Thinking: Tentang Bule Hunter

Setelah membaca tiga buku (Bumi Manusia, Semua Anak Bangsa dan Jejak Langkah) dari Tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, dapat saya tarik kesimpulan bahwa fenomena Bule Hunter sesungguhnya berawal dari jaman penjajahan Belanda. Yang menarik adalah laki-laki pribumi yang haus kuasa akan menyerahkan anak gadisnya pada jendral-jendral Belanda agar dapat jabatan di perusahaan-perusahaan Belanda waktu itu. Sehingga bisa dikatakan bahwa pada saat itu yang sesungguhnya Bule Hunter adl pria pribumi yang haus kuasa, haus harta

Bukan hanya itu saja, relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat waktu itu justru memalukan bagi masyarakat pribumi dan bukan keren. Kenapa? Karena perempuan pribumi dijadikan tumbal oleh pria pribumi (biasanya bapak) yang haus kuasa. Oleh karena itu enggak heran bahwa relasi perempuan pribumi dan laki-laki barat kerap dihubungkan dengan harta dan birahi semata, di mana stigma terbentuk setelah Belanda menjajah nusantara selama 350 tahun lamanya. 

Stigma tersebut terus berkembang di kalangan pribumi meskipun nusantara merdeka dan menjadi Indonesia. Stigma tersebut terus melekat pada perempuan pribumi yang menjalin hubungan dengan pria barat meskipun kita memasuki jaman modern. Sekarang saya paham kenapa masyarakat kita kerap memberikan stigma pada perempuan Indonesia yang menjalin hubungan dengan laki-laki barat.

Cheers, 

Oktofani

Advertisements

Marriage

Many young people want to get marriage to their lover. They feel that their lover is the love of their life. It would be perfect to live together for the rest of their life. But I wonder whether they really understand what marriage is?

Well… I guess we have been indoctrinated with happily ever after Cinderella story without being shown what happen next after she got married to the prince. Who knows that they try killing each other…. ?! No?

That is why I don’t like attend wedding party.

Oktofani: 250415

BULE HUNTER: Suatu Proses Berbagi Pengalaman Menulis Life HerStory

Diskusi Buku
BULE HUNTER: Suatu Proses Berbagi Pengalaman Menulis Life HerStory.

Pembicara: Elisabeth Oktofani (Penulis), Pembahas: Susetyo (Pengampu MK Manajemen Data Kualitatif)

Moderator: Ikram Baadilla

Tanggal: Senin, 20 Oktober 2014; Pukul 14.00 – 17.00,

Tempat: GEDUNG B, Ruang B 3.1, FISIP Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Kami juga mengundang komunitas YFN (Youth Freedom Network) Lampung

What You Need To Know About This Book

I try to explode myth and stereotype about Indonesian women and foreigners (Westerner) as individual as well as in relationship. Male dominated society tells women how to behave in hypocritical way, for example our society judges woman for selling sex.

All we have to do is driving around Jakarta, Bali, Yogya or any big cities and see places where the men, who dominate our society, by sex.

Our society (Indonesian) glorifies foreigner (Westerner) in a hypocritical way, on the other hand, we say foreigners sophisticated , educated and ethical, we usually assume that they are rich as well but the reality is some of them are none of this things.

So in a effort human being and human relationship are, this book is a small snapshot into the life of several Indonesian women unfairly described as bule hunter. 

Yakin Nikah Sama Bule Enak?

“Mereka bilang enak ya nikah sama bule, bisa jalan-jalan, belanja-belanja dan duitnya banyak. Tapi apakah semuanya itu memberikan kebahagian? Enggak! Buktinya saya enggak bahagia. Belum lagi dengan cap sebagai bule hunter.” Imelda Luluah 

Kemewahan belum tentu memberikan kebahagiaan. Cross-cultural relationship kerap dipandang menguntungkan perempuan Indonesia sehingga mereka bisa hidup nyaman secara material.  Namun, bagaimana dengan kehidupan batiniah mereka?

-oktofani-