‘BULE HUNTER’: DON’T JUDGE A BOOK BEFORE YOU ACTUALLY READ IT

‘BULE HUNTER’: DON’T JUDGE A BOOK BEFORE YOU ACTUALLY READ IT by Mahel

First of all, I want to thank some of you who made some hateful comments about my friend Elisabeth Oktofani and her book, Bule Hunter.

No, seriously, thanks for making my friend famous. I mean, hey, if you bother to open your laptop and throw nasty remarks at her on the internet, it means you actually give a damn about it.  And, in addition, you make more people aware about her book.

There’s no such thing as a bad press.

But I think all of you need to take a moment to calm down, take a deep breath and, uh, eat a cookie. Some of those comments I’ve read so far are not only misdirected but also so wrong in so many levels. Clearly some of you haven’t read the book.

Repeat it after me: Calm down. Keep breathing. Eat a cookie.

First, I realize some of the people who give mean comments only judge the book after reading news in a particular online media. Like this one right here And, some of the comments become too personal I can’t even … whatever. I mean, the article only grasp some crumbs of the book but fail big time to take what the book is all about.

I’m not saying you have to read the book. But I think it’s just unfair to judge a book before actually reading it.

Even when Oktofani want to make the record straight by writing a letter to the editors of that online media, this lady right here, said “Oh, she only wrote a letter because she want to be famous.”

Lady, if you have a daughter and some random online media write something that will damage or hurt your daughter’s reputation by spreading news that is untrue, wouldn’t you want to do something about it?  Ugh, seriously, get real. I already did you a favor by link your blog so more people would visit it because I assume you’d like that. Thank me later.

Oh, and by the way, speaking of wanting to get famous, do you really think tearing other people down on your blog is an elegant way to gain traffic? Shame on you.

Perhaps is a good thing that this online media wrote those outrageous articles because more people are now aware of this book but, seriously people, you can’t judge a book by its cover.

Moreover, you can’t judge a book before you actually read it.

First, some of the people berate the writer for her decision to choose the term “bule hunter” for the book’s title. “Bule” here is an Indonesian slang for Westerners and thus, “bule hunter,” is a derogatory nickname for Indonesian women who prefer Western male as romantic partner.

Look, the term “bule hunter” does exist. The writer did not coin the term but merely use it as the title of her book. Sadly, this term is sometimes also applied to ANY woman who ends up with a bule as a husband. What about those women who never intentionally search for a bule as their partner but end up with one anyway?

Google “self-deprecating humor,” people. Educate yourself.

Yes, netizens, Oktofani also write about those women in her book.  Real women, by the way. This book is not a work of fiction. This is not (I repeat: NOT) a novel. It’s a true story. Even though the tone of the book is casual, Oktofani gathered her facts just like how a journalist should. And journalist is, in fact, she is.

In Oktofani’s book, these real Indonesian women (granted, they didn’t reveal their true identity to protect their privacy) just want to give their side of the story.

No, Oktofani does not judge anyone here. I have it on good authority that a certain Facebook group, which consist of Indonesian women with foreigners as partners, bullies her. No, ladies, seriously. She’s actually on your side. Yes, she choose the title “Bule Hunter” to catch readers’ eyes (and, admit it, she succeeded), but this book is more than that.

I mean, come on, what she must do then? Make her book title “I AM NOT BULE HUNTER EVEN THOUGH MY LOVER IS A WHITE GUY SO DON’T JUDGE ME PLEASE”? She can’t do that, can she? Too long. And, let’s be honest, not catchy at all.

Some of the ladies in this book got story to tell. Yes, they are no saints. But these stories are real?

What about Nurmali? Who lost her husband and couldn’t find a proper job because she did not go to college (heck, she only attended elementary school)? If she want to sell her body so she can feed her children I say “you go, girl!” I mean, it’s her body. Unless you volunteer to pay her bills stop berating her choices.

In the book, Nurmali said she did not want to marry a bule. Yet she admit that her bule customers are more decent in terms of politeness, show her respect as a human being and, most of all, agrees to wear a condom when she ask. In other words, according to her, bule men are not hypocrites. And they give a damn about safe sex.

And what about Jovita? Who regret her choice to marry an older, white guy because not only he abuse her, he (almost, thank God) contracted her with HIV?

