Jessica Huwae

Bule Hunter, judul provokatif yang akan membuat siapa saja mengernyitkan kening, menebak-nebak isi buku ini.

Alasan dan latar belakang dari banyaknya perempuan Indonesia yang rajin “berburu” pasangan ekspatriat rupanya menjadi inspirasi bagi Elisabeth Oktofani untuk mengangkatnya ke dalam debut karyanya ini.  Dengan berbekal pengalaman sebagai jurnalis, Oktofani mengangkat kisah jatuh-bangun para perempuan tersebut–dengan motivasi mereka yang beragam–untuk mendapatkan pasangan bule idaman.

Tidak selalu manis memang, ada yang merasa direndahkan, merasa dimanfaatkan, merasa terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan–walau tidak sedikit juga dari perempuan pemburu yang akhirnya memiliki akhir cerita yang menyenangkan alias happy ending.”

Dengan riset dan observasi yang mendalam, Cetta berhasil meramu kumpulan cerita yang eye opening, tidak berjarak, membangkitkan simpati serta menahan kita untuk tidak segera menghakimi karena  pada akhirnya, terlepas dari apapun warna kulit, kebangsaan dan tebal kantong seseorang, yang ia ingini pada dasarnya sungguhlah sederhana: to love and be loved in return.” – Jessica Huwae, Penulis/Founder Dailysylvia.Com

==@==

Jessica Huwae adalah  penulis dan founder DailySylvia.com. Salah satu karya ciamik dari Mbak Jessica ini  adalah “Galila” yang juga sudah beredar di toko-toko buku terdekat. Sila follow @jessicahuwae di Twitter buat yang ingin kenal lebih lanjut, yah. Thanks banget ya, Mbak. Love you so much!

Advertisements

Disparitas Gaji Karyawan Asing dan Lokal di Indonesia

…… Dirjen PAUD Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) Lydia Freyani mengungkapkan, tenaga pendidik asing menerima upah mulai di atas Rp 50 juta hingga di atas Rp 100 juta. Sementara itu, tenaga pengajar asal Indonesia menerima upah hanya sekitar Rp 2 juta hingga Rp 15 juta per bulan…. (Sumber: Kompas )

Guru Asing di JIS Terima Gaji Hingga Rp 100 Juta per Bulan – Kompas.com

Casual Sex Relationship… Don’t Forget LATEX!

Anyway, satu yang harus diketahui dan dipahami betul oleh orang-orang yang menjalin casual sex relationship ini adalah ‘aturan main’. Jangan sampai kita kebablasan dan menghancurkan diri kita sendiri.

Mimpi buruk yang paling mengerikan dalam casual sex relationship dengan banyak partner sebenarnya bukanlah kehamilan, melainkan penyakit menular seksual seperti hepatitis B, hepatitis C, herpes, syphilis, gonorrhea atau HIV/AIDS.

Penting kiranya kita menggunakan kondom serta me- lakukan tes kesehatan (HIV/AIDS dan STD) secara rutin dan teratur. Mungkin kita hanya memiliki satu orang sex partner saja, tapi bagaimana dengan dia? Apakah sudah pasti dia bermain safe di luar sana? Belum tentu!

Oleh karena itu, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Apalagi kebanyakan penyakit ini enggak bisa dilihat dengan mata telanjang.

-Oktofani-

Yakin Nikah Sama Bule Enak?

“Mereka bilang enak ya nikah sama bule, bisa jalan-jalan, belanja-belanja dan duitnya banyak. Tapi apakah semuanya itu memberikan kebahagian? Enggak! Buktinya saya enggak bahagia. Belum lagi dengan cap sebagai bule hunter.” Imelda Luluah 

Kemewahan belum tentu memberikan kebahagiaan. Cross-cultural relationship kerap dipandang menguntungkan perempuan Indonesia sehingga mereka bisa hidup nyaman secara material.  Namun, bagaimana dengan kehidupan batiniah mereka?

-oktofani-

A Huge Market for Asian Girls in Europe

Suatu pagi saya berbicara dengan mantan saya orang Jerman, Martin melalui WhatsApp. Well, he was not my real boyfriend but he  was my cyber ex-boyfriend back in 2005. Anyway, Martin menawari sebuah bisnis yang membuat saya sedikit tercengang ketika membaca pesannya di balik layar iPhone putih di genggaman tangan saya, it’s a human trafficking business.

Well… let me tell you something. You might find it interesting for your source of income. There is a huge market in Europe for Asian girls,” kata Martin

Saya termenung membaca kalimat Martin di balik layar iPhone putih di genggaman tangan saya. Saya bingung, antara paham dan tidak paham dengan apa yang baru saja dia katakan melalui pesan terakhirnya tersebut.

“Apakah kamu menikah dengan Henry karena uang? Kamu dulu lady escort, ya?” kata Martin sebelum saya sempat membalas kalimat sebelumnya.

