Diskusi Buku: Suatu Proses Berbagi Pengalaman Menulis Life HerStory

 

10482781_10204197355926640_2791708319774875893_n

 

Advertisements

Bule Hunter: Sebuah Perenungan Bagaimana Melihat Diri Sendiri

Bule Hunter: Sebuah Perenungan Bagaimana Melihat Diri Sendiri

oleh Teguh Imam (Suara Kita)

Bule Hunter adalah catatan jurnalistik Elisabeth Oktofani atau biasa disapa Fani, mengenai perempuan Indonesia yang berelasi dengan cowok bule. Fani membagi buku ini ke dalam 3 bagian; Gold Digger, All About Sex, True Love. Jadi Fani melihat ada 3 motivasi  mengapa perempuan Indonesia lebih suka berelasi dengan cowok bule. Ada yang ingin kaya dengan cepat, ini yang Fani sebut dengan istilah Gold Digger, lalu ada yang beralasan karena bule dahsyat dalam seks, dan ada pula yang mencari cinta sejati atau true love karena perempuan ini merasa lelaki Indonesia sudah menjadi korban Iklan, bahwasannya cantik itu adalah rambut lurus, kulit putih dan hidung mancung.

Entah siapa yang mempopulerkan istilah Bule Hunter, tapi yang jelas istilah ini merujuk pada perempuan yang gemar ‘memburu’ lelaki bule dengan berbagai motivasi.  Istilah ini lebih memiliki makna negatif, perempuan  Bule Hunter lebih diidentikkan dengan pekerja seks. Fani menceritakan kisah perempuan Sri Dewi Utari (bukan nama sebenarnya) yang sering membawa cowok cowok bule ke sebuah kafe yang berlokasi di daerah Prawirotaman, Yogyakarta. Kebiasaan Sri membawa cowok bule ke kafe membuat orang-orang di sekeliling daerah tersebut mencap Sri sebagai pekerja seks dengan pangsa pasar kaum londho. Padahal cowok yang dibawa Sri adalah klien tempat dia bekerja di sebuah galeri seni. Bosnya Sri menugaskan dia untuk menjadi tour guide  lelaki-lelaki londho tersebut. Meskipin akhirnya Sri menikah dengan lelaki Perancis, namun pengalaman dilabeli pekerja seks tentu saja pengalaman yang tidak mengenakkan.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Cetta. Dia nge-date dengan cowok bule pertama kali sejak dia berumur 17 tahun. Dan ketika Ceta dan cowok Bulenya jalan ke daerah prawirotaman, dengan gampangnya orang berkomentar,”Kecil-kecil nge-lonthe bareng bule, pinter.. bule duitnya  banyak, burungnya gede”. Cetta tidak mau membuang energinya untuk marah pada orang tersebut. Baginya omongan seperti itu adalah omongan orang yang tidak berpendidikan.

Salah satu poin penting buku ini adalah bagaimana buku Bule Hunter ini memberikan  persepsi lain kepada  orang Indonesia terhadap orang bule dan peradaban baratnya. Buku ini ingin mengungkapkan bahwa gak semua bule itu kaya dan dermawan, malah ada yang kere dan pelit. Enggak semua bule itu penisnya besar dan jago di ranjang, ada juga yang penisnya kecil dan permainan ranjangnnya gak enak. Enggak semua bule itu mencari cinta sejati, malah ada yang cuma mau dapet seks dari  perempuan Indonesia doang.

Setelah peluncuran buku ini, pro-kontra di media on-line pun mencuat. Ternyata banyak orang Indonesia yang merasa tersindir dan merasa boroknya kelihatan. Fani pun di bully di media sosial.

Buku ini benar benar membuat saya merenung, bagaimana orang Indonesia melihat dirinya sendiri dan melihat orang Bule. Pernahkah kamu berpikir bahwasannya produk-produk dari barat entah itu sepatu, baju, makanan  lebih bagus lebih enak dibandingkan dengan produk Indonesia? Bahwasannya cantik itu putih? Dalam proses menuju dewasa saya sering mendengar bahwa sesuatu dari  Barat itu lebih bagus daripada Indonesia. Ocehan itu sering keluar dari mulut guru-guru, tetua saya. Saya pun bertanya adakah yang bisa saya banggakan sebagi orang Indonesia selain sumber daya alamnya yang makin menipis? Kebudayaannya yang jadi rebutan dengan negara tetangga? Selain masyakatnya banyak dan makin tidak ramah?

