BULE HUNTER : Curhatnya Beberapa Perempuan Pasangan Bule

BULE HUNTER : Curhatnya Beberapa Perempuan Pasangan Bule

oleh: Risa Amrikasari

“Anyway, menjalani cross-cultural relationship is actually not very easy. People tend to judge us. Some people might think the Asian women are gold diggers, some might think that we are sluts. Namun, ada nggak sih yang sungguh-sungguh melihat bahwa kami benar-benar jatuh cinta tanpa embel-embel itu? Well, some people are just too blind to see the love between the two sometimes.” –

Bule Hunter, hal. 227

*****

Beberapa bulan lalu, saya diberitahu Mahel bahwa ia sedang membantu temannya yang akan menerbitkan buku. Dia minta tolong saya untuk mendapatkan testimonial dari Julia Perez (Jupe) karena katanya bukunya berkisah tentang pengalaman beberapa perempuan Indonesia yang memiliki atau pernah memiliki hubungan dengan orang berkewarganegaraan berbeda. Dia memberi link untuk saya baca sebagai referensi. Judul bukunya membuat saya tertawa seketika, “Bule Hunter”.

Ada-ada saja, pikir saya. Tapi setiap penulis bebas membuat judul yang menurutnya “eye catchy” dan saya paham itu. Saya pun mengontak Jupe beberapa hari kemudian. Jupe bukannya menulis testimonial, malah mengirimkan voice notes ke saya mengenai komentarnya soal hubungan dengan orang berbeda warga negara. Ah, daripada repot, saya kirim saja voice notes itu ke Mahel.

Setelah itu saya tidak mendengar lagi kabar soal buku itu, sampai pada suatu hari saya melihat suatu ulasan di sebuah media online yang isinya jauh dari bayangan saya. Buruk sekali. Saya belum pernah membaca isi buku itu, ulasan singkat yang diberikan kepada saya tidak “sejorok” apa yang ditulis oleh media online itu. Saya pun mulai melihat banyak caci maki terhadap penulisnya bertebaran di media sosial.

Beberapa waktu lalu, buku ini akhirnya tiba juga di saya. Saya memang dijanjikan akan dikirimi buku ini oleh Mahel, dan saya baru menerimanya setelah hingar-bingar soal buku ini hilang. Pesta sudah usai, Risa! Telat gak sih loe ngomongin soal buku ini?

Nggak! Setelah saya membaca buku ini, saya justru merasa harus menuliskan tanggapan saya.

Sebetulnya istilah “bule” ini rasis, seperti juga orang menyebut “indon”, “cina”, “malay”, “arab”, “negro”,  dan lain-lain. Tapi banyak orang berkulit putih itu malah tertawa dan suka bercanda ketika mendengar kata “bule”. So, rasis atau tidak, mungkin tergantung bagaimana menanggapinya kalau di Indonesia.

Istilah Bule Hunter” terdengar sensitive bagi beberapa perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing. Kalaupun sengaja menargetkan harus punya pasangan “bule” karena lebih menyukai mereka, mungkin agak emosi juga mendengar istilah ini. Stigma-stigma yang ditempelkan kebanyakan orang kepada perempuan yang memiliki pasangan berbeda kewarganegaraan telah membuat orang berpikiran kejam kepada perempuan yang berpasangan dengan orang berkulit putih. Seolah-olah semua buruk.

Padahal cinta bisa datang dari mana saja dan pada siapa saja. Mengenai cinta yang tulus inipun disajikan dalam buku “Bule Hunter” ini tanpa pretensi apapun. Ini tak dikupas oleh beberapa media yang mengangkat pemberitaannya, hingga buku “Bule Hunter” terkesan seperti buku picisan yang sengaja menjual sensasi demi popularitas. Tidak. Buku ini justru menggambarkan kisah-kisah yang dibagi oleh para perempuan yang kebetulan menjalin hubungan dengan pria berkewarganegaraan asing, dengan pengalaman yang bervariasi. Mulai dari kegembiraan, keisengan, kesedihan, sampai soal uang, seks, dan cinta, menjadi bagian dari cerita yang ditampilkan oleh nara-sumber.