Saya semakin bingung dibuatnya. Saya lalu tertawa terbahak-bahak. Jadi mantan pacar saya selama ini  berpikir bahwa saya cewek bayaran? Luar biasa! Sekali bajingan tetap saja dia bajingan. Enggak jauh berbeda dengan mereka yang bermental tempe! Dia selalu ber-negative thinking tentang saya. Jadi, Martin berpikir bahwa saya menikah dengan Henry karena uang dan pertemuan kami terjadi dalam sebuah transaksi prostitusi. Begitu? Lagipula kalau uang adalah motivasi saya untuk menikah, tentu saja saya enggak akan menikah dengan Henry. Punya apa dia? Pikir saya. Saya belum sempat membalas pesan Martin untuk kesekian kalinya.

“Cetta… are you there?”

“Ya! Well… let me tell you something that you did not know, my brother. Saya bertemu dengan Henry setelah saya putus dengan kamu. I was on my search to mend my broken heart. He promised me something, he kept his promises, he loves me and overall he is a good guy. He just does not know how to express his feeling to me. And keep in mind that I was never, not even once a prostitute! I know my value!” tutur saya panjang lebar melalui WhatsApp.

“Okay… I am sorry to think that way. So how do you manage your lavish lifestyle by getting a lot of Louboutin heels, Gucci handbag and other expensive shit?” tanyanya penasaran.

Saya hanya tersenyum membaca pesannya tersebut, meremehkan saya sekali dia, pikir saya tanpa membalas pesannya pagi itu.

-Oktofani-

Katanya Cowok Bule Lebih Pintar dan Open-Minded

Bicara soal cinta, banyak kawan saya yang mengatakan bahwa salah satu alasan mereka memilih bule ketimbang laki-laki Indonesia karena mbak bule hunter merasa bahwa mas bule cenderung open-minded, pandai dan berwawasan luas. Namun, pertanyaan saya adalah apakah yang dimaksud dengan open-minded tersebut? Apa yang membuat mas bule lebih pandai ketimbang pria-pria dari ras lain?

Well… ngomong-ngomong masalah open-minded, apa sih yang sebenernya diharapkan oleh mbak bule hunter tipe ini? Jawabannya sederhana saja! Mbak bule hunter tipe ini ingin mengekspresikan diri tanpa dibatasi dengan norma sosial, aturan agama atau adat istiadat yang berlaku di tengah masyarakat Indonesia.

Tipe mbak bule hunter ini biasanya adalah tipe perempuan Indonesia modern yang mengenyam bangku pendidikan yang cukup berkualitas dan memiliki akses terhadap informasi yang luas.

Sebagaimana kita semua tahu bahwa banyaknya suku bangsa yang tersebar di Indonesia mengakibatkan negara kita kaya akan budaya. Di mana meskipun di tengah deras arus modernisasi dan globalisasi yang masuk ke Indonesia, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai budaya bangsa yang dimiliki termasuk norma sosial dan aturan agama.

Perempuan Indonesia yang merokok, minum alkohol atau kerap pulang malam kerap dicap sebagai ‘perempuan nakal’. Atau perempuan yang menggunakan baju seksi adalah ‘perempuan murahan’. Atau perempuan yang gonta-ganti pacar adalah ‘perempuan gampangan’. Dan sebagainya… dan sebagainya…

Banyak sekali norma sosial yang udah enggak lagi ideal dengan perkembangan zaman sehingga membuat banyak perempuan enggak bisa mengekspresikan diri mereka. Sehingga, banyak perempuan Indonesia modern yang akhirnya memilih laki-laki bule karena mereka enggak terlalu terikat oleh norma-norma sosial yang berlaku. Meskipun harus saya akui bahwa sebenernya enggak semua laki-laki Indonesia akan berpikir negatif terhadap perempuan Indonesia modern tersebut.

Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah semua bule open-minded? Atau bule open-minded seperti apa yang ingin mbak bule hunter temui? Jawabannya sederhana, mas bule yang dapat memberikan respect and honesty.

Oh iya…. selain open-minded, mbak bule hunter tipe ini pun memilih laki-laki bule karena mereka menganggap laki-laki bule pandai dan berpengetahuan luas. Sehingga selain mbak bule hunter ini bisa mengekspresikan diri sepenuhnya sebagai perempuan, mereka pun bisa diajak diskusi tentang isu-isu yang hangat dibicarakan oleh media.

Well… sebenernya jika masalah lebih pandai dan berpengetahuan luas, sebenernya banyak juga kok laki-laki Indonesia yang pandai dan berpengetahuan luas. Apalagi di era globalisasi seperti saat ini di mana sebagian besar orang memiliki akses pada teknologi informasi dan pendidikan yang lebih berkualitas, termasuk laki-laki Indonesia.

Namun, karena orang Indonesia sudah terlalu jauh dan terbiasa mengagung-agungkan bule maka bule kerap tampaknya lebih pandai dan berpengetahuan lebih daripada orang Indonesia. Padahal, belum tentu semua bule itu jenius dan berpengetahuan luas.

-Oktofani-