Tahun 2013, saya ikut kelas musim panas bersama dengan anak-anak muda USA di Yogyakarta. Selama 8 minggu kami bekerja sama dan saling belajar mengenai kebudayaan masing-masing. Setiap kami berkunjung ke suatu acara, orang-orang Indonesia senang berfoto dengan teman-teman USA saya itu. Mereka pun kebingungan, “Kenapa orang Indonesia senang sekali minat foto bareng bersama kami?”, tanya mereka. saya pun kebingungan dan  menjawab sekenanya, “Karena kalian unik”. Namun teman Indonesia saya menyela dan berkata tidak, “It’s inferiority Syndrome”. Saya bersikukuh tidak demikian. Dia pun  kukuh dengan pendapatnya, “Admit it”, kata dia.  Dan saya pun diam.

Sulit mengakui antusiasme orang Indonesia terhadap orang Bule  adalah bentuk dari inferioritas. Namun hal itu mungkin saja benar. Pada akhirnya kita akan menjadi apa yang kita ucapkan dan kita percayai bukan? Jika kita berpikir bahwa orang Indonesia gak bisa apa-apa, orang Indonesia itu kalah pinter dari bangsa lain. Kemudian terus-menerus berucap bahwa kita, orang Indonesia, tidak akan mampu bersaing. Maka secara perlahan-lahan kita akan menjadi apa yang kita ucapkan.

Sungguh buku Bule Hunter sukses membuat saya bercermin ke dalam diri saya dan menghormati akar tradisi saya.

–@–

Tulisan ini diambil dari catatan pribadi mas Teguh dan dibagikan dengan seiijin penulis

BULE HUNTER: Suatu Proses Berbagi Pengalaman Menulis Life HerStory

Diskusi Buku
BULE HUNTER: Suatu Proses Berbagi Pengalaman Menulis Life HerStory.

Pembicara: Elisabeth Oktofani (Penulis), Pembahas: Susetyo (Pengampu MK Manajemen Data Kualitatif)

Moderator: Ikram Baadilla

Tanggal: Senin, 20 Oktober 2014; Pukul 14.00 – 17.00,

Tempat: GEDUNG B, Ruang B 3.1, FISIP Universitas Lampung, Bandar Lampung.

Kami juga mengundang komunitas YFN (Youth Freedom Network) Lampung

Buka Buka Buku ‘Bule Hunter: Money, Sex and Love’

Dear pembaca buku Bule Hunter: Money, Sex and Love dan pengunjung blog bulehunter.com di Semarang

Yang belum baca, yang pengen tahu, yang penasaran sama buku Bule Hunter: Money, Sex and Love karya saya. Yuk nanti malem stay tune di 102.4 Gajahmada FM untuk ngebahas buku Bule Hunter di acara Buka Buka Buku jam 7 malem.

Cheers

Ketika Buku ‘Bule Hunter’ Dicap Vulgar dan Dodol

Tadi malam saya tercengang mendapatkan sebuah email dengan link tentang sebuah blog di kompasiana yang berjudul Buku Dodol dan Vulgar: Salah Kaprah atas Bule dan Lelaki Indonesia.  Wow! Jujur saja, itu  membuat saya sangat resah dan geli. “Budhe… budhe ….yang salah kaprah itu siapa?” tanya saya pada diri saya sendiri. Baca bukunya saja belum tetapi sudah sesumbar.

Hal tersebut membuat saya ingin bertanya pada teman-teman sekalian…

1. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang perempuan muda yang mereka bercerita baru saja melakukan hubungan badan org yang mereka sukai unt pertama kalinya?

2. Apakah anda pernah mendapatkan SMS dari seorang kawan yang mendapari dirinya terkena penyakit menular seks seperti hepatitis B, syphilis atau bahkan HIV/AIDS?

3. Apakah anda pernah mendapati seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan rumah tangga atau dalam pacaran?