Penyajian yang apa adanya sebenarnya justru menimbulkan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang berpikiran terbuka. Mari kita lihat beberapa dialog yang menarik dari buku ini.

Ini bagian menarik di mana ternyata ada “bule” yang punya pandangan seperti layaknya orang Indonesia.

“Bisa-bisanya dia ngomong kalau perempuan Jawa harus menjaga keperawanannya untuk suaminya, sementara dia berhubungan badan denganku! Bajingan kamu, Chris! Asu!”

“Aku pikir bule bakal punya pikiran yang lebih liberal dan terbuka. Tapi kok malah koyok Asu ngene! Pancen londho Asu! Londho bajingan!” kata saya kesal dengan air mata terurai di pipi. – Bule Hunter, hal. 129 

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak perempuan Indonesia yang menjadi “bule hunter” dengan cara mencari pasangan melalui dating site yang banyak bertebaran di internet. Kenapa? Karena itu salah satu cara termudah bagi para perempuan yang ingin sekali berkenalan dengan cara mudah dengan laki-laki idaman mereka. Jadi, jangan marah hanya karena buku ini. Itu adalah kenyataan yang ada di sekitar kita. Jangan tutup mata dan tak peduli. Jangan mengangkat diri merasa harkat diri lebih tinggi daripada para perempuan lain yang sengaja ingin mencari pasangan “bule”. Karena setiap orang punya selera masing-masing.

Mari kita lihat bagian ini :

Berawal dari iseng-iseng mencari pacar di dunia maya, enggak disangka keisengan Jovita berakhir dengan janji pernikahan di depan altar dalam sebuah pernikahan sederhana di Salatiga, Jawa Tengah akhir tahun 2009 lalu. John dan Jovita saling mengenal pada pertengahan tahun 2007 lewat dating site. Jovita langsung jatuh hati pada John ketika John mengiriminya sebuah e-mail. 

“I always think that Indonesian women are the most caring, sensual, romantic and beautiful women on the planet. I am looking for a smart, sweet, slim, sexy Indonesian girl from 18-32. Please don’t respond if you are overweight, want money and conservative. I am not interested.”

Kalau kita membaca ini, apa kira-kira yang kita pikirkan sebagai orang yang tak paham kenapa mereka suka “bule”? Bolehkah kita judgemental? Bukankah itu cara yang directuntuk mencegah hubungan yang tidak diinginkan?

Lalu pada bagian ini kita bisa melihat bagaimana stigma perempuan punya pasangan “bule” itu selalu mendapat ledekan atau tepatnya ledekan mengandung cemooh.

“Belanjaan loe banyak bener? Buat lo sendiri ya?” tiba-tiba seorang perempuan berwajah oriental yang berdiri di depan saya mengajak bicara. 

“Ya. Kenapa memangnya?” jawab saya santai tapi sedikit heran.

“Nggak apa-apa sih! Cuman nanya aja. Pacar lo bule ya?” lanjutnya. 

Mendengarkan pertanyaan kedua dari perempuan yang sama sekali enggak saya kenal ini, saya hanya mengernyitkan dahi dan bertanya dalam hati apa maksudnya. I prefer to ignore her. But even when I try to ignore this woman, my heart still wonders about who she is and what she wants from me. – Bule Hunter, hal. 59

“Bule Hunter” adalah “buku curhat” beberapa perempuan Indonesia yang memiliki pasangan berkewarganegaraan asing atau lebih ngetop disebut “bule”. Tidak ada yang menurut saya harus membuat marah perempuan lain yang kebetulan memiliki pengalaman sama kalau hanya membaca curhat orang lain. Bukannya perempuan senang membaca curhat perempuan lain? Hehehe…

Soal hati, semua orang sama saja. Mau “bule” atau “lokal”, soal cinta semua juga punya. Tapi bagaimana mengekspresikannya dengan lebih terbuka, mungkin itu yang menjadi daya tarik lebih. Daya tarik lebih? Well, belum tentu! Bagi saya pecinta laki-laki “lokal” alias Indonesia asli, keterbukaan laki-laki “bule” justru tidak terlalu menarik, ketika saya bisa menemukan laki-laki Indonesia berpandangan maju, terbuka, menghargai perempuan, dan mampu mencintai intelektual saya lebih daripada fisik saya!

