Bule Hunter in 94.7 UFM

Advertisements

Norwegian Men and Import Brides

Last week the documentary focused on Norwegian men and ‘import brides’. It is commonly known amongst Norwegians that Norwegian men import brides because Norwegian women don’t consider them ‘a catch’. So Norwegian men look elsewhere. When it comes to Norwegians marrying someone abroad certain trends have developed over the years. Currently most Norwegian women who marry from abroad marry from Sweden, Denmark and the UK.

Most Norwegian men who marry from abroad marry women firstly from Thailand, secondly from Russia and thirdly from the Philippines. The import brides have clear reasons for their marriage choice: Russian women marry Norwegian men because of the ‘Norwegianess’ – meaning that Norwegian men are more domesticated than Russian men therefore Russian women have less domestic responsibility and more ‘freedom’. South-east Asian woman marry Norwegian men because they want to up-grade their lifestyle and also use it as a means to support their family in Thailand.  Read the rest here

Hartoyo

Kemarin (10/9/14), saya diminta untuk memoderatori peluncuran buku “Bule Hunter: Money, Sex and Love” karya Elisabeth Oktofani dengan nara sumber  Myra Diarsi, aktivis perempuan dan juga dihadiri oleh ebbrapa peserta yang juga melakukan pernikahan campur antar bangsa di Reading Room, Kemang Jakarta Selatan.

Buku ini jika dilihat dari judul dan komentar-komentar dari Facebook atau berita di media banyak dapat kritik dari publik, terutama dari orang-orang bule itu sendiri maupun beberpa perempuan yang kebetulan menikah dengan bule.

Buku ini mengungkapkan kegelisahan2 atau “kemarahan” penulis atas pola ketidakadilan yang berkaitan dengan persoalan: 1. Relasi antara perempuan dan laki-laki dlam segala hal, 2. Relasi antara negara yg dianggap maju/beradab (barat), dalam hal ini laki-laki bule dengan negara2 timur/dunia ketiga/asia dlam hal ini perempuan Indonesia.

Walau penulis kurang membongkar atau menguliti secara detail pola-pola ketimpangan itu (katanya akan ada buku selanjutnya membongkar lebih dalam), tetapi penulis berhasil, minimal membuat saya memahami bahwa ini ada persoalan ketimpangan gender dalam perkawinan antar bangsa yg semakin rumit.

Sepertinya buku ini kalau diulas menggunakan buku Orientalis karya Edward Said dan buku The Clash of Civilization and the Remaking of World Order karya Samuel P. Huntington akan dapat inti persoalannya, tentunya menggunakan pisau analisis gender. – Hartoyo, General Secretary of Our Voice Indonesia

Catatan: tulisan ini diambil dari Facebook mas Hartoyo dengan ijin beliau

Kontribusi Istri Bule dalam Rumah Tangga

Saya pun tiba-tiba teringat Henry yang pernah mengatakan pada saya bahwa kawan-kawannya dapat membeli rumah dan hidup berkecukupan karena istri mereka bekerja dan memberi kontribusi cukup signifikan pada rumah tangga.

Ya iyalah! Apakah saya harus heran? Semua orang juga tahu, sistem gaji bagi orang kulit putih sangat berbeda dengan gaji orang kulit cokelat atau hitam. Orang kulit putih cenderung mendapatkan gaji lima kali lipat daripada orang lokal ketika mereka bekerja di negara berkembang. Lihat saja berita di Kompas beberapa waktu lalu tentang kesenjangan gaji antara guru asing dan guru lokal di sekolah bertaraf internasional di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Guru asing menerima upah antara Rp50 sampai Rp100 juta per bulan sedangkan guru Indonesia hanya menerima upah Rp 2 juta sampai Rp15 juta per bulan.

Ya, tentu saja, akhirnya saya enggak bisa memberi kontribusi yang cukup signifikan terhadap keuangan rumah tangga kami. Saya sebagai orang Indonesia dengan pendidikan universitas swasta di Yogyakarta hanya dihargai murah.

Ah, lucu sekali. Lucu sekali, kata saya dalam hati. Bisa dibilang, saya ini sudah pasrah dengan gaji murah karena sistemnya memang sudah seperti itu, tetapi saya masih harus makan. Eh, masih saja enggak dihargai, yang ada malah dicaci maki suami sendiri.

-Oktofani-

Bule = Harta?

Saya sering mendengar seloroh orang yang sering menganggap semua bule kaya seperti Mang Cepi misalnya, seorang penjual roti bakar di Prawirotaman, Yogykarta, atau tukang becak di Malioboro.

Mbak… Mas Ben ini baik lho! Kasih aja deh nomornya. Wong’e apikan kok. Apalagi Mas Ben ini langganan saya lho. Siapa tahu dia ini jodone Mbak. Lumayan kan kalau dapet bule bisa cepet sugih.” Mang Cepi

Weh… cilik-cilik nglonte karo londho! Pinter! Londho duite akeh, manuke guedi” kata tukang becak sambil cekikian

Awalnya saya sama sekali enggak menyangka bahwa masyarakat akan berpandangan buruk tentang perempuan Indonesia yang jalan dengan laki-laki bule. Tapi itu semua hanya celoteh orang-orang yang tidak berpendidikan atau orang-orang yang tidak mengenal dunia barat. Oleh karena itu  saya memilih untuk mengabaikannya saja.

-Oktofani-

Oh… Is She A Gold Digger?

Suatu malam Manda, seorang kawan lama, mengatakan pada saya bahwa sebelum datang ke Indonesia, Renato, suami Manda yang merupakan warga negara Prancis, pernah diingatkan oleh kawan-kawannya di negaranya tentang perempuan Indonesia katanya matre.

“Hati-hati dengan perempuan Indonesia, mereka cewek matre! It’s better you stay away from them!”

Belum lagi masyarakat lokal juga kerap mengecap perempuan Indonesia yang menikah atau berkencan dengan bule memiliki motivasi ekonomi to improve our life. Saya tertawa terbahak-bahak sekaligus kesal mendengar stereotipe yang keluar dari mulut orang barat maupun orang lokal. Tahu apa mereka tentang kami? Enggak semua bule hunter itu matre lho. Tapi… ya seperti apa yang saya ungkapkan sebelumnya, I have to admit that gold diggers do exist among bule hunter.

Saya bertemu beberapa dari mereka di waktu dan tempat yang berbeda. Mereka mengakui bahwa mereka adalah bule hunter as well as gold digger. Mereka enggak malu dan berbagi tentang kisah mereka dengan kita di sini karena memang itulah yang mereka lakukan.

Mau tahu cerita mereka? Tunggu posting saya selanjutnya

-Oktofani-