4. Apakah anda pernah didatangi oleh perempuan-perempuan muda (18-23) yang bercerita betapa ingin mereka mendapatkan jodoh bule karena KEREN titik, tidak ada alasan lainnya?

5. Apakah anda pernah duduk di sebuah taxi dengan pasangan orang Barat alias bule lalu si supir taxi bertanyaWah neng… burungnya pasti besar!“? atau “Wah neng… nikah sama bule pasti cepet kaya ya?

6. Apakah anda pernah duduk dengan seorang pekerja seks komersil yang bekerja untuk menghidupi anaknya karena dia ditolak bekerja formal karena punya penyakit pneumonia?

7. Atau anda pernah mendapati ungkapan, eh kok bule maunya sama yang tampamg babu sih?

Saya sendiri pernah mendapati semuanya itu.

Ketika perempuan-perempuan muda bercerita betapa bahagianya mereka baru saja melakukan hubungan badan dengan orang yang mereka kagumi/cintai, tanpa mau menghakimi atas nama budaya dan norma, saya hanya bilang “Berhati-hatilah! Jangan lupa pakai kondom. Siapa tahu, kamu bukan satu-satunya pasangan! Banyak predator seks di luar sana yang tidak bertanggung jawab dan kemudian membawa penyakit pada diri kamu,”

Lalu ketika seseorang mendapati diri mereka terinfeksi sexual transmitted disease seperti hepatitis B, HIV/AIDS, syphilis atau gonoreha …. tentu saya tidak akan menjauhi mereka, saya akan memberikan ruang dan waktu sebisa saya untuk membantu mereka even it is just a moral support! Saya banyak menemui kasus ini sampai kadang saya hanya berdiam diri dan mendengarkan saja karena yang mereka butuhkan telinga untuk mendengarkan bukan judgment kenapa mereka sampai seperti itu.

Belum lagi, saya sering mendapati cerita perempuan-perempuan muda yang bercerita bahwa pacar/suami mereka (yang notabene bule) sangat abusive baik psychically or emotionally hanya karena mereka adalah tuan-tuan berduit sehingga mereka merasa bisa melakukan kekerasan terhadap pasangan mereka yang notabene orang Indonesia yg dianggapnya bakal mau diabuse hanya karena uang. Sayangnya mereka terlalu takut untuk ke polisi atau bercerita pada keluarga. Yang ada mereka lari pada kawan.

Lalu…. bukan hanya lima atau sepuluh kali saya sering mendapati perempuan-perempuan muda berbagi dengan saya bahwa mereka pengen sekali punya jodoh bule dengan satu alasan KEREN titik. Tidak ada alasan lain. Bagi saya, alasan itu sebenarnya tidak cukup kuat. Bule atau bukan, mereka semua adalah laki-laki dan manusia dengan sifatnya dan latar belakang masing-masing. Bisa dibilang, bule itu cuma ‘chasingnya’ doang!

Nah kalau sudah begitu…. anda mau bilang apa? Apa anda mau melarang? Ya enggak kan….? Setiap orang punya mimpi dan cita-cita masing-masing. Ada yang mimpinya tentang jodoh mereka seperti apa, pekerjaan mereka seperti apa dan lain sebagainya. Kalau pun ada yang bilang jodoh di tangan Tuhan ya, ya monggo. Saya enggak bisa menggunakan religious approach untuk menanggapi curhatan kawan-kawan tersebut.

Yang paling parah adalah saya sering mendapatkan pertanyaan tentang hal-hal ‘nyleneh’ ketika saya jalan dengan kawan pria bule saya. Mereka bertanya apakah dia burungnya besar, pasti bule kaya. Waduh….saya sudah jengah dengan hal-hal ini.

Terus, apakah seseorang yang pergi ke club malam, cafe atau pekerja seks komersil adalah bukan perempuan baik-baik? Apa artinya perempuan yang ingin melepaskan lelahnya atau give themselves an award by going to cafe or bar or night club after long week of working kemudian berarti mereka bukan perempuan baik-baik? Baik-baik menurut apa dan siapa? Apa standardnya? Bisa tolong dijelaskan?