Buat Fani sang penulis, nice book you have! Salut atas keberanian dan kegigihannya meski mendapat banyak cemooh.  Setiap penulis akan menghadapi tantangan ketika menyampaikan ide dan gagasannya dalam bentuk tulisan. Tetapi tantangan itu harus membuat kita lebih maju!

Buat para perempuan yang marah atas buku ini, terutama karena membaca judul dan ulasan media online yang penulis ulasannya saya yakin TIDAK MEMBACA seluruh buku ini, saya tidak sependapat jika buku ini dianggap meremehkan harkat perempuan. Justru dengan adanya buku ini, kita bisa mendapat informasi apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan mereka, dan kenyataan serta pengalaman pahit mereka bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Soal buku, satu saja tips saya, BACA DULU, PAHAMI ISINYA, baru KOMENTAR. Jangan biarkan hasutan negatif menghalangimu mendapatkan informasi dan memalingkan muka dari kenyataan. Ini hanya kisah dari sebagian kecil perempuan. Kecil sekali. Kecil banget! Tapi cukup membuat orang untuk bisa belajar banyak untuk tidak terperosok pada kesalahan yang sama (jika itu sebuah kesalahan) dan paham artinya mencintai karena cinta milik siapa saja, bukan hanya mereka yang memiliki warna kulit sama!

==@==

Catatan: Tulisan ini dipublikasikan di http://www.bulehunter.com dengan seijin penulis

Advertisements

Irene S Vidiadari

Irene S Vidiadari

Irene S Vidiadari

 

Buku “Bule Hunter” ini menyadarkan para pembaca (terutama perempuan) untuk bisa menghargai diri sendiri. Banyak yang gampang patah arang karena menilai pekerjaan dari nominal yang dia dapet, padahal nilai “bekerja” yang terutama adalah penghargaan terhadap diri sendiri dan terhadap hidup yang kita jalani. Ga percaya? Baca deh halaman 22 dan 272 (yang ini jadi favorit saya! Hehehe) .Selamat dan sukses mbak Fani, saya nggak sabar nunggu karya selanjutnya! – Irene S Vidiadari,  karyawan swasta di Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Barat ‘Keren’, Indonesia ‘Kuno’?

Saat pertama kali saya berkencan dengan bule, saya selalu mengelu- elukan budaya Barat. Saya selalu menganggap bahwa budaya Indonesia itu kolot, begitu juga dengan orang Indonesia. Enggak keren sama sekali.

Seiring berjalannya waktu, saya belajar bahwa enggak semua tentang ‘Barat’ itu keren, enggak semua budaya Indonesia itu kolot. Saya justru rindu dengan kearifan budaya Jawa dan kekayaan budaya Indonesia yang membuat saya merasa lebih menjadi manusia berbudaya.

Sekarang, saya hanya bisa tersenyum melihat bule hunter yang terlalu mengagung-agungkan pria- pria bule. Apalagi bagi newbie yang belum mengenal atau memahami betul siapa mereka, kebiasaan serta bagaimana budaya mereka lebih dalam.

Bagaimana pun kita, sebagai orang Indonesia, mencoba untuk bersikap seperti orang Barat, kita enggak akan pernah menjadi bagian dari mereka. Begitu pula dengan mereka. Mau bagaimana pun mereka, sebagai orang Barat, mencoba bersikap seperti orang Indonesia, mereka enggak akan pernah menjadi bagian dari orang Indonesia.

Saya sama sekali enggak membenci bule, tetapi saya juga enggak mau mengagung-agungkan mereka. Saya merasa bahwa enggak ada satu pun yang membuat satu ras lebih unggul daripada ras lain. In the end of the day, we are all human, we are all equal. Tak ada yang lebih baik atau buruk hanya karena latar belakang ras mereka.

-Oktofani-

BH’s Phuck Buddy Rules

Do you have fuck buddy? Miss Bule Hunter punya beberapa tips nih enggak sakit hati dan stay healthy!

