaskan kepada masyarakat wanita Indonesia yang memiliki suami atau pacar pria asing bukanlah hal yang salah.

“Selama ini wanita yang memiliki pasangan pria bule sering disebut sebagai bule hunter. Padahalbule hunter memiliki konotasi yang negatif, yang menghakimi si wanita sebagai wanita murahan, cewek matre, yang hanya ingin sekadar seks,” katanya saat meluncurkan bukunya di Jakarta, Rabu (10/9).

Menurutnya, sama dengan wanita Indonesia yang menikahi pria Indonesia, wanita Indonesia yang memilih pasangan pria asing juga memiliki motivasi tertentu untuk mencapai tujuannya.

“Ada yang termotivasi untuk mendapatkan cinta, kebahagiaan, seks dan bahkan uang.”

Memang ada wanita-wanita Indonesia yang mencari sekadar seks dan uang pada pasangan bule-nya, tapi tidak semua. Dan wanita-wanita inilah yang sebenarnya mungkin banyak dinilai sebagai wanita pencari kesenangan belaka.

“Tapi tidak adil rasanya jika digeneralisasi bahwa semua wanita Indonesia yang memiliki pasangan pria asing seperti itu semua,” ujar Fani.

Pada kesempatan yang sama, feminis sekaligus pemerhati isu-isu perempuan, Myra Diarsi menyatakan setuju dengan pendapat Fani. Setiap wanita Indonesia memiliki hak yang sama untuk memilih pasangannya dan mencari kebahagiaan dari pasangannya.

“Banyak wanita yang bersuami pria bule memang jatuh cinta dan ingin menciptakan keluarga yang seutuhnya. Mungkin bedanya hanya pada penampilannya, bahwa bule biasanya berkulit putih, tinggi dan sebagainya. Namun banyak dari mereka yang memang ingin bahagia dengan pasangannya,” ujarnya.

Melalui bukunya, Fani ingin mengedukasi masyarakat bahwa stigma itu tidak bisa diberlakukan pada semua wanita Indonesia yang mencintai pria asing.

Ia berjanji, anggapan miring masyarakat akan terluruskan setelah mereka membaca Bule Hunter. Buku ini tersedia di toko buku-toko buku dengan harga Rp 65.000 per eksemplar.

==@==

Tulisan ini dimuat oleh  Beritasatu.com pada tanggal 10 Sept. 2014

Tanggapan Penulis Buku “Bule Hunter” atas Artikel di merdeka.com

Merdeka.com – Pada hari Senin (8/9/2014), Bp. Ramadhian mengajukan permohonan wawancara dengan saya, Oktofani Elisabeth, selaku penulis buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Dalam pembicaraan melalui telepon, saya menyetujui permohonan wawancara berkaitan dengan profiling saya sebagai penulis buku Bule Hunter:Money, Sex and Love. Senin sore, saya bertemu dengan dua reporter merdeka.com di bilangan Senayan untuk melakukan wawancara.

Setelah membaca pemberitaan di merdeka.com, saya merasa kecewa karena terdapat banyak kesalahan. Tidak semua tentunya pemberitaan tersebut salah menggambarkan Bule Hunter: Money, Sex and Love. Namun ada beberapa artikel 1. Ini yang Disuka Wanita Lokal Saat Ngeseks; 2. Cerita Bule Hunter Banting Harga Demi Gaet Si Om Blonde Pelit; 3. Gosip Ala ‘Bule Hunter’ dari Urusan Ranjang Sampai Sex Toys dan juga Di Mata Pria Bule, 4. Wanita Berbokong Sekel Lebih Seksi yang menurut saya salah menangkap maksud buku saya Bule Hunter: Money, Sex and Love.

Contohnya penggunaan terminologi ‘Bule Hunter’ di artikel berjudul ‘Cerita Bule Hunter Banting Harga Demi Gaet Si Om Blonde Pelit‘. Saya sudah dengan sangat hati-hati menyebut perempuan-perempuan yang memang pekerja seks di buku saya sebut sebagai pekerja seks komersial namun justru dalam pemberitaan tersebut terminologi Bule Hunter digunakan untuk menggambarkan sebagai sebuah profesi pekerja seks komersial.

Padahal buku tersebut justru saya ini ingin menantang penggunaan terminologi “Bule Hunter”. Bahwa apakah semua orang yang dipanggil “Bule Hunter” itu betul masuk ke definisi “Bule Hunter” yang dianggap negatif seperti pekerja seks atau perempuan murahan. Justru sebaliknya itu tidak benar karena pengalaman wanita-wanita di buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Buku saya ini ingin mendobrak stereotype tersebut.

Kalaupun ketika menulis buku ini terungkap pendapat-pendapat individu termasuk pendapat-pendapat saya seperti terkait ukuran, itu pendapat pribadi yang tidak mencerminkan fakta ilmiah di lapangan.

Justru maksud buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” adalah membuka pendapat-pendapat itu sehingga kita bisa bicara lebih lantang lagi terkait dengan hal-hal yang dianggap taboo tapi sesungguhnya sangat esensial atau merupakan bagian dari benang-benang yang mengikat bangsa kita saat ini, yakni tentang hubungan antar budaya dan ras. Hal-hal inilah yang ingin saya bawa ke permukaan dengan maksud membuka wacana.

“Ini lho ada perempuan-perempuan yang berhubungan dengan laki-laki kaukasoid atau bule dan selama ini perempuan-perempuan ini diberi label bule hunter yang mana selama ini berkonotasi negatif.”

Melalui buku Bule Hunter: Money, Sex and Love, saya ingin mendobrak terminologi dengan membuka lapisan bawangnya dengan wawancara dengan perempuan-perempuan yang kerap dianggap Bule Hunter, termasuk saya sendiri.

Jadi tidak tepat pada artikel 1. Ini yang Disuka Wanita Lokal Saat Ngeseks; 2. Cerita Bule Hunter Banting Harga Demi Gaet Si Om Blonde Pelit; 3. Gosip Ala ‘Bule Hunter; dari Urusan Ranjang Sampai Sex Toys dan juga Di Mata Pria Bule, 4. Wanita Berbokong Sekel Lebih Seksi membuat seakan-akan ingin mengeneralisi perempuan-perempuan ini dianggap Bule Hunter. Justru salah!

Perempuan-perempuan ini dianggap Bule Hunter dan saya ingin menantang penggunaan stereotype tersebut. Warna-warna apa saja sih yang ada? Ya silahkan anda membaca dan membeli buku saya sehingga anda bisa tahu. Finally, this book is about Indonesian women, who have been judged unfairly to be Bule Hunter just because being with Caucasian Man.

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh merdeka.com pada tanggal 9 September 2014