Lalu ketika orang-orang mengatakan bahwa perempuan yang jalan dengan bule adalah perempuan bertampang babu, tentu tidak semuanya; hanya karena kulit mereka hitam dan krempeng tidak seperti perempuan yang ada di billboard iklan shampoo di sepanjang jalan atau perempuan ideal di dalam televisi Indonesia dengan standar putih, kulit putih dan rambut hitam panjang. Bagi saya, saya ingin bertanya apakah sih artinya cantik? Apa sih artinya tampang babu. Kecantikan/keindahan itu relatif, tergantung pada orang yang melihat bukan.

Sayangnya masyarakat kita suka dengan mudah menghakimi dan tak jarang yang dihakimi pun hanya diam saja. Saya jengah! Saya gerah!  Saya ingin berbagi pada orang lain bahwa there’s another part of life yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari yang mungkin tidak kita pahami tapi kita terlalu mudah menghakimi. Bahkan antar sesama orang Indonesia sendiri.

Jujur saja ini merupakan suatu kegelisahan saya, kenapa saya menulis buku yang cukup kontroversial dan kemudian diputarbalikkan sehingga keren. Tujuan saya bukan bisnis tapi mengajak orang yang merefleksikan kembali.

Saat The Magdalene mengulas tentang Bule Hunter: Money, Sex and Love dengan judul artikel What “Bule Hunter” Wants, saya merasa pesan saya tersampaikan. Lalu pada hari Minggu, 7 September melalui Indonesia Now, Metro TV kembali mengulas buku Bule Hunter: Money, Sex and Love, lagi-lagi saya senang bahwa pesan saya tersampaikan. Dan tanggal 8 September lalu, The Jakarta Post kembali memuat artikel tentang saya sebagai penulis buku Bule:Hunter, Money, Sex and Love dan lagi-lagi pesan saya tersampaikan.

Namun pada tanggal 9 September lalu, salah satu media online ternama di Indonesia menuliskan sembilan berita yang misleading membuat saya, dibully dan dicaci seolah saya pendosa besar. Untung saja, Beritasatu kembali menyampaikan pesan dibalik buku Bule Hunter: Money, Sex and Love. Begitu juga dengan artikel di vemale.com; Wolipop dan juga suara.com.

Ya begitulah tak kenal maka tak sayang, sudah anti duluan. Lebih parahnya lagi referensi berita yang misleading dijadikan patokan untuk menulis blog menyerang saya. Oh well… I’m only human who wants to make a small contribution to the Indonesian women especially to them who are in relationship with westerner but often being UNFAIRLY JUDGED by the society! If you thought that I would be perfect, I apologise for being human! I am far from the definition of perfection!

-Oktofani-

Elisabeth Oktofani, Tulis Kisah Wanita Indonesia Dengan Judul ‘Bule Hunter’

Vemale.com – Ketertarikan wanita Indonesia pada pria bule memang kerap banyak terjadi di lingkungan sekitar. Bahkan mimpi memiliki suami bule dianggap bisa memperbaiki keturunan. Dan mimpi-mimpi indah untuk mendapatkan pasangan beda negara ini dirangkum secara gamblang oleh penulisnya.

Elisabeth Oktofani, merupakan penulis buku Bule Hunter yang kisahnya terjadi secara nyata di lingkungannya. Sejak kuliah, Fani panggilan akrabnya, memang sudah berkeinginan membuat buku karena ia mempunyai hobi menulis dan membaca. Berprofesi menjadi seorang wartawan, Fani menyalurkan hobi menulisnya ke dalam blog pribadi miliknya, yang pada akhirnya menimbulkan keinginan untuk membuat karya tulisan terwujud tepat di usianya di 27 tahun tahun ini.

“Awalnya ingin banget menulis waktu kuliah, kerja dan sekarang akhirnya menulis buku ini. Kenapa? Karena ada kegelisahan, adanya steriotipe terhadap perempuan yang menjalani hubungan antar bangsa sehingga dicap sebagai bule hunter,” ucap Fani saat ditemui tim Vemale pada peluncuran buku perdananya di Reading Room Kemang Timur Jakarta Selatan Rabu 10 September 2014 lalu.

Tidak gampang menulis buku ini, ia pun mengaku bahwa sempat terjadi pro dan kontra setelah membaca Bule Hunter miliknya. Tetapi karena alasan itulah yang membuat Fani mengurungkan niat menerbitkan tulisannya di publik.