1. GUNAKAN KONDOM! Safe sex! It is very important. It’s not about avoiding getting pregnant but preventing getting sexual transmitted dissase (STD). Enggak mau dong kita kena penyakit STD karena gaya hidup kita? Sebagai perempuan, jangan malu ke apotek untuk beli kondom karena belum tentu partner kita punya. So bring condoms everywhere you go!

2. JANGAN menjalin komunikasi yang intens, karena itu bisa membuat orang jatuh cinta.

3. JANGAN bertemu terlalu sering, dua minggu sekali cukup. Karena sama halnya dengan komunikasi cukup intens, ini bisa membuat orang jatuh cinta.

4. You MUST make it clear to your sex partner about what you want and your status, whether you are single or in relationship. Menurut saya, cara ini adalah cara yang tepat untuk menghindari tumbuhnya suatu perasaan antara kedua belah pihak.

5. RESPECT EACH OTHER business and personality. Maksud saya, saat memilih untuk punya fuck buddy, si laki-laki enggak boleh menganggap si perempuan sebagai pelacur dan si perempuan enggak boleh menganggap si laki-laki sebagai mainannya saja, because there is a fair exchange between the man and woman. Don’t you think so?

6. JANGAN terlalu romantis saat di kamar. Jangan terlalu lama berbasa-basi. No kissing, no hugging or long chit chat before or after have sex. Just bang. When you’ve done, shower then leave. Just play smart! Isn’t that what you need?

-Oktofani-

Julia Perez

“Gue suka sama bule bukan karena barang mereka gede. Gue suka sama bule karena nyali mereka lebih gede. Gue suka sama laki-laki yang punya karakter. And, I think, for Indonesian people, we need character right now. Kita terlalu ‘ramah’ untuk menjadi seorang laki-laki. Butuh GEDORAN. Sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.” Julia Perez, penyanyi dan artis.

Jessica Huwae

Bule Hunter, judul provokatif yang akan membuat siapa saja mengernyitkan kening, menebak-nebak isi buku ini.

Alasan dan latar belakang dari banyaknya perempuan Indonesia yang rajin “berburu” pasangan ekspatriat rupanya menjadi inspirasi bagi Elisabeth Oktofani untuk mengangkatnya ke dalam debut karyanya ini.  Dengan berbekal pengalaman sebagai jurnalis, Oktofani mengangkat kisah jatuh-bangun para perempuan tersebut–dengan motivasi mereka yang beragam–untuk mendapatkan pasangan bule idaman.

Tidak selalu manis memang, ada yang merasa direndahkan, merasa dimanfaatkan, merasa terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan–walau tidak sedikit juga dari perempuan pemburu yang akhirnya memiliki akhir cerita yang menyenangkan alias happy ending.”

Dengan riset dan observasi yang mendalam, Cetta berhasil meramu kumpulan cerita yang eye opening, tidak berjarak, membangkitkan simpati serta menahan kita untuk tidak segera menghakimi karena  pada akhirnya, terlepas dari apapun warna kulit, kebangsaan dan tebal kantong seseorang, yang ia ingini pada dasarnya sungguhlah sederhana: to love and be loved in return.” – Jessica Huwae, Penulis/Founder Dailysylvia.Com

==@==

Jessica Huwae adalah  penulis dan founder DailySylvia.com. Salah satu karya ciamik dari Mbak Jessica ini  adalah “Galila” yang juga sudah beredar di toko-toko buku terdekat. Sila follow @jessicahuwae di Twitter buat yang ingin kenal lebih lanjut, yah. Thanks banget ya, Mbak. Love you so much!

Disparitas Gaji Karyawan Asing dan Lokal di Indonesia

…… Dirjen PAUD Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) Lydia Freyani mengungkapkan, tenaga pendidik asing menerima upah mulai di atas Rp 50 juta hingga di atas Rp 100 juta. Sementara itu, tenaga pengajar asal Indonesia menerima upah hanya sekitar Rp 2 juta hingga Rp 15 juta per bulan…. (Sumber: Kompas )

Guru Asing di JIS Terima Gaji Hingga Rp 100 Juta per Bulan – Kompas.com