This book is more than just some women finding happy endings after marrying their husband. No, this is not “Pretty Woman.” Some of the women here actually struggle during their relationships with bule.

Stereotypical? Well, maybe some of the women are. But not all of them. And these are real accounts. This is not a novel (if any of you still refer this book as a novel I will slap your face with this book, I swear to God).

What Fani did was giving these ladies some chance to speak up.

If you don’t want to have a bule for a husband, by all means, don’t. Fani never (I repeat: NEVER) said in her book “You should go out and bang the first white guy you see.” If you think like that, all I can say is you misjudge the book. And I pity you.

==@==

PS: This article is written and published by Mahel on his blog on Sept. 12, 2014

Advertisements

Ketika Buku ‘Bule Hunter’ Dicap Vulgar dan Dodol

Tadi malam saya tercengang mendapatkan sebuah email dengan link tentang sebuah blog di kompasiana yang berjudul Buku Dodol dan Vulgar: Salah Kaprah atas Bule dan Lelaki Indonesia.  Wow! Jujur saja, itu  membuat saya sangat resah dan geli. “Budhe… budhe ….yang salah kaprah itu siapa?” tanya saya pada diri saya sendiri. Baca bukunya saja belum tetapi sudah sesumbar.

Hal tersebut membuat saya ingin bertanya pada teman-teman sekalian…

1. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang perempuan muda yang mereka bercerita baru saja melakukan hubungan badan org yang mereka sukai unt pertama kalinya?

2. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang kawan yang mendapari dirinya terkena penyakit menular seks seperti hepatitis B, syphilis atau bahkan HIV/AIDS?

3. Apakah anda pernah mendapati seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan rumah tangga atau dalam pacaran?

4. Apakah anda pernah didatangi oleh perempuan-perempuan muda (18-23) yang bercerita betapa ingin mereka mendapatkan jodoh bule karena KEREN titik, tidak ada alasan lainnya?

5. Apakah anda pernah duduk di sebuah taxi dengan pasangan orang Barat alias bule lalu si supir taxi bertanyaWah neng… burungnya pasti besar!“? atau “Wah neng… nikah sama bule pasti cepet kaya ya?

6. Apakah anda pernah duduk dengan seorang pekerja seks komersil yang bekerja untuk menghidupi anaknya karena dia ditolak bekerja formal karena punya penyakit pneumonia?

7. Atau anda pernah mendapati ungkapan, eh kok bule maunya sama yang tampamg babu sih?

Saya sendiri pernah mendapati semuanya itu.

Ketika perempuan-perempuan muda bercerita betapa bahagianya mereka baru saja melakukan hubungan badan dengan orang yang mereka kagumi/cintai, tanpa mau menghakimi atas nama budaya dan norma, saya hanya bilang “Berhati-hatilah! Jangan lupa pakai kondom. Siapa tahu, kamu bukan satu-satunya pasangan! Banyak predator seks di luar sana yang tidak bertanggung jawab dan kemudian membawa penyakit pada diri kamu,”

Lalu ketika seseorang mendapati diri mereka terinfeksi sexual transmitted disease seperti hepatitis B, HIV/AIDS, syphilis atau gonoreha …. tentu saya tidak akan menjauhi mereka, saya akan memberikan ruang dan waktu sebisa saya untuk membantu mereka even it is just a moral support! Saya banyak menemui kasus ini sampai kadang saya hanya berdiam diri dan mendengarkan saja karena yang mereka butuhkan telinga untuk mendengarkan bukan judgment kenapa mereka sampai seperti itu.

Belum lagi, saya sering mendapati cerita perempuan-perempuan muda yang bercerita bahwa pacar/suami mereka (yang notabene bule) sangat abusive baik psychically or emotionally hanya karena mereka adalah tuan-tuan berduit sehingga mereka merasa bisa melakukan kekerasan terhadap pasangan mereka yang notabene orang Indonesia yg dianggapnya bakal mau diabuse hanya karena uang. Sayangnya mereka terlalu takut untuk ke polisi atau bercerita pada keluarga. Yang ada mereka lari pada kawan.