Fani pun mengakui bahwa setiap narasumber yang ia jadikan kisah adalah orang-orang yang ia kenal tetapi tidak ia sebutkan nama asli di dalam bukunya, karena itu permintaan dari narasumber.

Tak hanya itu saja, wanita bertubuh mungil ini dengan keberaniannya, sampai pernah menyambangi klub malam untuk mencari narasumbernya agar keakuratan bukunya benar-benar terpercaya.

“Jadi, buku ini setiap bab-nya mempunyai narasumber yang berbeda-beda. Narasumbernya pun dari 15 menjadi 11, tak cuma di Jakarta saja, tetapi di Bali, Jogja sama di Salatiga juga,” jelas Fani.

Baginya, dengan menulis kisah seperti ini, bisa mewakili perasaan semua wanita yang mendapat julukan Bule Hunter karena lelah dinilai jelek. Oleh karena itu, buku ini memberikan media bagi mereka untuk menyuarakan kehidupan yang sesungguhnya. Akan tetapi Fani pun tidak melarang perempuan Indonesia untuk mencari pasangan bule.

“Buat perempuan-perempuan Indonesia yang ingin menikah dengan bule, buat masyarakat yang selalu mengecap perempuan Indonesia yang berpasangan dengan bule negatif, silahkan baca buku saya Bule Hunter,” tuturnya dengan memberi harapan.

Nah Ladies, daripada Anda semakin penasaran dengan kisahnya, ayo beli saja langsung bukunya atau bisa lihat teasernya di http://www.bulehunter.com. Selamat membaca!

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh vemale.com pada tanggal 11 Sept. 2014

Bule Hunter, Cerita Wanita-wanita ‘Pemburu Bule’

Jakarta – Tak sedikit wanita Indonesia yang mendambakan memiliki kekasih atau suami pria asing. Alasannya pun berbagai macam mulai dari lebih romantis, tegas, hingga ingin memperbaiki keturunan.

Ketertarikan wanita Indonesia pada pria bule ini dirangkum dalam sebuah buku berjudul ‘Bule Hunter’. Buku yang ditulis oleh Elisabeth Oktofani ini berisi berbagai kisah nyata para wanita yang gemar ‘berburu’ pria asing sehingga mendapat julukan Bule Hunter.

Para wanita yang ceritanya ada di buku tersebut mencari pria asing untuk dijadikan kekasih, suami atau hanya sekadar TTM. Dalam buku Bule Hunter ini terdapat cerita-cerita dari beberapa narasumber yang disamarkan namanya, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan bule, termasuk soal seks dan percintaan.

Ketika disambangi dalam peluncuran bukunya, Elisabeth Oktofani mengaku tujuannya menulis buku ini adalah untuk mengekspos cerita-cerita yang ada di tengah-tengah kehidupan sekitar. “Banyak orang yang tidak melihat bahwa fenomena ini sebenarnya memang ada dan nyata di dalam kehidupan sehari-hari, jadi tidak perlu ditutup-tutupi,” jelasnya ketika diwawancara Wolipop di Reading Room, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (10/09/2014). Tujuan lain ditulisnya buku ini ialah, ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan dalam menjalani hubungan antar bangsa.

Wanita yang berprofesi sebagai wartawan ini mengaku sebenarnya keinginannya menulis buku sudah sejak lama. Namun karena pencarian narasumber yang cukup sulit, proses penulisan buku memakan waktu kurang lebih dua tahun. Wanita 27 tahun ini sampai menyambangi klub malam untuk mencari narasumbernya.

Peluncuran buku Bule Hunter ini dihadiri oleh aktivis perempuan Myra Diarsih. Myra melihat buku tersebut bisa menjadi pendobrak cara pandang kaum wanita muda yang berani mempertanyakan secara kritis apa yang terjadi di sekitar mereka, serta memaparkan hal-hal yang dianggap kurang layak untuk diperbincangkan serta sebagai pembelajaran yang luar biasa. Buku Bule Hunter dijual seharga Rp 65 ribu.

==@==

Tulisan ini dipublikasikan oleh Wolipop pada tanggal 10 Sept.