Lalu…. bukan hanya lima atau sepuluh kali saya sering mendapati perempuan-perempuan muda berbagi dengan saya bahwa mereka pengen sekali punya jodoh bule dengan satu alasan KEREN titik. Tidak ada alasan lain. Bagi saya, alasan itu sebenarnya tidak cukup kuat. Bule atau bukan, mereka semua adalah laki-laki dan manusia dengan sifatnya dan latar belakang masing-masing. Bisa dibilang, bule itu cuma ‘chasingnya’ doang!

Nah kalau sudah begitu…. anda mau bilang apa? Apa anda mau melarang? Ya enggak kan….? Setiap orang punya mimpi dan cita-cita masing-masing. Ada yang mimpinya tentang jodoh mereka seperti apa, pekerjaan mereka seperti apa dan lain sebagainya. Kalau pun ada yang bilang jodoh di tangan Tuhan ya, ya monggo. Saya enggak bisa menggunakan religious approach untuk menanggapi curhatan kawan-kawan tersebut.

Yang paling parah adalah saya sering mendapatkan pertanyaan tentang hal-hal ‘nyleneh’ ketika saya jalan dengan kawan pria bule saya. Mereka bertanya apakah dia burungnya besar, pasti bule kaya. Waduh….saya sudah jengah dengan hal-hal ini.

Terus, apakah seseorang yang pergi ke club malam, cafe atau pekerja seks komersil adalah bukan perempuan baik-baik? Apa artinya perempuan yang ingin melepaskan lelahnya atau give themselves an award by going to cafe or bar or night club after long week of working kemudian berarti mereka bukan perempuan baik-baik? Baik-baik menurut apa dan siapa? Apa standardnya? Bisa tolong dijelaskan?

Lalu ketika orang-orang mengatakan bahwa perempuan yang jalan dengan bule adalah perempuan bertampang babu, tentu tidak semuanya; hanya karena kulit mereka hitam dan krempeng tidak seperti perempuan yang ada di billboard iklan shampoo di sepanjang jalan atau perempuan ideal di dalam televisi Indonesia dengan standar putih, kulit putih dan rambut hitam panjang. Bagi saya, saya ingin bertanya apakah sih artinya cantik? Apa sih artinya tampang babu. Kecantikan/keindahan itu relatif, tergantung pada orang yang melihat bukan.

Sayangnya masyarakat kita suka dengan mudah menghakimi dan tak jarang yang dihakimi pun hanya diam saja. Saya jengah! Saya gerah!  Saya ingin berbagi pada orang lain bahwa there’s another part of life yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang mungkin tidak kita pahami tapi kita terlalu mudah menghakimi. Bahkan antar sesama orang Indonesia sendiri.

Jujur saja ini merupakan suatu kegelisahan saya, kenapa saya menulis buku yang cukup kontroversial dan kemudian diputarbalikkan sehingga keren. Tujuan saya bukan bisnis tapi mengajak orang yang merefleksikan kembali.

Saat The Magdalene mengulas tentang Bule Hunter: Money, Sex and Love dengan judul artikel What “Bule Hunter” Wants, saya merasa pesan saya tersampaikan. Lalu pada hari Minggu, 7 September melalui Indonesia Now, Metro TV kembali mengulas buku Bule Hunter: Money, Sex and Love, lagi-lagi saya senang bahwa pesan saya tersampaikan. Dan tanggal 8 September lalu, The Jakarta Post kembali memuat artikel tentang saya sebagai penulis buku Bule:Hunter, Money, Sex and Love dan lagi-lagi pesan saya tersampaikan.

Namun pada tanggal 9 September lalu, salah satu media online ternama di Indonesia menuliskan sembilan berita yang misleading membuat saya, dibully dan dicaci seolah saya pendosa besar. Untung saja, Beritasatu kembali menyampaikan pesan dibalik buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Begitu juga dengan artikel di vemale.com; Wolipop dan juga suara.com.

Ya begitulah tak kenal maka tak sayang, sudah anti duluan. Lebih parahnya lagi referensi berita yang misleading dijadikan patokan untuk menulis blog menyerang saya. Oh well… I’m only human who wants to make a small contribution to the Indonesian women especially to them who are in relationship with westerner but often being UNFAIRLY JUDGED by the society! If you thought that I would be perfect, I apologise for being human! I am far from the definition of perfection!

-Oktofani-